I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Bocah



"Nek,kita kerumah kak Reina. Tadi pagi aku liat dia punya boneka besar,nek. Aku pengen meluknya," rengek Aira,anak Yunita.


"Iya,kita kesana. Nenek, langsung mau jalan-jalan,siapa tau dapat makanan gratis,". Ucap bu Wendah, langsung menarik lengan cucunya.


Sedangkan Reina, sedang asyik duduk. Ia lagi berbalas pesan kepada Ujang.


Saat ini bu Hani,tengah melihat suaminya tengah sibuk menata ruang kios ponselnya Reina.


Reina,juga berencana jualan bahan sembako.biar ada tambahan pemasukan lainnya.


"Kamu yakin,mau buka usaha toko sembako juga. Apa gak kecapean atau kesusahan,ibu bisa aja sih membantu kamu, kecuali gak sibuk,". Ucap bu Hani.


"Iya,bu. Buat tambahan pemasukan,lagian bete juga,". Kekeh Reina."aku pikir-pikir sudah pas dan tepat kalau aku jualan bahan sembako di sini. apa lagi bapak,dukung aja,".


"Biarkanlah dia mengembangkan hobi dan usahanya, daripada bekerja di tempat jauh. Bikin kepala kita pusing,". Sahut pak Hamid.


"Iya, terserah kamu nak. Yang penting anak ibu,senang,". Senyum merekah bu Hani.


bu Hani, melihat dari kejauhan ada kedatangan tamu alias benalu.


"Rei, boneka kamu dimana? Apa sudah kamu simpan," bisik bu Hani,kepada anaknya. Ia melihat bu wendah dan cucunya sedang berjalan ke arah mereka.


"Aman,bu. Kamarnya aku kunci juga,lagian jangan di bawa masuk rumah,". Balas Reina. ngapain lagi sih,nih bocah datang ke sini segala bikin rusuh aja. untung aku sudah putusan dengan Zakir, amit-amit banget punya mertua seperti ibunya.


"Wahh... kayanya tambah besar kios kamu,nak Rei". Ucap bu wendah,yang baru sampai.Bagus dong,kalau Reina tambah sukses. kalau dia jadi mantuku, sudah pasti aku juga bakalan enak. aku pastikan Zakir,harus mengambil hatinya Reina lagi.


"Hehehe.... Alhamdulillah,bu. Rencananya mau buka kios sembako, walaupun sedikit demi sedikit,". Jawab Reina. jangan-jangan mikir aneh-aneh ni,aku jadi was-was.


"Alhamdulillah, sukses selalu buat kamu Rei. Padahal ibu bangga banget sama kamu,apa lagi jadi menantu ibu,". Senyum merekah bu wendah. semoga jadi menantu ku kamu Reina.


"Hahahha... Aduh,bu wendah. Anakku Reina,sudah ada calonnya,". Sahut bu Hani. iiiiuuhh....ogah banget kalau jadi besanan, bakalan aku ruqyah Reina.


"Ahhh...masa sih,bu. Tapikan jodoh belum tentu,". Timpal bu wendah. wah.. gak beres ini,kalau Reina punya calon. gak bakalan Zakir biarkan.


"kak Rei,pagi tadi aku lihat kalau kakak punya boneka besar warna pink.aku boleh gak minjam, pengen meluk aja,". Rengek Aira, sambil memegang tangan Reina. hehehhe... pinjam,peluk dan langsung aku bawa kabur aja.apa sih,yang gak buat aku.


"Gak ada,kamu salah liat kali,". Ketus Reina, sambil main ponselnya. nah kan, bocah sialan. sudah tau aja aku punya boneka besar, cepat juga instingnya ni bocah. pengen aku jadiin pecel lele aja, kemarin kamu lolos. tapi sekarang jangan harap.


mending curhat dulu sama babang Ujang,batin Reina.


[Bang,tau gak sama Yunita. Janda anak satu itu lo,kamu tau gak sama anaknya. Sebel banget,dia sudah ambil bonekanya abang. Yang di beli di pasar malam waktu itu, sekarang dia malah mau minjam yang gede lagi]


Reina, langsung mengirim pesan kepada Ujang.


