
[Maaf,baru balas chatnya. Siang tadi Abang,sibuk banget. Jangan marah yah,maaf banget]
Reina, langsung membuka pesan dari Ujang. Ia berniat untuk mengerjai sang kekasih,ia tak membalas pesan dari Ujang.
"Bu,aku mau ke kafe. Ada janji sama Amel" Reina, meminta ijin kepada ibunya.
"Hemm...jangan malam-malam yah," sang ibu langsung mengijinkan anaknya pergi.
[Dek, kamu marah sama abang. Jangan marah dek,balas pesan abang. Apa perlu abang, langsung kerumahnya adek]
[Kenapa hanya di baca?balas sayang]
Beberapa pesan masuk,namun tidak ada balasan dari Reina.
Sedangkan Reina,sudah sampai di kafe. Ia sudah di tunggu temannya Amel.
"Tumben,kamu ngajak-ngajak ke sini". Ucap Reina, kepada Amel.
"Ciyeehh,kepo yah. Besok temanin aku yah,bantuin fitting baju pengantin". Pintanya Amel. "Plisss.... bantuin aku,karena pilihan kamu itu.beehhh...bagus".
"Kenapa harus aku Mel? Yang menikah kamu,bukan aku". Jawab Reina.
"Bantuin yah,temanin yah". Rengeknya Amel.
"Hemm...apa sih,yang gak buat kamu. Jemput yah". Kedip mata Reina.
Sedangkan Ujang,ia langsung mengambil kunci motornya. Pikirannya tengah kacau,karena sang kekasih ngambek. Berniat ia langsung, menyusul ke rumah Reina. Tak peduli jika orangtuanya tau, tentang hubungan mereka.
Sesampai di rumah Reina. Ia bertanya kepada bu Hani,namun hasilnya nihil. Karena Reina,tidak ada. Saat bu Hani, memberitahu jika Reina pamit ke kafe.
Ujang, langsung bergegas menuju kafe. Sesampai di sana,ia berniat menghampiri Reina. Tiba-tiba saja,ia melihat seorang pria tengah merangkul pundak Reina. Tentunya Ujang, mengurungkan niatnya untuk menghampiri sang kekasih. Apa lagi Reina, tengah bergurau lepas. Ada sorotan mata amarah di diri Ujang,namun ia menahan emosinya.
Plakkk.
Seseorang menepuk pundak Ujang. "Ngapain duduk di motor,yuk... nongrong di sana". Ajak teman-temannya Ujang.
Ujang, langsung mengangguk pelan. Saat duduk,ia masih menatap ke arah Reina.
"Pesanin minuman seperti biasa" ucap Ujang, terdengar tegas.
"Kenapa Jang, lagi kesal sama seseorang". Tanya temannya.
"Hemm.. lagi cemburu" ketusnya Ujang.
Mendengar perkataannya. Teman-temannya langsung tertawa lepas, sampai-sampai Reina, Amel dan Dewa. Langsung menoleh ke arah sumber suara, tersebut.
Reina, langsung salah tingkah. Saat Ujang, menatap tajam ke arahnya.
Glekkk.
Reina,merasa amat takut dengan tatapan Ujang. Seperti ingin menelan dirinya hidup-hidup saja. Jangan-jangan bang Ujang,marah karena aku gak balas pesannya,batin Reina. Ia tersenyum manis saat memandang wajah Ujang, mereka saling pandang.
"Rei,aku pulang dulu yah. Tapi anterin aku, motornya di bawa adikku". Rengeknya Amel.
"Iya,aku bayar dulu. Kamu tunggu di sini".
"Ehh,gak usah Rei. Biar aku aja,bayar semua tagihan ini". Cegah Dewa,ia mencekal lengan Reina.
Semakin memanaslah hati Ujang, melihat lengan kekasihnya di sentuh.
"Hemm... mumpung baru gajihan,bentar aku bayar dulu. Jangan kemana-mana". Dewa, langsung berdiri dan pergi menuju kasir.
"Kayanya Dewa,suka sama kamu Rei. Keliatan gerak-geriknya,gak biasanya dia traktir kita kek gini". Bisik Amel.
"Hussssttttt, janganlah. Aku sudah pacaran sama Ujang,aku yakin dia sedang marah banget sama aku. Di pasti liat Dewa,mencekal lengan aku tadi". Balas Reina,l.
