
"lo, bapak sama ibu mau kemana? Rapi banget,kaya mau jalan-jalan,". Tegur Reina, saat ia keluar kamar. Melihat orang tuanya sudah berpakaian rapi.
"Bapak sama ibu,mau ke pasar malam.pinjam motormu yah,nak. Ehh...kamu mau keluar juga,". Delik mata sang ayah.
"Heheh...iya pak,tapi bawa aja. Reina,sama teman kok. Mau jalan-jalan juga,". Kekehnya Reina.
"Teman apa teman,nak. Jangan-jangan teman jadi demen yah,". Sahut bu Hani.
"Apaan sih,bu. Ya sudah,pergi sana. Kaya anak muda aja," kekeh Reina, melihat orang tuanya masih harmonis.
"Dahhh...ayo,pak. Kita malmingan,". Bu Hani, langsung menggandeng tangan suaminya.
"ingat, jangan lupa kunci rumah. Bapak,sudah bawa kunci serepnya," teriak pak Hamid, kepada anaknya.
"Iya,pak" jawab Reina,ia masih menunggu Ujang.
Hampir setengah jam berlalu,ia sudah menunggu di ruang tamu.
Ting...
Bunyi pesan masuk di ponselnya.
[Abang,sudah diluar]. Bang Ujang.
Reina, tersenyum merekah saat membaca pesan dari Ujang.
Saat keluar dari rumah. Ternyata Ujang,membawa mobil. Bukannya motor.
"Loh,emang mau kemana bawa mobil segala? Apa mau jalan-jalan jauh,". Gumam Reina,ia langsung turun dari rumah langsung menunju mobil Ujang.
"Bang,mau kemana emangnya?Bawa mobil segala,". Tanya Reina.
"Mau jalan-jalan keliling Mall dek,lama tidak ke sana," kekeh Ujang.
"Gaya,emang benaran ke sana? Kira ke pasar malam doang,". Ujar Reina. Uuuhh...kalau tau kekota,aku bakalan ganti baju lah.
"Gak papakan kita, jalan-jalan agak jauh," Ujang, langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Gak papa sih, bang. Asalkan jangan ngebut-ngebut lah,". Senyum merekah Reina.
Beberapa saat kemudian. Hening tidak ada saling berbicara,hanya saling pandang lalu tersenyum satu sama lain.
Ada rasa gugup dan gemeteran,yang di rasakan oleh Reina. Ia meremas ujung bajunya.
"Kenapa dek? Kok diam,". Tanya Ujang, yang terlihat santai.
"Hhhhmmm...gak papa bang,". Kekeh Reina,ia sebisa mungkin tidak terlihat gugup." Bang, katanya mau ngomong sesuatu hal penting, ngomong apa sih? Jadi penasaran,".
"Ehhh...anu,apa yah". Ujang, tiba-tiba berubah menjadi gugup. Uuuhh...tenang Ujang,pasti kamu bisa. Jangan di pendam ungkapkan saja.
"bang,kenapa diam? Ngomong aja,apa sih? Jadi penasaran banget aku," tanya Reina,ia menggoyang tangannya Ujang.
Reina, juga menatap ke arah Ujang. Tangannya Reina, langsung di tangkap oleh Ujang.
Tangan sebelah kanannya sedang menyetir mobil. "Dek, sebenarnya Abang. Sebenarnya Abang,suka sama kamu.mau gak jadi pacar Abang,". Sesekali menoleh ke arah Reina,tapi ia tetap fokus ke arah jalan.
Uuuuhh...ada rasa dag-dig-dug serrr,di hati Ujang. Namun hatinya langsung plong,saat mengungkapkan isi hatinya.
Sedangkan Reina, tertunduk malu. Ia juga merasakan hal berbeda malam ini, tangannya masih di genggam oleh Ujang.
"Dek,jawab? Kenapa diam,". Ujang, membuyarkan lamunannya Reina.
Mereka berdua saling tersenyum. "Serius, kamu menerima Abang,".
Reina, langsung mengangguk pelan. "Iya, bang. Reina, serius". serius banget bang, sudah lama perasaan ini,aku pendam. akhirnya,kamu miliku bang. aku tidak percaya,jika nang Ujang juga suka sama aku.
