I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Pamer pacar baru



"Dek,kenapa diam? Apa kamu tidak mau menikah denganku,jawab dek". Ujang, mulai merenggang kan pelukkannya dan menatap wajah cantik Reina.


"Ehh...abang, serius mau menikah dengan ku". Tanya Reina,ia masih tak percaya dengan ucapan Ujang.


"Abang, sangat serius dek. Bahkan abang,sudah bilang sama bapak. Kalau abang,mau cepat-cepat melamar dan menikahi kamu. Apa kamu tidak percaya? Apa perlu besok pagi abang, langsung melamar di depan orang tuamu". Ujang, menatap manik-manik mata Reina. Apa Reina,tak ingin menikah dengan ku.apa dia hanya menganggap hubungan ini,hanya sebatas pacaran atau hiburan semata.


Ujang, langsung membenarkan posisi duduknya. Begitu juga Reina,ia sedikit menjauh dari Ujang.


Hening,tidak ada perbincangan. Sama-sama terdiam


Apa bang Ujang, serius mau menikahi ku. Kenapa aku ragu?apa aku masih trauma dengan masa lalu, batin Reina. Ia menoleh ke arah Ujang, terlihat dia sangat fokus menyetir mobil.


Sampai akhirnya mereka sudah sampai di perkarangan rumah orangtuanya Reina.


"Dek,jawab soal tadi. Kenapa diam,aku menunggu jawaban mu.tapi abang,tidak egois. Abang,akan beri waktu untuk kamu berpikir" karena rasa penasaran Ujang,ia langsung mencekal lengan Reina.


"Abang,beneran serius mau menikah aku. Bukan, bercanda kan". Delik mata Reina.


"Allahu Akbar,kapan abang bercanda dek? Abang, serius. Sepanjang jalan, selalu menunggu jawaban darimu. Takut hilaf dek,apa lagi kita sering ciuman" terlihat senyum kecil di sudut bibirnya Ujang


"Sering? Padahal baru dua kali lo, bang. Hemm .. Reina mau,menikah dengan abang". Terlihat senyum merekah di wajah Reina.


"Makasih dek,". Ujang, langsung memeluk Reina. "Secepatnya Abang,bawa bapak kerumah adek". Senyum merekah Ujang,malam ini ia merasa sangat bahagia.


Begitu juga Reina,ia tersipu malu-malu karena Ujang. Hatinya begitu berdebar kencang.


Reina, pamit masuk ke dalam rumah. Begitu juga Ujang,ia juga harus pulang.


Ceklekk....


Pintu rumah terbuka. Reina, langsung masuk ke dalam kamarnya. Terlihat sepi di rumah, mungkin saja kedua orangtuanya sudah tidur


Reina, menghela nafasnya dengan berat. Ia cekikikan kegirangan,ia masih mengingat kata-kata Ujang. Saat ia mengajak dirinya menikah, sampai-sampai dia guling-guling di atas ranjang.


Sedangkan Ujang,saat sampai di rumahnya. Ia juga begitu senang dengan momen tadi. Akhirnya dia bisa mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Reina. Walaupun di sekitar tetangganya tidak tau,jika mereka berpacaran.


*****


"Kamu beli minuman apa sayang? Biar aku yang bayar, sekalian beli rokok". Ucap Zakir,ia sengaja jalan-jalan bersama sang kekasih. Lalu mampir di warungnya Reina,niat hati ingin memanasi sang mantan.


"Sayang,apa ini mantan pacarmu itu. Pantesan saja kamu tunggal, pekerjaannya saja. Hanya jualan,duhhh....sayang,aku senang bertemu dengan ibumu. Terlihat beliau juga Suka dengan ku,apa lagi kau wanita karir". Senyum semerik kekasihnya Zakir.


Baguslah kalau Zakir,sudah memiliki kekasih.setidaknya jangan mengganggu aku lagi,huuuuu....ademnya, batin Reina.


"itu sudah pasti sayang,ibuku sangat menyukai dirimu. Ayo,kita berangkat". Kata Zakir, sambil melirik ke arah Reina.


Ck, mereka rupanya mau memanasi diriku. Tak apelah,ikuti saja dramatis nya,decak Reina. Ia juga menatap ke arah mereka.


"Duhh...sayang, kayanya panas banget nih hari. Bisa gosong kulitku". Keluh Sifa, kekasihnya Zakir.


