I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Panas Dingin



Argantara? Apa itu nama asli bang Ujang,mana asyik banget kayanya mereka ngobrol,batin Reina.


"Reina..!!!kamu kenapa? Kamu baik-baik aja," tegur Ganta,ia melihat Reina sedikit termenung.


"Gak,gak papa. Aku cuman bingung aja,mau beli apa gitu. Tadi ibu minta belikan sesuatu tapi lupa,heheh," alibi Reina. Ia tersenyum manis.


"Oh,gimana kita jalan-jalan dulu. Siapa tau kamu ingat,". Tawar Ganta.


Boleh juga, daripada ngeliat bang Ujang sama perempuan lain. Ternyata banyak penggemar berat bang Ujang,batin Reina. "Yuuk...siapa tau aku ingat, takutnya nanti di marahin ibu. Kalau gak di beliin apa yang di mau,". Ujar Reina.


Ganta, langsung membayar pesanan minuman mereka tadi. Mereka berdua langsung beranjak pergi sekadar untuk keliling menikmati pasar malam.


Ujang,hanya menatap kepergian Reina. Ia berdecak dan mengepalkan tangannya,niat untuk memanasi Reina. Namun dia yang malah kepanasan.


Reina, sengaja memilih baju-baju yang bagus namun niat hanya liat-liat. Tapi Ganta, langsung membayar baju yang di inginkan Reina.


Reina, tersipu malu-malu karena Ganta. Mereka asyik berbincang hangat saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.


"kak Ganta,apa ada lowongan kerjaan. Tapi aku hanya memiliki ijazah SMA,". Ucap Reina, entah kenapa ia memikirkan pekerjaan.


"Kamu ingin bekerja,". Tanya Ganta,namun secepatnya di anggukan kepala oleh Reina.


"Ada sih,tapi konter ponsel besar milik teman kakak. Serius kamu mau bekerja,aku chat dulu yah,". Ganta, langsung mengirim pesan kepada temannya.


"Di kota yah,kak,". Tanya Reina.


"Hemm... dengar-dengar sih,tempat tinggal di jamin sama makan juga. Untung lo,gajihmu terkumpul tanpa mengeluarkan biaya sewa dan lain-lain,". Ucap Ganta. "Kalau mau, gimana besok. Biar kakak antar,besok kakak sudah masuk kerja,".


"Hemm...boleh deh,bete juga gak kerja. Dulu kerja di restoran karena teman gak kerja lagi,jadi aku ikut berhenti juga," kekeh Reina.


"Nah,di balas teman kakak. Katanya masih cari karyawan,katanya di suruh saja datang langsung ke tempat konternya. Besok kakak temanin deh,". Senyum kecil Ganta.


"makasih banyak yah,kak. Senangnya dapat kerjaan enak," Reina, tersenyum manis.


"Hemm...kakak mau pulang dulu yah,lagian kita beda arah. Besok jam sembilan pagi, kakak langsung ke rumahmu,". Pamit Ganta.


"Hati-hati kak,aku juga mau balik. lagian lupa mau beli apa tadi,". Reina,juga ingin pulang .


Mereka langsung menuju parkiran,tapi sayangnya parkiran mereka berbeda dan langsung berpisah.


Saat di parkiran ternyata Ujang,masih setia menunggu di motornya.


"Mau pulang bang,". Tanya Reina,ia calingukan mencari wanita bersama Ujang tadi.


"Hemm...iya,dek. Sendirian aja,abang liat tadi sama laki-laki,". Tanya Ujang,bukan kepo.namun ia ingin tau apa hubungannya mereka, terlihat begitu sangat dekat bahkan saling bergandengan tangan.


"Ahhh...itu,kak Ganta. Kakak kelasku dulu, tapi sudah pulang kok,". Senyum kecil Reina.


Ujang,hanya manggut-manggut saja." Untukmu,". Ia menyerahkan kantong kresek di tangannya.


"Apa ini bang,baju. Buat Reina,". Ia membuka apa isinya.


"Hemm...iya dek, sekali-kali beliin kamu,".


"Makasih,banyak bang. Aku terima,pamit dulu. Nanti di cariin bapak,kalau lama-lama,". Pamit Reina,ia menancapkan gas motornya.


Hatinya sudah dag-dig-dug serrr....apa lagi dia mendapatkan hadiah dari Ujang, hatinya begitu senang.


