
"ngapa kamu ke sini ha? Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi,". Geram Reina, tengah berbisik.
Ia mencoba mengusir Zakir, tiba-tiba datang kerumahnya.
"Aku kangen kamu sayang. Aku gak mau kita putus, sedangkan aku saja tak terima saat memutusiku. Jadi kita masih berpacaran," senyum semerik Zakir.
Saat ini mereka berdebat di kiosnya Reina,tepat di depan rumahnya.
Tetangganya juga melihat aksi mereka berdua saling membentak satu sama lain.
Tal berselang lama. Pak Hamid,datang bersama Ujang.
Terlihat mereka habis sholat Jum'at di mesjid.
"Ada apa ini? Kenapa kamu membentak dia nak,". Tegur sang ayah dan mendekati Reina dan Zakir.
"Dia pak,dia gak mau pergi,". Jawab Reina,ia tengah emosi.
"Saya kekasihnya Reina,pak,". Sahut Zakir.
"Ehh ..jaga mulut lo,yah. Kita sudah putus dan tidak ada memiliki hubungan apa-apa lagi,". Bentak Reina. Ia menatap tajam ke arah Zakir.
"Sudah,sudah. Jangan emosi dulu nak, bicarakan baik-baik,". Tegur pak Hamid, kepada anaknya Reina.
Ujang,masih setia melihat berdebatan mereka.
"gak ada secara baik-baik pak,aku benar-benar muak dengan pria seperti dia. Tukang selingkuh, matre lagi,". Sinis Reina.
Zakir, langsung panas dingin. Mendengar perkataan Reina. "Rei,plis... dulu aku hilaf,aku minta maaf. Aku janji tidak akan pernah seperti itu lagi. Aku ke sini mau melamarmu malahan,". Bujuk Zakir, kepada Reina.
"Ck,jangan harap Zakir. Aku gak sudi memiliki pria macam kau,". Sengit Reina. "Lagi pula aku memiliki kekasih,". Senyum semerik Reina.
"jangan bohong kamu Rei,". Zakir, mencoba menyentuh tangan Reina. Secepatnya ia tepis.
"Jangan pegang-pegang anak saya,". Geram pak Hamid. "Pulanglah kamu, anakku tidak memiliki rasa dengan mu nak. Bapak,juga lihat bagaimana sikap mu ini,". Sorotan mata pak Hamid, membuat zakir membisu.
"Pulanglah Zakir,aku sudah muak denganmu,". Bentak Reina.
"Ck,apa dia kekasihmu Rei. Gayanya kaya orang miskin,". Ledek Zakir, sambil menunjuk ke arah Ujang.
Ujang,hanya tersenyum kecil saat melihat wajah Zakir.
"Jangan bicara macam-macam kamu Zakir,dia,dia...,".
"Dia kekasihmu,hahahaha... sangat cocok orang kampung kaya kamu memang jodohnya orang kampung kaya dia,". Senyum semerik Zakir,ja mengejek Reina.
"Pergiiiiii....dasar mulut tak ada sopan santunnya,". Teriak pak Hamid.
Zakir, langsung menancapkan gas motornya meninggalkan kios Reina.
Deggg....
Setelah kepergian Zakir. Pak Hamid, menatap tajam ke anaknya.
"Itu kekasihmu saat di kota Reina,sudah bapak duga. Sangat jelas penampilan sok-sokan orang kota,tapi dalamnya sangat buruk. Apa dia yang sering meminta uang dengan mu," kata pak Hamid.
"Iya,pak.makanya aku mengakhiri hubungan kami dan uang yang di mintanya sudah kembali,". Jawan Reina.
"Karena uang yang dia minta kamu ambil lagi, makanya dia tak ikhlas kehilangan mu. Ia ingin memeras mu lagi,". Ucap pak Hamid.
Reina,hanya diam tak menjawab perkataan sang ayahnya.
"Ayo,nak Ujang. Kita kerumah saja membahas hal tadi,". Kata pak Hamid,ia meninggal anaknya di kios. Ujang, langsung menggiringi dari belakang pak Hamid.
Ujang,hanya sekilas menatap ke arah Reina.
Begitu juga Reina,tak ada senyum sedikit pun.
Malam semakin larut.
Reina,tak dapat tidur. Saat menuju ke dapur,ia mendengar perkataan kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah, ternyata nak Ujang. Sudah memiliki kekasih,apa bapak tau siapa,". Tanya bi Hani,kepada suaminya.
