I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Urat Malu Putus



Ujang, meremes benda pipih di tangannya. Seseorang telah mengirimkan foto Reina,di kafe dan bersama pria lain.


Ia hanya menghela nafasnya dengan berat.tak mungkin ia harus posesif terhadap Reina, melarang ini itu.


Ujang,hanya berpikir positif. Mungkin mereka bertemu dengan cara tak sengaja,bisa saja Reina menjelaskan semuanya dan memberitahu dengan siapa di kafe tersebut.


Sudah sore hari. Reina,tak kunjung juga menghubungi dirinya.


Apa sudah pulang atau masih di jalan, pikirannya kemana-mana saat seseorang mengirim foto Reina bersama pria lain.


Ting....


Pesan masuk dari Reina.


[Maaf,baru balas bang. Soalnya kecapean tadi,habis pulang. Bersih-bersih dulu,ehhh... malah ketiduran sampai lupa kabarin Abang]


[Gak papa dek, pasti kamu capek. Abang,mau sibuk dulu. Biasa metik pete,buat pesanan orang-orang termasuk calon pak mertua. Jangan lupa,di ambil nanti]


Ujang, langsung mengirim pesan kepada Reina.


[Oke deh,bang. Satu jam lagi,aku ke sana]


Dengan emoticon love,ada senyuman kecil di sudut bibirnya Ujang.


Setengah jam kemudian. Keringat bercucuran membasahi wajahnya Ujang,ia habis memetik pete.


"Mas,beli pete". Ucap seseorang di belakangnya,siapa lagi kalau bukan Yunita.


"Hemmmmm,". Ujang,hanya berdehem. Hanya beberapa Pete,sudah ia siapkan untuk Yunita.


Terlihat jelas di wajah Ujang, nampak kesal kepada Yunita. Jika Reina,ia malah sangat bahagia.


Yunita, menggunakan dress selutut dan terlihat belahan dada nya. Bagi pria lain, tentu saja melihat pepaya bergelantungan di dada Yunita. Mungkin tergiur dan tergoda, tapi bagu Ujang sama sekali tak bernafsu.


"Jangan dekat-dekat Yunita,pulanglah". Usir Ujang,ia masih sibuk dengan petenya.


"Mas shhh,apa kamu tidak tergoda dengan ku". Desis Yunita,ia meremas satu gun-dukan nya. "sentuh aku mas".


Terlihat Yunita, seperti wanita haus belaian.


"Ck, wanita murahan kamu. Pergiii sana, dasar wanita gatal". Decak Ujang,ia tersenyum kecil.


Yunita, habis sabar ia melucuti dressnya dan terpampang dua gun-dukan miliknya. Terlihat sangat menggoda apa lagi masih kencang. Yunita, menggigit jarinya dan meremas gun-dukan miliknya sendiri.


Ujang, bergidik geli melihat tingkah laku Yunita. Ia begitu nekat melaksanakan hal,tak senonoh di hadapannya.


Dengan sikap Yunita, memeluk Ujang dengan erat.


"Wanita ular, lepaskan aku". Ujang, memberontak namun pelukkan Yunita semakin erat


"Sentuh aku,mas. Aku ingin di sentuh mu,lihat gund-ukan milikku. Begitu menggoda iman dan berisi". Ucap Yunita.


Braakkkk....


"Aaarghhh....". Ringisan Yunita,saat tubuhnya di dorong oleh Ujang. "Sakiiitttt mas,".


"Itu pantas untuk mu,dasar wanita murahan". Sinis Ujang.


Yunita, tersenyum kecil. Ia sengaja membuat pakaian dalamnya. Dan membuka lebar-lebar pa-ha miliknya, terpampang nyata lembah keramat Yunita.


Ia mulai menggesek-gesek menggunakan jarinya sendiri. "Aahhh...mas... Ujang....ahhhh".


Urat malu Yunita,sudah malu. Sedangkan Ujang,hanya menghela nafasnya dengan berat. Ia menggeleng pelan, sedikitpun tidak ada rasa naf-sunya.


Ujang,malah sibuk dengan pete-pete nya. Tak menghiraukan suara desa-han menggema Yunita, tepatnya di atas tanah.


"Ahhhh....kau yakiiin...tidaak tergoda mas...ahhhh...shhh... lihatlah dua gund-ukan milikku...shhhh...ahhh". Des-ah Yunita,ia mulai mengobrak-abrik li-ang va-gi-na miliknya. Hanya menggunakan jarinya saja,ia kesal Karena Ujang. Malah pergi dan menjauhinya.


