
Selesai menemani Amel, fitting baju pengantin. Akhirnya mereka melepaskan lelah,di sebuah Mall.
Beberapa paper bag di tangannya Reina dan Amel, mereka habis berbelanja.
Kini mereka santai di salah satu, tempat tongkrongan di Mall.
"Dewaaa...!! Siniii..." Panggil Amel,tanpa ba-bi-bu dulu.
Aduhh... kenapa pula Amel,manggil Dewa? Kalau ketahuan bang Ujang, bisa berabe masalahnya,batin Reina. Ia tersenyum manis,saat Dewa menghampiri tempat mereka.
"Tumben kita ketemuan di sini". Ujar Dewa,ia langsung duduk di sebelah Reina.
"Cuman kebetulan mungkin? Lah,kamu ngapain sendirian". Tanya Reina.
"Jalan-jalan doank,siapa tau dapat cewek" kekehnya Dewa.
"Mau pesan apa Wa, kami baru aja kok". Kata Amel,ia memberikan beberapa menu.
"Gak,aku sudah minum dan makan". Tolak Dewa. "Baru aja tadi,di lantai dua".
"Masa? Pesan lagi,gih. Biar rame-rame". Pinta Reina.
"makasih, sudah nawarin. Tapi aku buru-buru,mau ke butik ibuku.ada hal penting,aku pamit dulu. Jangan lupa undangannya Mel". Kedip mata sebelah Dewa.
"Hemmm...pasti,aku anter sampai rumah". Jawab Amel.
"Dahh,lain kali yah". Dewa, langsung berdiri dan meninggalkan Reina dan Amel.
"Gimana perasaan kamu sama Dewa? Apa masih ada ser ser perasaan". Tanya Amel,kepada Reina.
Dewa, adalah ketua osis. Reina, sempat menaruh hati kepada Dewa. Namun perasaannya pupus,saat sang pujaan memiliki kekasih. "Gak,ada Mel. Tiba-tiba hilang gitu".
"Ciyeehh... sudah bucin sama Ujang nih". Ledek Amel,ia menyenggol lengan Reina.
"Pasti dong, Mel". Kekehnya Reina. "Setelah ini kemana lagi?apa langsung pulang aja".
"Hemmm... terserah kamu aja". Jawab Amel. mereka langsung menyatap makanan di atas meja. beberapa menu yang mereka pesan.
******
Sore harinya. Reina,di suruh pergi ke rumah pak Rokim. seperti biasanya, mengambil pete.
sebenarnya dia enggan untuk pergi kesana,ia merasa malu kalau ketemu calon mertua kalau jodoh.
kenapa gak bapak aja,sih. akukan malu kalau ada bapaknya bang Ujang, gerutu Reina. ia langsung menancapkan gas motornya
Sesampai di rumah pak Rokim, terlihat beliau tengah Santai di depan rumah.
"Nak Reina,mau ambil pete yah. Aduhh...nak Ujang,masih metik tu di belakang. Susul gih,biar cepat". Suruh pak Rokim,yang tengah berbincang dengan suaminya bu Wina.
"Gak papa,nih. Kalau masuk pak, takutnya gak enak". Kekehnya Reina. Duhh.... jadi grogi akunya.
"Masuk aja,gak papa. Kamu ini,gak usah malu-malu". Jawab pak Rokim. Sebentar lagi akan jadi menantu ku,to.
Dengan senang hati. Reina, langsung masuk ke dalam dan pergi ke belakang rumah. huuuuff,tenag Reina.
Benar saja, Ujang tengah mengumpulkan Pete yang dia petik tadi
"masih lama bang". Tanya Reina,ia berdiri di samping Ujang.
"Gak dek,tinggal di ikat aja lagi. Silahkan duduk dulu, nanti capek kalau berdiri". Kata Ujang, menuntut Reina untuk duduk.
"Jangan lama-lama yah,bang. Gak enak sama, bapaknya abang. Ada di luar tu,biasa ngobrol sama suaminya bu Wina". Rengeknya Reina
Reina,masih setia menunggu sang kekasih bekerja. ia menatap intens apa yang di lakukan oleh Ujang,ada senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Belum selesai Jang,". Tiba-tiba suara pak Rokim,di belakang mereka.
Reina, ripleks terkejut. Karena pak Rokim, tiba-tiba datang,untung saja mereka tidak melakukan apa-apa.biasanya Ujang, langsung nyosor duluan.