"Kamu lupa yah,sayang. Kitakan menggunakan mobil,gak kepanasan dan kehujanan". Kekehnya zakir,ia membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.


"Oh,aku lupa sayang. Makasih, sudah membukakan pintu untuk mu. Aku semakin sayang kepadamu". Kata sifa,ia juga melirik ke arah Reina. Panas,panas gak tuh.


"Sama-sama sayang,aku juga sayang sam kamu. Daahhh...mantan". Senyum semerik Zakir.


Sedangkan di dalam mobil. Zakir, tengah menyetir mobil sang kekasih.


"Sayang,kamu benar-benar gak punya perasaan kan sama mantan kekasih kamu itu". Tanya Sifa,ia sebenarnya cemburu.


"Gak ada sayang,kamu cemburu yah". Zakir,mulai mencolek dagu Sifa.


Zakir dan Sifa,baru saja mereka menjalin hubungan. Sifa,juga bekerja di perusahaan sama dengan Zakir. Walaupun pangkat Sifa,lebih tinggi dari Zakir.


Untuk sementara Zakir,rela mengeluarkan uang saat mereka jalan-jalan. Apa lagi dengan ide, memanasi mantan pacarnya si Reina.


Zakir, begitu marah dan kesal. Karena Lamarannya di tolak mentah-mentah oleh Reina dan kedua orangtuanya.


"sayang,kita ke Mall. Aku mau beli Sesuatu,mau beli tas yang keluaran terbaru". Rengeknya Sifa.


"Iya sayang,kita langsung ke sana,". Jawab Zakir. Aku harus mencari cara,agar lepas dari Sifa. Pasti harga tasnya begitu mahal,enak banget. Terus-menerus mau memoroti aku, gerutu Zakir.


"Makasih yah,sayang. Kamu baik deh". Sifa, langsung bergelut manja. Yeees....dapat tas gratis,enak juga punya pacar gak pelit. Senyum semerik Sifa,ia tersenyum-senyum saat memandang wajah Zakir.


********


"Nek,aku mau susu kotak lagi". rengeknya Aira,ia sudah menghabiskan tiga kotak susu. secepatnya Reina, menahan pintu kulkas agar tidak di bukanya.


"iiihhh...awak kak Rei, ganggu aja" Aira, mendorong tubuh Reina. "jauh...ini punya Aira, semua tau" teriaknya.


"Duuhhh....bu,tolong dong, cucunya di jaga.bikin risih tau". ucap ibu-ibu yang belanja.


"di ajarain tuh,yang benar. masa mainan anakku di ambil olehnya, ngaku-ngaku milik Sendiri lagi". timpal lainnya.


"iya,bu wendah. tolong jaga cucunya.jangan bikin rusuh melulu". keluh ibu yang lainnya.


"iya,iyah.gitu aja ribet, nih aku bayar,kasih susunya buat cucuku ". bu wendah, langsung menyodorkan uang kepada Reina.


"kak Rei,aku mau peluk boneka besar warna pino itu". rengeknya lagi.


Reina, memutar bola matanya. "apaan sih,gak ada boneka-bonekaan". ketus Reina.


"bu wendah,bawa cucunya tuh. bikin rusuh tau,kalau gak di turutin malah ngerusak barang orang aja". tegur salah satu ibu-ibu.


Banyak lagi guncingan orang-orang sekitar. Membuat bu Wendah, langsung menyeret paksa Aira. Meskipun Aira,mengamuk karena tak ingin pulang.


Sesampai di rumah bu Wendah, langsung membentak keras Aira. "Diaaamm...kamu Aira,karena kamu. Aku di permalukan oleh ibu-ibu sekitar,bisa tidak ah...jangan bikin ulah"


"Nenek,nenek....nenek jahat,jahat sekali" tangisnya Aira.


Aira, langsung mengamuk habis-habisan. Ia menangis kejer di lantai.


"ibu,kenapa anakku menangis kejer seperti ini". teriak Yunita,yang baru datang bekerja. "cup..cup...diam nak, jangan nangis lagi". Yunita, mencoba menenangkan anaknya.


"ini semua karena anakmu Yunita, karena dia ibu di permalukan oleh ibu-ibu sekitar. didikan mu begitu memalukan". teriak bu wendah, begitu menggelegar seisi rumah.


"dia masih anak kecil bu,wajar saja.". bentak Yunita,ia memeluk erat tubuh anaknya.