
Sudah dua hari. Reina,di tinggalkan Ujang kekampung sebelah. Rencananya malam ini,mau camping bersama reuni sekolahnya dulu. Ia langsung saja menelpon Ujang, untuk memberitahu karena acaranya mendadak begitu saja.
Beberapa detik kemudian. Telpon di angkat,namun bukan Ujang yang berbicara.
"Assalamualaikum,ada apa yah? Mas, Ujangnya lagi mandi". Halimah, langsung berbicara saat mengangkat telpon Ujang.
Deggg.....kenapa suara perempuan?.
"Wa'alaikum salam,ini siapa yah? Maaf,". Hatinya langsung berdegup kencang, bisa-bisanya seorang perempuan mengangkat telepon genggam Ujang. Mana Ujang nya lagi mandi, pikiran Reina sudah kemana-mana.
"Aku Halimah,anak paman dan bibinya,mas Ujang. Ada perlu apa yah, nanti aku sampaikan "
"Mau nanya aja,tadi mau beli pete. Tapi bang Ujang,nya gak ada. Makanya langsung aku telpon,aku tutup dulu". Alibinya Reina.
Tuuuut...tutt...
Reina, langsung mengakhiri telponnya dengan sepihak. Ada rasa cemburu di dalam hatinya, walaupun anak paman bibinya sang kekasih.
"Awas kamu bang,aku tidak akan memberitahumu. Jika aku camping bersama reuni sekolah dulu,akan aku buat kamu cemburu juga. Abang, sudah membuat hati Reina sesak dan cemburu" gerutu Reina,ia melahap pisang goreng di meja.
*****
Selesai mandi-mandi. Ujang, langsung kaget dengan adanya Halimah.
"Ini mas,aku siapkan makanan. Ibu,sudah banyak masak-masak buat mas". Halimah, langsung menyiapkan piring di meja makan.
"Apa ada yang menelpon ku tadi". Tanya Ujang,kepada Halimah.
Halimah,hanya tersenyum kecil. "Tidak ada mas,ayo...! Makan dulu,nanti dingin gak enak". Ia langsung menarik lengan Ujang, untuk duduk.
Halimah,mencoba berbohong kepada Ujang. Ia sangat penasaran dengan isi ponselnya Ujang,dari tadi ia di cueki terus.
[Dek, Abang kangen]
Ujang, langsung mengirim pesan kepada Reina. Namun tidak ada balas juga, padahal Reina sedang online.
[sudah selesai mandi bang? Siapa Halimah,bang. Apa dia menyukai abang]
Uhuukkk...uuhukkk... uuhukk....
"Minum dulu,mas". Ucap Halimah,ia langsung menyodorkan satu gelas. Namun segera,ia tepis.
Saat membaca pesan dari sang kekasih. Ujang, langsung kesel sampai terbatuk-batuk. Ia langsung menatap intens ke arah Halimah, kenapa dia tadi berbohong.
"Kenapa kamu berbohong Halimah". Bentak Ujang, dengan nada tegas.
"Maaf,mas. Maaf,tadi memang ada menelpon mas.tapi namanya Reina,dia hanya menanyakan mas. Katanya mau beli pete, tapi mas gak ada" Halimah, langsung menjelaskan namun ia merasa gugup saat memandang wajah Ujang, terlihat marah.
Ujang, langsung mengusap wajahnya dengan kasar. "Pulanglah Halimah,lain kali kamu jangan masuk sembarangan ke rumah ini. Takutnya terjadi apa-apa,aku tidak mau hal itu terjadi".
"Baik,mas. Kalau ada perlu apa-apa,tinggal panggil saja" Halimah, langsung bergegas keluar dari rumah.
Sedangkan Ujang, sudah beberapa kali menelpon Reina. Tak kunjung di angkatnya,ia juga geram kepada Halimah. Sudah pasti sang kekasih marah.
Ujang, langsung mengirim pesan kepada Reina.
[Reina,sibuk bang. Masih cek harga barang,aku juga gak papa bang. Aku paham kok]
"Alhamdulillah,kalau dek Reina tidak marah," gumamnya.
"Ujaaaang". Panggil pamannya dari depan rumah.
Ujang, langsung bergegas menuju pintu utama. "Ada apa paman"
"Masuk dulu,nak. Ada yang kami bicarakan". Pamannya menyuruh masuk,tentu saja Ujang menuruti.
Sedangkan di ruang tamu. Sudah ada bibi dan Halimah, terlihat malu-malu kepada Ujang.