Ujang,sudah menghilang di balik pintu dapurnya. Nanti saja melanjutkan pekerjaan, setelah Yunita pergi.


"siaaalll,aku sudah rela melakukan hal seperti itu. Tapi dia tak tergoda sama sekali". Gerutu Yunita,ia langsung merapikan pakaiannya dan melangkah pergi meninggalkan rumah Ujang. Hatinya sangat kesal,dan sangat malu. Sia-sia usahanya yang tak mempan sama sekali.


Beberapa menit kemudian. Ujang,mengintip sedikit. Terlihat Yunita,sudah tidak ada. Mungkin sudah pulang, saatnya Ujang melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


"Bisa-bisanya Yunita,tidak tahu malu. Dasar wanita tak punya harga diri,coba kalau Reina. Behhh...sudah aku terkam". Gerutu Ujang, terlihat mengeras miliknya di dalam sarung. "Sial, membayangkan tubuh Reina. Milikku sudah bangun,huuuu...".


*****


Sesampai di perkarangan rumah Ujang. Reina, calingukan mencari sesosok pemilik rumah.


"Ehh,nak Reina. Ujang,nya di belakang. Langsung aja,masuk sana". Ucap bu Wina.


"Hemmm...makasih,bu". Reina, langsung melangkah kakinya ke arah belakang rumah Ujang. Tentu saja orang-orang tidak tahu, karena kebun pete nya di kelilingi tembok menjulang tinggi.


"Ehh,sudah datang. Duduk sini,sayang". Kedip mata Ujang. Ia menepuk di tempat duduk di sebelahnya.


Reina, tersenyum manis. Ia melangkah mendekati sang kekasih. Belum sempat mendarat bokongnya,namun sudah di tarik Ujang dan jatuh di pangkuannya.


"Ahhh....". Pekik Reina,ia terkejut dengan perlakuan Ujang. "Jangan begini,bang. Takutnya ada yang lihat,".


"Tidak ada, sayang". Ujang, langsung menyambar bibir pink milik Reina.


Reina,tak sanggup menyeimbangi ciuman Ujang. Tak seperti biasanya,ini malah sangat agresif sekali.


Ciuman itu langsung turun ke leher Reina. "Aahhh...". Satu desa-han, keluar dari mulut Reina.


Tangan Ujang,masuk ke dalam baju Reina.


"Aaahhh....shhh... jangan bang". Pinta Reina.


Saat salah satu gun-dukan miliknya di remas-remas oleh Ujang. "Maaf,dek. Abang,hilaf". Kekehnya.


Ujang,mulai mengelus rambut sang kekasih. Ia menghentikan aksinya,karena ini semua salah. Sangat salah, bagi Ujang.


Reina, menatap wajah tampan sang kekasih. Ia tahu jika sang kekasih, menyesal sudah meremas miliknya.


Ujang, langsung bergegas menuju pete-pete. Ia juga mengangkat Pete, pesanan ayahnya Reina.


Tak ada yang mereka bicarakan. Reina, sungguh merasa malu saat ini. Begitu juga Ujang,ia merasa tak nyaman. Wajar kalau Reina, marah. Karena dia sudah melewati batas, seharusnya tak harus menyentuh milik pribadinya.


"aku pulang,bang. Makasih". Senyum kecil Reina. Dengan cepat Ujang, mengangguk pelan. Apa bang Ujang, marah. Karena aku sudah melarangnya tadi,gumam Reina.


[dek,abang minta maaf. Abang, hilaf. Kamu berhak marah atau menjauh dari abang,maaf dek. Seharusnya aku tidak melewati batas, setidaknya sampai kita menikah nanti]


Reina, tersenyum manis saat membaca pesan dari Ujang.


[Kalau kamu menyuruh abang, untuk bertanggung jawab atas kejadian tadi. Abang,siap dek. Kalau bisa besok kita langsung menikah,plisss...jangan marah sayang]


Reina, langsung cekikikan tertawa melihat isi pesan Ujang.


[iya bang. Lain kali jangan lagi, kecuali kita sudah menikah. Tentu Abang, berhak atas diriku ini. Aku maafkan bang,lain kali tahan yah]


Reina, langsung membalas pesan dari Ujang. Dengan emoticon senyum.


[Makasih banyak,dek. Sudah memaafkan abang,yang nakal ini]


[Tapi nakalnya cuman sama Reina,aja yah bang. jangan sama lain,adek siap di nakalin]


[Jangan mancing-mancing dek]


Reina, langsung cekikikan tertawa melihat pesan dari Ujang.