******


Reina,pun paham maksud perkataan kedua orang tuanya. begitu khawatir kepada dirinya karena dia adalah anak satu-satunya di miliki bapak dan ibunya. jadi wajar saja tak mengijinkan lagi berpisah jauh.


Ia tengah termenung di atas motor sambil menatap ponselnya, begitu sejuk di bawah pohon rindang .


"Lo,dek. Ngapain di bawah pohon sendirian,". Tegur, Ujang. Sepertinya dia baru pulang dari kerja.


"Bete aja bang. Baru darimana bang? Kusut amat mukanya,". Kekeh Reina.


"Oh,habis liat kebun sawit dek. Lah,bete kenapa dek?cerita siapa tau abang,punya solusinya. Maaf,bau yah. Badan Abang, keringat nih,". Ujang,mengelap keringat bercucuran di keningnya.


Gak papa bang, walaupun berkeringat tetap tampan,batin Reina. "Ehhh...itu gak di ijinkan, soalnya mau kerja di kota bang. Bete gak ada kerjaan,". Keluh Reina.


"kerja di laundry, punya abang mau gak. Tu gak jauh dari kafe simpang,ada bu Minah dan anaknya Sasa.siapa tau mau bekerja di sana, mumpung mereka katanya kewalahan banyak,". Tawar Ujang,kepada Reina.


"Laundry bang? tapi belum pernah kerja begituan sih, coba aja bang. Daripada melongo gak jelas akunya tiap hari,". Kata Reina,ia ingin mencoba dulu sebelum berkata tidak.


"Kita langsung ke sana yah,tapi malam aja deh. Abang,masih sibuk mau metik pete buat bapakmu,". Pamit Ujang.


"Makasih dulu yah,bang. Nanti aku tunggu di rumah yah,". Ucap Reina.


Ujang,hanya mengangguk kepala. mereka saling pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.


sore harinya Reina, menceritakan semuanya tentang pekerjaannya. yang tak jauh dari rumah, terlihat kedua orang tuanya senang.


"Alhamdulillah,bagus tuh. Kamu dapat kerjaan di laundry nak Ujang,hati ibu jadi lega. Kamu gak jauh-jauh kerjanya,". Ucap sang ibu.


"Malam nanti,mau ke laundry nya bang Ujang. Lihat-lihat dulu," kata Reina.


"Kamu sama Ujang,aja ikut. Bapak,mau minjam motor mu. Ada acara di kampung sebelah sama ibu,cuman sebentar. Kamu bisa nunggu atau kemana kek,bisa ke kafe atau pasar malam," kata pak Hamid.


Reina, langsung mengangguk kepalanya.


kesempatan emas ini,yuhuuu,batin Reina. ia begitu kegirangan bisa dekat-dekat dengan bang Ujang.


******


Sekitar jam delapan malam.


Ujang,sudah sampai di perkarangan rumah Reina. Begitu juga Reina, sudah siap dari tadi menunggu.


"Bang,aku ikut abang aja. Motorku di bawa bapak sama ibu, katanya ke kampung sebelah," ijin Reina, kepada Ujang. Sebelum dia naik ke motor.


Asyik, kesempatan boncengan sama dek Reina,batin Ujang. "Iya,dek. Cepat naik," senyum sumringah terlihat jelas di wajah Ujang.


Reina, langsung naik ke motor Ujang. "Deg-degan akunya bang. Pegang baju abang yah,takut jatuh,". Alibi Reina. Ia cekikikan menahan tawanya,ini adalah kesempatan emas bagi Reina. Biasa sangat dekat dengan Ujang,bau maskulinnya tercium oleh Reina.


Lo,ini bau parfum mahal ini,batin Reina. Ia semakin erat memegang ujung bajunya Ujang.


"Peluk juga gak papa dek," lirih Ujang, terlihat mereka seperti orang berpacaran. Ujang,hanya menancapkan gas motornya dengan kecepatan sedang. Agar sampainya biar lama.


Panas dingin bercampur aduk yang di rasakan Reina. I juga menyandarkan kepalanya di belakang Ujang. Sedangkan Ujang,jadi salah tingkah. Ingin memeluk Reina,namun sayang dia sedang menyupir.


Seandainya begini ceritanya,mending aku bawa mobil aja,batin Ujang.