"Duduklah dulu,nak". Kata sang bibi. Ujang, langsung menuruti saja.
"Begini nak Ujang, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak kepadamu.berkat bantuan modalmu, usaha paman jadi lebih baik. Kehidupan kami,juga berubah dan lebih enak. Paman dan bibi, sepakat untuk menjodohkan Halimah kepadamu. Apa kamu mau". Tanya sang paman. "anggap saja,membalas kebaikan mu. apa lagi paman dan bibi melihat kalian begitu cocok.
Membuat hati Ujang, gelisah. Dulu,memang menyukai Halimah. Tapi sekarang tentu tidak,hatinya sudah di penuhi Reina. "Bukankah Halimah,di jodohkan dengan ustadz Zaki," tanya Ujang. Aneh, dulu aku sempat dengar kalau Halimah. mau di jodohkan dengan ustadz Zaki.
Ujang, sempat mendengar jika Halimah. Akan di jodohkan dengan Zaki Mubarak,dia seorang ustadz sekaligus memiliki lahan sawit cukup besar.
"Mana mungkin anak kami berjodoh dengan ustadz Zaki,beliau orang berada Ujang". Alibi pamannya. Tentu saja lebih kaya Ujang, daripada ustadz Zaki. tentu saja yang di pilih sang paman adalah Ujang.
"Iya,nak. Apa lagi kita saling mengenal begitu dekat". Sahut bibinya.
"maaf, paman dan bibi. Begitu juga dengan Halimah,aku tidak bisa menerima perjodohan ini. Karena aku memiliki calon istri, insyaallah. Sebentar lagi aku akan melamarnya dan menikah". Ucap Ujang, dengan santai.
Pamannya, langsung menatap ke arah Ujang. "Calon istri". Ucap bersamaan paman dan bibinya.
Halimah, langsung berdiri. "Mas,kamu menolakku? Apa dia lebih baik dari aku,kita lama kenal lo. Aku selalu perhatian kepada mu mas". Mata Halimah,mulai berkaca-kaca. "apa selama ini hanya menganggap diriku seorang pelayan ha".
"Di sangat istimewa Halimah, maafkan aku. Aku sangat mencintainya, permisi paman dan bibi". Ujang, langsung melangkah kakinya. "aku sudah menganggap dirimu seorang adik Halimah,tidak lebih". tegasnya.
"Kalau kamu menolak perjodohan ini,anggap saja hutang piutang ku lunas Ujang. Kamu sudah mencampakkan anakku, merendahkan harga dirinya ". Bentak sang paman.
"Apa hubungannya paman,hutang dengan perjodohan ini. Hutang tetap hutang,yang harus di bayar. Sedikit saja aku tidak memiliki perasaan apapun,kalau paman tidak mau bayar hutang.tidak apa-apa,aku kecewa dengan paman. Aku menaruh rasa kepercayaan namun di kecewakan". Jawab Ujang, dengan santai.
Halimah, sudah menangis kesegukan di pelukkan sang ibu. "Apa kamu tega dengan Halimah, Ujang". Ucap sang bibi.
"Aku sudah bilang,bukan? Kalau aku memiliki calon istri,aku harap jangan cari aku. Kalau meminta bantuan lagi,karena kalian sudah mengecewakan diriku paman bibi. Apa ini balasannya dari kalian,atas kebaikan ku selama ini". Ujang, menatap lekat ke arah pamannya.
"Mulai saat ini,kita bukan lagi keluarga Ujang. Aku sangat marah kepadamu, bisa-bisanya kamu menolak anak kami. Pergiiiiii.....". Teriak sang paman.
"Terimakasih atas semuanya paman,jangan harap meminta bantuan kepada ku lagi. Waktu Susah sangat baik, sekarang sudah mulai enak hidup. Tiba-tiba lupa dengan jasa orang". Sinis Ujang,ia langsung keluar dari rumah pamannya.
"Ck,dasar pria sombong. Bisa-bisanya menolak anakku, tapi untungnya semua hutang langsung lunas. Tidak susah-susah bayar lagi". Senyum semerik sang paman.
"Iya,mas. Aku juga tidak terima atas perlakuan Ujang,masa dia menolak Halimah". Gerutu sang bibi.
Sesampai di rumah. Ujang, langsung menyiapkan pakaiannya untuk pulang. Ia juga berniat untuk menjual rumah ini,ia tak suka lagi tinggal didekat dengan orang yang sudah mengecewakan dirinya.