Sial,kenapa bapak malah kesini. Gak bisa sayang-sayangan sama peluk-peluk ini mah, gerutu Ujang. Terlihat kesal karena kedatangan ayahnya.
"Gak papa,masih setia kok menunggu". Reina, hanya cengengesan. Sebenarnya gugup kedatangan pak Rokim.
"Yang sabar yah,nak. Ujang, cekatan kok. Lihatlah dia mau selesai, bapak masuk dulu. Mau mandi,". Pamit pak Rokim, dengan cepat di angguk Reina. Dasar, bucin-bucin akut.
Huuu... untung bapak paham,gumam Ujang. Ia melihat kepergian ayahnya, baguslah kalau paham sama anak sendiri.
"selesai fitting baju pengantin,terus kemana lagi". Tanya Ujang,ia masih sibuk.
"Keliling mall,bang. Nongrong dulu, sih. Sama Amel, makan-makanlah". Jawab Reina.
"Hanya berdua,dek". tanyanya lagi.
"Hemm...tapi gak lama, ketemu Dew...". Astaga,aku keceplosan,duhh...mulut.
Ujang, langsung menatap tajam ke Reina."Sama siapa dek?jangan bohong, jangan sampai aku tau sendiri".
Duhh...bang Ujang,mulai posesif ini. "Hemm,sama teman bang. Namanya Dewa, kebetulan doang bang. Gak ada janji-janji sama sekali".
Reina,sudah merasakan sangat gugup. Tangannya juga menahan dada bidang Ujang. "Pria malam tadi". Secepatnya Reina, mengangguk kepala. "Apa dia menyentuh mu". Sorotan mata penuh cemburuan. Dengan cepat juga, Reina menggeleng kepala.
"Bang, jangan terlalu dekat. Nanti bapakmu lihat lo, gak enak". Rengeknya Reina,ia mencoba mendorong tubuh Ujang.
"Ingat dek,kamu milikku. Tak ada yang boleh menyentuh mu, walaupun seujung kuku". Tegas Ujang. Ia memeluk erat tubuh Reina.
"Iya,abangku sayang. I love you Ujang". Senyum merekah di bibir Reina.
"I love you too Reina". Kini bibirnya sudah mendarat di bibir Reina. Kecupan hangat berubah lum-atan lembut.
Tubuh Reina, merinding. Saat tangan Ujang, menyusup disela bajunya. Terasa jari-jari besar menyentuh kulit sambil mengelus lembut di belakang dan perutnya. Reina, menikmati sentuhan Ujang, walaupun ada rasa-rasa geli.
Ujang,tak berani bersaksi terlalu jauh. Ciuman itu, turun ke lehernya Reina.
Reina, mengigit bibir bawahnya agar tak keluar suara desisnya.ia juga mendongak ke atas,agar sang kekasih leluasa menciumi lehernya.
Ujang, mencium seluruh lehernya dan meninggalkan beberapa jejak.
Ujang, menatap lekat ke wajah Reina. Sedangkan empunya tersenyum kecil dan malu-malu.
Mereka melonggarkan pelukannya, walaupun hanya kesempatan kecil untuk bermesraan.
"Dek,besok abang ke kampung sebelah. mau antar sapi-sapi pesanan orang, mungkin beberapa hari, baru pulang. Ingat,jangan macam-macam di belakang ku". Ancam Ujang.
Reina, langsung bergidik ngeri dengan ancaman sang kekasih. Apa lagi sorot matanya menyeringai tajam.
"Hemmm...aku gak macam-macam bang. Reina,cuman satu gak bermacam-macam". Kekehnya.
"Abang, serius dek. Kalau gak berkepentingan,aku juga gak akan pergi. Ingat pesan abang,jangan main-main di belakang ku". Delik mata Ujang.
"Iya,aku gak main-main bang. Gak bohong akunya, serius. Cepatlah angkat petenya, kelamaan nih. Nanti bapakku,malah nanya-nanya aneh-aneh". Gerutu Reina.
"Hemm...sabar sayang". Ujang, langsung mengangkat semua Pete yang sudah di simpan dalam karung.
Begitu indah ciptaan Tuhan. Reina, langsung terpesona dengan tubuh sang kekasih begitu kekar. Huuuu...jadi gatal nih,tangan. Pengen ngeraba-raba sixpack bang Ujang, batin Reina