I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Pertama bertemu



"gak bilang-bilang kalau pulang kamu,nak,". Sang ibu menyambut anaknya yang baru datang.


"Hehehe...lupa bu,". Kekeh Reina. Ia mencium punggung tangan ibunya. "Bapak,mana bu? Biasanya santai-santai di teras rumah,".


"Bapak,belum pulang dari pasar nak,". Jawab bu Hani.


"Oh..,". Jawab Reina. Ia masuk ke rumah bersama ibunya.


"Bersih-bersih dulu atau istirahat, pasti kamu capek. Kalau lapar,tinggal ke dapur. Ibu sudah masak sayur sama ikan, tinggal buka lemari tempat biasa yah. Ibu mau bantu-bantu tetangga dulu," pamit bu Hani,ia membantu tetangganya masak-masak karena besok acara pernikahan.


Reina,hanya mengangguk kepada saja. Ia masuk ke dalam kamar,sudah dua bulan ia tak pulang.


Selesai bersih-bersih diri. Reina, langsung menuju meja makan. Ia buka lemari dan mengambil beberapa sayur dan ikan,ia letakkan di piringnya.


Perut sudah keroncongan,apa lagi menghirup aroma masakan ibu. Tidak ada lebih nikmat selain masakan ibu kandung sendiri. Reina, melahap makanan.


Selesai makan,ia mau bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi.


"loh,kok ibu pulang? Emangnya ada apa lagi,". Tanya Reina,kepada ibunya


"Tu,bapakmu datang. Ibu mau bikin kopi dulu buat bapakmu,". Jawab bu Hani, menyelonong masuk ke dapur.


"Reina,kan bisa buatin bapak kopi. Gak harus ibu yang pulang,". Reina, sedikit berteriak kepada ibunya yang lagi di dapur.


"Huuuusttt... takutnya kamu gak pas buatin bapak kopi,kaya dulu malah kemanisan,". Ketus bu Hani


"Hehehehe....kan bisa di bikin lagi,". Reina, cengengesan. Memang benar jika dirinya tidak bisa pas membuatkan kopi untuk ayahnya.


"Bapak,sama siapa bu? Baru liat aku,". Tanya Reina,ia menghampiri ibunya di teras rumah. Sedangkan ayahnya masih mengobrol dengan Seseorang di pekarangan rumah.


"Oh,itu. Namanya Bujang, panggil saja Ujang. Anak pak Rokim,ia baru tinggal beberapa bulan di sini. Bapak akrab karena sering beli pete di tempat Ujang,kenapa emangnya? Ganteng yah,". Bu Hani, menyenggol lengan anaknya.


"Apaan sih bu..!!!aku sudah punya pasangan,". Jawab Reina. Ganteng sih, badannya juga bagus kaya pemain atlet.


Ayahnya langsung mengajak Ujang,untuk bertamu dan menikmati secangkir kopi. Yang baru saja di buatkan oleh istrinya.


"Kapan kamu pulang nak? Gak ngasih kabar. Duduk dulu Jang, kenalkan anakku namanya Reina. Ia jarang pulang karena kerja di kota,". Ucap pak Hamid.


"Salam kenal Reina,namaku Ujang,". Ujang, langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Reina, langsung menyambut uluran Ujang. "Reina,bang,". Senyum kecil di sudut bibirnya. Ujang? nama asli atau nama panggilan saja.


Ujang, menatap intens kepada Reina. Sedangkan Reina, tersipu malu-malu. Baru kali ini dia salah tingkah di hadapan pria.


"Silahkan,di minum Jang. Kopi buatan ibu,". Kata bu Hani.


Membuat Ujang, langsung sadar karena dia tak henti-hentinya menatap wajah cantik Reina.


"Cantik yah,anak bapak,". Kekeh pak Hamid. Membuat Ujang, cengengesan jadinya.


"Cantik pak, pake banget,". Jawab jujur Ujang.


Membuat hati Reina,jadi salah tingkah mendengar perkataan Ujang. Ia sesekali melirik ke arah Ujang. Entah kenapa baru kali ini dia,jadi malu-malu. Biasanya dengan Zakir,bukan seperti ini perasaannya.


"pak,kalau makan sudah ada di dalam lemari. Ibu mau bantu-bantu tetangga dulu. Kamu temanin bapak sama Ujang,yah nak,". Pinta bu Hani,ia langsung pergi kerumah tetangganya. Cukup ramai orang-orang yang sudah di tempat pempelai wanita.


"Bapak,mau mandi dulu. Kamu temanin yah Rei. Ujang, ngobrol dulu sama anakku. Di ramah kok orangnya,". Pak Hamid, langsung beranjak masuk kedalam.


