
Jam 8 malam. Reina,sudah memasuki mobil Ujang.
"Pakai mobil aja,enak bisa nyetir sebelah tangan saja. Gak kehujanan lagi, dilihat-lihat mau hujan". Ucap Ujang,ia mulai meninggalkan perkarangan rumah Reina.
"Sakit yah, bang. Apa sudah di obati" Reina, calingukan melihat perban Ujang. Namun sangat susah. "Boleh liat gak bang, perbannya keliatan banyak".
"Gao sakit kok,dek. Apa lagi kalau sama kamu" gombalnya Ujang,ia tersenyum kecil . "Nanti yah, sayang. Susah ini,abang lagi nyetir,". Alasannya Ujang.
"hemmmm...iya deh,tapi kita mau makan dimana". Tanya Reina,ia menatap lurus ke depan.
"Hemmm...ada deh,". Kekehnya Ujang. Ia juga melajukan kecepatan mobilnya.
Beberapa menit untuk. Mereka sudah sampaikan di sebuah restoran terlihat mewah.
"Bang,kenapa kita ke sini". Cegah Reina,saat di parkiran. Eehh... ngapain juga aku cegah dia,kan bang Ujang. Banyak uang, bodoh banget sih kamu Rei.
"Ikuti aku saja dek,di sini enak. Ada ruangan tertutup,jadi kamu gak malu kalau sedang menyuapi aku. Bukannya,kamu mau membantu ku makan,". Delik mata Ujang.
"Hemm..hehehe,iya bang. Ayo,". Kekehnya Reina. baguslah,kalau bang Ujang. Memilih tempat yang tepat untuk kami.
"Dek". Ujang, mencegah lengan Reina. Saat ia mau membuka pintu mobil ingin keluar.
"Iya,bang.ada apa? Ada yang sakit,". Reina, seketika langsung mendekati Ujang.
Dengan berlahan-lahan tangan Ujang, menarik tengkuk Reina.
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir Reina, kini berubah menjadi lum-atan lembut. Reina,hanya pasrah dan mengimbangi permainan Ujang.
Begitu agresif sekali Ujang, ******* bibirnya Reina. "Makasih dek,abang cuman kangen". Suara serak Ujang,saat melepas ciuman mereka.
Reina, langsung tertunduk malu-malu dan mengambil lipstik dan mengoles di bibirnya. "Hemm... Reina,juga kangen bang". Senyum manisnya Reina.
"Ayo,kita kita pergi. Abang,sudah laper". Rengeknya Ujang,ia mencium keningnya Reina. Sebelum dia turun dari mobil.
Sesampai di restoran. Ujang,juga memesan tempat VIP. Yang hanya ada mereka, tanpa pelanggan lainnya. Ada beberapa menu pesanan Reina dan Ujang.
Sebelum pesanan datang. Mereka sudah menunggu di ruangan VIP terlebih dahulu.
Saat sampai di ruangan VIP. Reina, merasakan amat sangat gugup. Apa lagi duduk di samping Ujang,yang tengah merangkul pinggang belakangnya.
"Dek,kenapa menoleh ke arah lain. Abang,di samping kamu lo," senyum merekah Ujang.
"Ahh...hemmm... Reina,hanya gugup bang". Getaran-getir tubuhnya Reina,saat Ujang mulai menggeser tempat duduknya dan semakin dekat.
"Bang,apa gak ada cctv di sini. Takutnya ada bang,gak enak kelihatan orang". Tubuh Reina,sudah bersandar di dada bidang kokoh Ujang.
"Tengang dek,di sini gak ada cctvnya". Bisik sensual Ujang. Ia menyimbah rambut panjang Reina. Terlihat jenjang putih lehernya, Reina meremas ujung bajunya.
"Kenapa diam dek". Hembusan nafasnya terasa di telinga dan lehernya Reina. Seketika tubuhnya merinding saat ini, Reina susah payah meneguk salivanya.
"hemmmm...gugup bang,jadi grogi". Alibinya Reina. Entah mengapa, saat didekati Ujang. Tak ada kepikiran untuk menghindar. Waktu dulu, dengan Zakir. Reina, selalu menghindar saat zakir mencoba mendekati dan memeluknya. Tak segan-segan Reina, membentak dan mendorong. Tapi saya dengan Ujang,entah kenapa ia menginginkan lebih.