Selesai membayar makanan tadi. Dewa, langsung balik ke meja mereka tadi. "Aku aja deh, anterin Amel. Kasian jauh-jauh nganterin kamu Mel,apa lagi Reina perempuan".
"Eiitss...gak bisa, Amel sudah mau menikah lo. Kamu ngapain mau anter dia". Cegah Reina.
"Oh, selamat yah. Hemm ..ya sudah,aku ikut anterin kalian aja gimana? Takutnya kamu kenapa-kenapa Rei". Kedip mata Dewa.
Reina,hanya tersenyum dan salah tingkah. "Gak usah Wa,kami bisa aja kok. Aku malah sering,anter Amel. Nanti ada yang salah paham lagi,gak enak sama pacar aku". Tolak Reina,ia menyadari bahwa Ujang sudah marah kepadanya.
"Pacar? Kamu sudah memiliki pacar, Rei? Siapa orangnya, bukannya kamu jomblo". Tanya Dewa,ia nampak tak percaya.
"Aku baru aja pacaran,dahh Wa..." Pamit Reina.
"Dah...juga Dewa,ciyeehhh...telat ya.." ledek Amel,namun segera di tarik tangannya oleh Reina.
Dewa, masih mematung melihat kepergian Reina dan Amel. "huuuuff,aku telat rupanya. tapi siapa kekasihnya Reina,kenapa juga gak kemarin-kemarin". gerutu Dewa,ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Melihat sang kekasih pergi. Ujang,juga harus meninggalkan teman-temannya dan beranjak pergi juga. "Bayarin". Ucap Ujang, kepada temannya.
Teman-temannya melongo melihat sifat Ujang, tiba-tiba berubah.
Di perjalanan Reina dan Amel, mereka saling berbincang hangat. Ada kalanya mereka cekikikan tertawa lepas.
Setelah selesai mengantar Amel. Reina, langsung memalingkan motornya dan menuju pulang kerumah.
Saat di perjalanan. Ujang, langsung mencegah motornya Reina. Jalan terlihat sepi hanya ada pantulan cahaya sedikit.
"bang Ujang". Lirihnya Reina, ia mematikan mesin motornya.
"Hemmm...stop dulu dek. Abang,mau bicara sama kamu". Terdengar suara tegas yang keluar dari mulutnya Ujang.
Glekkk...
Duhh... kayanya bang Ujang,marah ini. "Iy-iya bang,".
"Kenapa dek? Kenapa gak balas pesan abang? Abang,sibuk dengan pekerjaan. Tolong dek,pahami abang. Bukannya pergi dan nongrong bersama pria lain,abang cemburu. Apa lagi dia menyentuh lengannya adek,aku tidak suka. Jika milik abang,di sentuh-sentuh orang lain". Ucap Ujang,ia terlihat sangat marah. Sorotan matanya, menandakan dia sangat cemburu.
"bang, jangan marah dong". seharusnya aku yang marah bang,bukan kamu,decak Reina. "bang,tadi aku janjian sama Amel,gak tau juga teman aku Dewa.tiba-tiba datang sayang,plisss.... jangan marah dong,aku tadi gak bales pesan abang. karena mau ngerjain aja,bang". senyum kecil Reina,ia sambil memusut lengan Ujang.
"Huuuufff....ya sudah, kita pulang dulu. sudah malem nih". terlihat raut wajah Ujang, terlihat kesal. "Ayo,pulang. ini sudah jam berapa,".
"iya,bang. kita pulang,jangan marah yah. maafin Reina,sumpah gak ada janjian aku sama pria lain". rengeknya Reina,ia memandang wajah tampan kekasihnya.
"Ayo, pulang sayang. aku gak marah,cuman kesal aja. karena dia berani menyetuh miliku".
Cupp....
satu kecupan mendarat di pipi Ujang."sudah yah, jangan marah-marah lagi, nanti cepat tua lo". kekehnya Reina. ia sebenarnya sangat malu,entah dapat keberanian darimana.hingga dia benar-benar mencium Ujang, walaupun di pipi. jujur saja dia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam lautan.
Ada senyuman manis di bibir Ujang,ia mendapatkan sebuah ciuman walaupun hanya kecupan. "bisa aja,buat meredakan emosi aku". Ujang,menghelus pipinya Reina.
kini Reina dan Ujang, pulang ke rumah masing-masing.