I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Pete



"Waduhhh...kenapa cucunya nangus kejer begitu bu? Apa ada masalah,". Ucap tetangga bu wendah


"Itu,tuh. Anaknya bu Hani,sudah besar juga. Gak mau minjamin boneka buat cucuku,". Sengit bu wendah,ia masih kesal kepada Reina.


"Walahhh...wajar aja,mana mau minjamin boneka buat cucu situ. Awalnya minjam lama-lama jadi milik sendiri,diambil malah ngamuk,". Sinis tetangga bu wendah.


Suara motor metik milik Yunita,ia baru datang dari kerja.


"Lo,bu. Kenapa anakku nangis begini,". Yunita, langsung tergesa-gesa menghampiri anaknya. Yang sedang meraung-raung menangis di teras rumah .


"Bu,boneka besar". Rengeknya Aira,ia kesegukan menangis.


"Boneka apa bu? Aku gak paham,". Tanya Yunita.


"Itu, bonekanya Reina. Dia gak mau minjamin boneka buat Aira,". Jawab sang mertua. "memang kurang ajar, Reina. Benar-benar pelit gak punya akhlak yang baik,".


"Sudah, jangan nangis-nangis segala. Ibu, capek baru balik kerja. Kalau gak diam,ibu pukul kamu,". Mata Yunita, melotot ke arah anaknya.


Aira, langsung meringsut ketakutan. Ia segera berhenti menangis.


"Yunita, bagaimana dengan kedekatan kamu dengan Ujang. Ibu, dengar-dengar nih. Ia memiliki beberapa ladang sawah dan beberapa hektar lahan sawit. Bukan hanya sekedar memiliki kebun pete dan peternakan sapi saja. Ujang,orang terkaya di kampung ini. Kamu harus bisa meluluhkan hatinya,jadi hidup kita bakalan enak. Kamu juga gak capek-capek kerja,kamu suruh tuh si Aira. Kalau ketemu Ujang, panggil bapak,biar dia tersentuh hatinya,". Ucap bu Wendah, kepada menantunya.


"Ini lagi usaha bu.lagian Ujang, sangat susah di dekati. Apa lagi sekarang,aku liat gerak-gerik Reina. Dia juga suka dengan Ujang,apa lagi sama Sisil itu. Banyak saingannya bu,". Keluh Yunita.


"Alahh...yang lain bakalan kalah sama kamu. Tapi masalahnya di Reina, nanti ibu bujuk Zakir. Terus Zakir, dekatin Reina. Atau kita hasut-hasut biar di benci Ujang,si Reina". Senyum semerik bu wendah.


Yunita, tersenyum puas mendengar perkataan sang mertuanya. Ia lebih semangat lagi untuk mendekati Ujang.


*****


"Bang,bang". Teriak Reina,dari luar.


"Nak Ujang nya ada,masuk aja ke dalam rumah Reina. Mungkin gak kedengaran teriakkan kamu,pasti mau beli pete yah.pesanan bapakmu,". Tanya tetangga Ujang.


"Hemmm...iya,bu. Mau ambil pesanan,tapi gak enak masuk". Bantah Reina, padahal dalam hatinya ingin sekali masuk ke dalam.


"Masuk aja, Rei. Daripada kamu teriak-teriak,gak jelas begitu. Bikin sakit tenggorokan saja,". Kekeh tetangganya Ujang.


"Hemm...iya bu,saya masuk dulu". Ijin Reina,ia langsung masuk ke dalam rumah. Dengan calingukan mencari sesosok Ujang, sampai akhirnya. Ia menuju ke dapur,ingin ke halaman belakang.


Benar saja saat di halaman belakang rumahnya Ujang. Terlihat sang pujaan hati,tengah mengikat Pete-pete. Mungkin ini semua pesanan buat calon mertua alias ayahnya Reina.


"Bang". Reina, memanggil namanya.


Tentunya Ujang, langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Ehhh,dek Reina. Lama nunggunya yah,jadi sampai masuk ke dalam,". Tanya Ujang, langsung menghampiri sang kekasih. Terlihat sepi di belakang rumahnya,hanya mereka berdua.


Membuat Reina,canggung berduaan. "Lama banget bang,sampai kering tenggorokan aku manggil Abang. Terus tetangga abang,yang nyuruh masuk. Untung aku niatnya baik,gak niat ngerampok barang-barang abang,". Senyum merekah Reina,ia sedikit bercanda.


"Lo,memang adek sudah jadi perampok kok. Perampok hati abang," kekehnya Ujang.