"Bang, geli" rengeknya Reina saat Ujang, mencium lehernya." Hmmm...abang, ngapain di lehernya Reina"
Reina, meremas lengan kekarnya Ujang. Ada desiran sengatan di tubuhnya Reina,saat Ujang mencium seluruh lehernya dan membuat jejak walaupun hanya dua.
Tangannya Ujang, mengelus pipi mulusnya Reina. Wajah mereka semakin dekat,hanya tinggal beberapa inci saja. Reina, mengigit bibirnya sendiri.
Lo,kenapa abang mulai menjauhi ku, gerutu Reina, saat Ujang mulai melepaskan pelukannya.
"Hemm... iya,bang" senyum kecil Reina. Fiuuhhh....kirain apa? Tapi kenapa aku sedikit kesal yah.
Benar saja beberapa detik kemudian. Semua pesanan makanan,sudah datang. Pelayan sudah menyiapkan di meja makan Ujang dan Reina.
"Silahkan kak,di cicipi makanan kami. Semoga kakak-kakak suka dengan". Ucap salah satu pelayan tersebut.
"Makasih,banyak kak". Balas Reina,ia tersenyum manis.
Setelah pintu tertutup tentunya hanya tinggal Ujang dan Reina,saja di dalam ruangan
"Keliatannya enak,". Reina, langsung mencicipi nasi goreng spesial terlebih dahulu. Ia melupakan tugasnya dengan Ujang.
Ujang,hanya tersenyum melihat Reina. "Ma-maaf bang...!!! Aku sampai lupa lagi,sini aku suapin abang". Reina, langsung mengambil makanan Ujang.
"Makasih dek, lapar yah. Sampai lupa sama abang". Ujang, mengelus punggung Reina.
"Aaaaaaa....mamam yang banyak yah,bayi besar ku,". Kekehnya Reina.
Dengan senang hati. Reina, menyuapkan makanan ke dalam mulutnya Ujang. Sesekali ia menyuapkan untuk dirinya.
Aaahhh... enak juga santai-santai dan mengerjai Reina. Jarang kalau ada waktu berduaan seperti ini, kesempatan tak boleh di sia-siakan, batin Ujang. Ia selalu menerima suapan berkali-kali dari Reina.
30 menit kemudian. Mereka sudah selesai acara makan malam bersama.
Kini Ujang dan Reina,sudah di dalam mobil.
Ngomong-ngomong bang Ujang,habis berapa yah, batin Reina.
"Mau kemana lagi,dek. Biar langsung cusss". Tanya Ujang,ia sudah melajukan mobilnya.
"Hemmm..pulang aja deh, bang". Jawab Reina, tersenyum .
"Kita ke alun-alun dulu yah,siapa tau rame" ajak Ujang.
"Boleh deh,bang. Siapa tau ada acara" Reina, langsung setuju dengan perkataan Ujang.
Ujang, langsung membelok ke arah lain. Ia tengah bersemangat, karena masih ada waktu bersama sang kekasihnya.
Tak berselang lama. Mereka sudah sampai di alun-alun, terlihat begitu ramai karena banyak anak muda-mudi sedang jalan-jalan.
Saat hendak turun dari mobil. Tiba-tiba hujan sangat deras dan lampu juga padam sekitar alun-alun.
"Yah...hujan bang. Gak asik ahhh....". Gerutu Reina, wajahnya langsung cemberut.
"Yang sabar dek. Kapan-kapan kita ke sini lagi yah,". Ujang, menggenggam erat tangan Reina.
Riena,masih setia menatap ke arah luar. Melihat orang-orang berlarian, walaupun gelap gulita.
Ujang, menggeserkan tempat duduknya dan semakin dekat dengan Reina. dengan jahilnya, tangan Ujang. langsung menyimbah rambut Reina.
Ujang, langsung mencium seluruh lehernya Reina. sekuat mungkin menahan diri dan desa-han,ia juga mengigit bawah bibirnya.
sudah cukup bermain di daerah leher Reina. Ujang, langsung melu-mat bibirnya lagi. tangan Ujang,tak luput mengelus-elus punggung Reina.
sensasi apa ini,kenapa seperti ini.aku tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini, batin Reina. apa lagi Ujang,ia sekuat tenaga menahan rasa naf-sunya kepada Reina.
Ujang, tersenyum merekah saat memandang wajah cantiknya Reina. "dek, menikahlah dengan abang". lirih Ujang, terdengar suara seraknya.
mendengar perkataan Ujang, membuat Reina begitu syok. kenapa sang kekasih langsung tiba-tiba, berkata tentang menikah.