Apa-apaan sih,bapak. Ninggalin aku sama temannya. Mana baru ketemu lagi, ngomong apa juga,batin Reina. "Silahkan, diminum bang,". Kata Reina. Ia masih tersipu malu-malu,karena Ujang selalu menatapnya terkadang mereka berdua tersenyum.


"Ehh..hemm...biasa cari suasana baru bang,". Jawab Reina,ia meremas ujung bajunya.


"lagian kan gak jauh amat ke kota,cuman perlu satu jam sudah sampai,". Duh...kok aku ngomong terus sih,mulut gak bisa di rem.


"Iya, tapikan jauh dari orang tua dek. Pasti khawatir orang tuamu, sering dengar kalau mereka kangen adek. Kalau jauh dari mereka," ucap Ujang,cantik anak pak Hamid. Apa sudah ada yang punya yah.


"mereka sudah bias...,".


Dering...


Ponselnya Reina, berbunyi. Sehingga ia memotong pembicaraannya dengan Ujang. Ia melihat siapa menelpon ternyata kekasihnya Zakir.


"Angkat aja dek,siapa tau pacarnya adek,". Kekeh Ujang.


Aduh, ngapain juga ni orang nelpon segala. Ganggu kesenangan orang aja, gerutu Reina. "Aku angkat telpon dulu yah bang,biasa teman kerja,". Gak papakan adek bohong. Kekeh Reina.


(Hallo,ada apa) Reina.


(Sayang,kamu tega banget gak ngomong dulu. Kalau pulang ke rumah orangtuamu,aku cari-cari kamu sampai ke kerjaan. Aku khawatir sayang)


Ck,gak usah modus,batin Reina.


(Hallo...hallo...suaranya gak kedengaran nih ..hallo...kayanya sinyal jelek).


Reina, langsung memutuskan panggilan dari Zakir.


"Maaf,bang. Sudah menunggu,". Ucap Reina. Ia melihat ke arah Ujang, sambil memainkan ponselnya.


"Ehh..iya dek. Abang pamit dulu,mau ketemu dengan Seseorang,". Pamitnya Ujang. "Makasih kopinya,".


Deggg...


Apa abang Ujang,mau ketemuan yah,batin Reina. Ngapain juga aku kepo,tapi aku kaya gak rela sih.


Reina, menatap ke arah Ujang. Yang sudah meninggalkan pekarangan rumah orangtuanya Reina. Ada senyuman kecil di sudut bibirnya Ujang. Karena ia masih menatap wajah cantiknya Reina, melalui kaca spion motornya.


"Loh,mana Ujang nak,". Tanya pak hamid,baru selesai mandi terlihat sudah rapi.


"Pergi pak. Katanya mau ketemu seseorang, palingan ketemu ayang bebz,". Jawab Reina,ia nampak tak suka.


"Ayang,bebz. Ujang, itu jomblo nak. Malah bapak pengen punya mantu kaya dia,dia rajin nak baik sama bapak dan ibu. Bahkan orang-orang di sekitar sini,". Jawab pak Hamid. "Mau gak bapak jodohin sama Ujang,".


"Apa-apaan sih,pak,". Ketus Reina.


"Bapak tau,kalau kamu punya pasangan.tapi jauh lebih baik kamu menikah dengan Ujang, bapak yakin kamu bahagia. Bagaimana hubungan kamu dengan pria itu,". Delik mata sang ayah kepada putrinya.


"Aku gak tau pak,lagian mau aku putusin. Kaya gak cocok, pokoknya adalah,". Jawab Reina.


"Ya sudah. Bapak jodohkan saja kamu sama Ujang,biar kamu gak kemana-mana lagi. Bapak sama ibu, sangat mengkhawatirkan mu saat jauh,".


Kalau di jodohkan dengan Ujang,oke saja sih. Ehh..kenapa otak oleng sih,main mau mau aja. "Ujang,mana mau sama aku pak. Aku yakin dia memiliki pujaan hati,". Bilang aja bapak sama ibu, pengen cepat-cepat punya mantu.


"kalau masalah itu, serahkan kepada bapakmu ini,". Senyum semerik pak Hamid.


Membuat Reina, pusing melihat kelakuan ayahnya.


Reina, sangat beruntung memiliki kedua orang tua. Yang selalu mendukung apa kemauannya,tidak ikut campur dalam urusan Reina. Orang tua Reina,juga mempercayai semuanya kepada dirinya. Tinggal Reina,saja lagi memegang kepercayaan ayah dan ibunya.