Reina,hanya tersenyum malu-malu. "Iiisss...abang,bisa aja gombal,". Ia mencolek lengan Ujang, terlihat kekar. Ada keringat bercucuran di kening Ujang.


Ujang, mendekati Reina. "Dek,abang kangen". Tiba-tiba saja Ujang, langsung memeluk tubuh Reina.


Sang empunya melotot saat mendapatkan pelukkan hangat dari kekasih barunya ini,karena kesempatan emas. Reina,juga membalas pelukan Ujang. "Bang, jangan begini. Nanti diliat orang-orang,jadi gak enak. Nanti dikira mereka kita macam-macam lagi,". Reina, mencoba mendorong dada bidang kekar Ujang. Membuat pelukkan mereka merenggang.


"Adek,gak kangen sama abang,". Ujang,mulai mengelus rambut Reina.


"duduk dulu dek,abang mau ikat pete-pete ini dulu. Kalau gak di ikat,nanti calon pak mertua marah," Ujang, langsung mengerjakan tugas yang sempat tertunda. Reina,hanya mengangguk pelan.


Reina dan Ujang, mendengar desas-desus bahwa ada orang yang akan datang.


Benar saja terlihat bu Wina dan Yunita, mereka baru datang dan menuju ke halaman belakang.


"Ehh..bu Wina,mau pete juga,". Ucap Reina,kepada tetangganya Ujang.


"Gak Rei,ini mau nemenin Yunita. Janda satu ini,mau nyelonong masuk ke dalam rumah Ujang. Untung saya liat,terus nemenin dia cari Ujang. Tau-taunya ada nak Reina,lagi nunggu pesanan yah,". Ucap bu Wina.


"Apa-apaan sih,bu. Main tuduh aja,aku mau beli pete. Bukan buat *****,". Bantah Yunita,ia begitu geram dengan suasana saat ini.


"Diam kamu,dasar janda gatel. Aku pamit dulu yah, Rei. Jaga ni janda,". Pamit bu Wina,kepada Reina.


"Ahhh..iya bu, silahkan". Ujar Reina. Kini mereka saling pandang nampak tak suka antara Reina dan Yunita.


"Mas,beli petenya seperti biasa,". Ucap Yunita, dengan kata-kata manjanya.


Reina, hanya mendengus dingin. Karena sang kekasih paham, Ujang langsung memberikan Pete yang sudah di petiknya.


"Ini,sudah aku sediakan. Makasih," ucap Ujang. Yunita, langsung pulang membawa Pete. Ia juga menghentakkan kakinya.


Reina,hanya cekikikan tertawa.


"Sial,gagap berduaan dengan mas Ujang,". Gerutu Yunita,ia keluar dari rumah Ujang.


Tinggal lah Ujang dan Reina.


"Ahhhh... akhirnya selesai,". Ujang, langsung duduk di samping Reina. Duduk di bangku kayu panjang.


"Adem,banget di sini bang. Jadi betah gitu,". Ucap Reina.


"Jangan lama-lama di sini dek, takutnya ada hantu". Kekeh Ujang. Ia mendekati Reina dan merangkul bahunya.


"Dek,". Ujang, memanggil Reina.


"Apa bang,". Jawab Reina, begitu gugup. Saat ini wajah Ujang, begitu dekat kepadanya.


"Abang,kangen. Pengen berduaan". Bisik sensual Ujang,di telinga Reina. Rambut panjang Reina,di Simbah ke arah belakang. Terlihat lah putih jenjang lehernya.


Ujang, menempelkan keningnya dengan kening Reina. Hembusan nafasnya terasa di wajah Reina,apa lagi tangan Ujang menahan tengkuk leher milik Reina.


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Reina. Namun sang empunya hanya diam,tidak ada penolakan.


Bahkan Reina,juga meminta lebih tidak sekedar kecupan.


Ujang, memberanikan diri menempelkan bibirnya dan berubah menjadi lum-atan lembut. Reina, sedikit membuka mulutnya. Agar Ujang, leluasa menguasai seluruh mulut Reina.


Tangannya melingkar di leher Ujang, mereka saling bertukar saliva dan menikmati kemesraan mereka berdua. Ciuman mereka semakin panas,tangan Ujang sambil mengelus-elus punggung Reina.


Cukup lama mereka berciuman mesra dan Ujang, menghentikan aksinya. Ada senyuman manis di bibir Reina.


Ujang, langsung menyentuh bibirnya Reina. "Ingat,ini milik abang".


Reina,hanya tersipu malu-malu. Ia meremas ujung bajunya.