"Tidak tau,bu. Padahal bapak, menjodohkan dia dengan anak kita Reina. Tapi kalah cepat jadinya,". Jawab pak Hamid,ada rasa kecewa di raut wajahnya. "tapi tenang saja, bapak memiliki pilihan pria lainnya,".
Jadi, bang Ujang. Sudah memiliki kekasih,batin Reina. Hatinya sangat pilu,ada yang menusuk di hatinya.
Niat ingin ke dapur. Reina,malah masuk ke dalam kamar lagi.
Air matanya mengalir deras di kedua pipinya.
Sakit,rasa sakit yang ia rasakan di dada.
******
"Nak,tolong antar yah. Biasa buat nak Ujang,dia sudah memberikan ibu jengkol. Jadi ibu masak semur jengkol,". Pinta bu Hani.
Dengan hati dongkol. Reina, langsung mengangguk kepalanya. Sebenarnya dirinya sangat malas, bertemu Ujang.
Kenapa sih? Suka banget ngasih yang gak-gak. Ibu juga,suka banget berbagi dengan Ujang, gerutu Reina. Ia langsung membawa kresek yang berisi wadah tertutup.
Sesampai di depan rumah Ujang. Terlihat seorang ibu-ibu, baru saja keluar ke dalam rumah Ujang.
"Nak Reina,masuk aja. Ujangnya lagi di belakang tuh. Lewat depan rumah aja,". Ucap ibu-ibu itu. Reina, langsung mengangguk pelan.
Saat masuk ke dalam rumah. Reina, calingukan melihat sekeliling ruangan rumah Ujang,yang bertingkat dua ini.
Ia langsung menuju ke arah belakang rumah. Dulu, waktu kecil. Reina,juga sering ke rumah pak Rokim. Saat menuju dapur, ternyata Ujang sudah naik. Ia terlihat membasuh kedua tangannya.
"Bang,ini semur jengkol,". Reina, meletakkan kresek ke meja makan. Lain kali gak usah ngasih apa-apa,bikin susah aja antar ke sini, gerutu Reina dalam hati. "Jangan lupa, mangkoknya di balikin sekarang. Itu mangkok kesayangan ibu,". Ketusnya.
Ujang, langsung mengambil mangkok miliknya untuk menyalin semur jengkol yang di bawa Reina.
"Bang,gak usah di cuci,". Saat mengambil mangkok di tangan Ujang,namun lengannya di tepis Ujang.
"Tak perlu, terimakasih semurnya," ucap Ujang, begitu dingin.
Reina, mendekati Ujang. saat mencuci mangkok di tangannya. "bang,kenapa abang berubah? apa Reina,ada salah,".
"tidak ada,". jawabnya begitu singkat. selesai mencuci mangkok. Ujang, langsung melap mangkok itu sampai kering.
"kenapa Abang, tiba-tiba dingin denganku.apa karena menjaga perasaan kekasih abang,". Reina, mencekal lengan kekar Ujang.
"kekasih? bukankah kamu sudah memiliki seorang kekasih ha," delik mata tajam Ujang.
"maksud Abang apa? aku tidak memiliki seorang kekasih pun,". bantah Reina.
"Oh,tidak memiliki katamu!!! aku melihat sendiri kalau kamu berciuman dengan Ganta,saat pulang dari pasar malam,".
Deggg..
jadi bang Ujang, melihat kejadian waktu itu,batin Reina. "dia memaksa aku bang,aku menolaknya. abang,salah paham,".
Ujang, langsung menepis cengkalan lengan Reina. "pulang lah Rei,jangan sampai orang salah paham tentang kita. Abang, sangat kecewa denganmu. tenang saja abang,tidak akan ceritakan tentang kejadian itu dengan siapapun,".
"bang,itu semua salah paham. aku di paksa,aku juga kaget dan syok.kenapa kak Ganta, tiba-tiba mencium ku,". jelas Reina. bola matanya sudah berkaca-kaca.
namun Ujang, menatap ke arah lain.
"baiklah bang, Reina pulang. maaf,selama ini aku menganggu abang," lirih Reina,ia meninggal Ujang. yang masih mematung dekat meja makan. dengan perasaan hancur,apa yang di pikiran Reina, memang benar. jika Ujang,sudah menganggap dirinya begitu rendahan