"Kak,kata ibu jangan bohong lo. Nanti dapat dosa,". Kata Aira, dengan sedikit memonyongkan bibirnya.


"Ehh.. Reina,kamu tidak berhak membentak cucuku seperti itu,". Tegur bu wendah. sialan, belum jadi mantu. sudah berani membentak cucuku kamu Reina.


"Ehh..bu,jangan teriak-teriak sama anak saya. Lagian salah cucu ibu,yang ambil barang orang lain,". Sahut bu Hani. Jangan harap aku membiarkan anakku di bentak.


"Huuuusttt....sudah,jangan ribut-ribut. Gak baik,apa lagi kalian ini sudah tua,". Tegur pak Hamid, melerai mereka. aduuhh....tambah pusing kepalaku melihat mereka adu mulut.


Ting...


Bunyi pesan masuk di ponselnya Reina.


[Jangan di kasih dek,apa lagi ibunya. Setiap hari beli pete,mana genit lagi sama abang. Tenang saja,abang tak akan tergoda sayang] bang Ujang.


Reina, cekikikan tertawa saat membaca pesan dari Ujang. Namun rasa cemburu itu, langsung menusuk ke hatinya. Oh,dasae Janda gatel. jangan harap kamu bisa menyentuh Ujang ku, walaupun seujung rambut.


"kak, pengen Peluk boneka kakak yang besar itu,". Rengeknya Aira,ia mengeluarkan air mata buayanya. iihh...sebel,kenapa kak Reina diam aja sih,mana nih.


"Apaan sih,dasar bocah.. sok maksa,sama air mata buaya kamu tuh di hapus,". Sinis Reina. Ia masih setia dengan ponselnya. Dasar bocah,gak tau diri. gak ibunya gak anaknya sama aja,bikin darah tinggi.


"Kamu jangan pelit-pelit lah sama Aira, Rei. Siapa tau dia akan jadi keponakan kamu nantinya,apa kamu tidak kasihan cucuku menangis kesegukan seperti ini,". Kata bu wendah.


"Duh..bu wendah,bisa gak di ajarin baik-baik cucunya.kalau minjam boleh,tapi gak langsung bawa pulang juga. Banyak lo, ibu-ibu lainnya ngomel-ngomel pas tau kelakuan cucu ibu. Apa Yunita, gak pernah belikan mainan untuk anaknya,". Sindir bu Hani. mamam tuh, sindiran dariku. makanya cucu di ajarain yang baik kek.


"Bu Hani, menantu ku itu. Kerjaannya di bank,tentulah dia sering membelikan anaknya mainan,". Jawab bu Wendah, dengan kesal. menantu kesayangan ku, jangan harap ada yang menghinanya.


"Kalau sering membelikan mainan,kenapa sering mengambil mainan orang,". Sahut Reina,tanpa ba-bi-bu lagi.


"ayo,kita pulang saja. Minta ke ibumu beli yang lebih besar,". Bu wendah, langsung menarik lengan cucunya. ia tak terima dengan perkataan Reina.


"Gak,gak mau...!! Pokoknya mau boneka kak Reina,itu punya Aira," teriak Aira,ia mengamuk di tanah."itu punya Aira,nek. Punya Airaaaaa...aku gak mau pulang,huuu..huu...,". Isak tangisnya.


"Reina, keluarkan boneka yang di maksud cucuku. Pinjam sebentar saja,tidak mau. Dasar pelit,gak punya hati sama anak kecil,". Ngomel-ngomel nya bu wendah.


"Jangan harap anakku, memperlihatkan bonekanya. Nanti malah di ambil lagi,". Sahut bu Hani.


"Ayo, Aira. Kita pulang saja,minta sama ibumu yang besar dan banyak-banyak sekalian,". Bentak bu wendah.


"Gk,ibu pelit sama Aira. Ibu gak pernah belikan aku mainan,". Teriak Aira.


Tentu saja bu Hani dan Reina, cekikikan mendengar pengakuan cucunya Bu wendah. Saat ini bu wendah,menahan rasa malu.


"Aduuuhhh.... kata-kata anak kecil itu,tulus lo". Ucap bu Hani.


"Gak pernah bohong,alias kenyataan,". Sambung Reina. mereka berdua cekikikan tertawa.