"Makasih banyak,dek. Sudah menerima cinta Abang, sebenarnya Abang sempat minder lo,". Ucap Ujang,ia mencium tangan Reina. Alhamdulillah,cintaku di terima. apa sepama ini dia juga suka sama aku. ahh.. bodoh sekali kamu Ujang, kenapa gak dulu-dulu saja menyatakan cinta pada Reina.
Deggg....
Bertambah besar rasa gugupnya. Saat Ujang, mencium tangannya.
"minder? Minder kenapa bang,". Tanya Reina,tangan mereka masih bergandengan. keringat dingin mulai terlihat di kening Reina.
"Yah, kamukan tau dong. Kalau abang,hanya anak petani. Kerjaan abang,cuman cari rumput sapi-sapi dan penjual pete,". Senyum merekah Ujang. "Abang,juga bukan anak kantoran,".
"Haaa...!!! Reina,gak pernah memandang pekerjaan seseorang bang. Asalkan dia tulus dan sayang sama Reina,". Jawab Reina, tersenyum manis. hanya anak petani, tapi memiliki sapi beberapa ekor dan beberapa hektar Pete belum lainnya bang, seperti sawit dan sawah. di tambah sama laundrynya abang, melebihi anak kantoran.
"Makasih yah,dek. Terima Abang,apa adanya,". Ujang, mencium tangan Reina lagi. ia mulai fokus menyetir mobilnya. sesekali ia melirik ke arah Reina. terpancar rasa kebahagiaan malam ini.
******
Satu jam lebih. Akhirnya mereka sampai juga .
"Untukmu dek,". Ujang, menyerahkan boneka beruang besar kepada Reina.
"Wah...besar banget,bang. Makasih,sudah membelikan untuk ku bang,". Reina, langsung senang menyambut boneka beruang berwarna pink. Benar,apa kata ibu. Ikhlaskan siapa tau dapat yang lebih besar, batin Reina.
"Apa sih,yang gak buat kamu dek. Ayo,kita jalan-jalan lagi,". Ajak Ujang, dengan senang hati mengikuti langkah Ujang.
Reina,hanya tersipu malu-malu. Sepanjang perjalanan mereka saling bergandengan tangan.
Ujang, juga membelikan beberapa baju,tas dan sendal. Bahkan membeli sepasang baju sama.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ujang, langsung mengajak Reina pulang kerumah.
Cukup lelah bagi Reina,malam ini. Ia juga merasakan amat bahagianya,karena belanjaan semua di bayar Ujang.
*******
"Ciyeehh... dapat boneka yang lebih besar,". Goda bu Hani,ia membuka pintu untuk anaknya yang baru datang."dari siapa hemm...,".
"Dari bang Ujang,". Bisik Reina, mengedipkan matanya sebelah.
"Hubungan Antara kalian apa hemm...kepo ibu nih,". Bu Hani,mencolek pipi anaknya.
"Hemm...baru pacaran bu,". Kekeh Reina, malu-malu.
"Yaelah,sok malu-malu. Biasanya malu-maluin, baguslah kalau kalian pacaran. Kalau sampai kedengaran bapak,kamu bakalan di nikahin," ujar bu Hani. "Tenang,ibu akan rahasiakan kalah gak kecoplosan,".
"Ibu, pliss...jangan bilang-bilang sama bapak,malu tau,". Rengeknya Reina."nanti aku belikan martabak istimewa,". Bujuk Reina.
"Tuh,di simpan bonekanya. Kamarmu di kunci, takutnya anak Yunita. Nyelonong masuk sendirian,kaya rumah bu ipah.habis semua mainan anaknya di ambil sama anak Yunita itu,geram tau ibu. Gimana sih, ajaran nenek sama ibunya. Kok bisa-bisanya kaya gitu,bikin malu," geram bu Hani.
"iiihh...kok gitu banget sih,bu. Amit-amit jabang bayi,kalau punya anak seperti itu. Kayanya ajaran orang tuanya gak becus itu,". Kekeh Reina.
"Hemm... tidur sana,sudah malam,". Pamit bu Hani, sebelum pergi ke kamar.
Sedangkan Reina, entah kenapa malam ini. Ia susah memejamkan matanya, kata-kata Ujang. Masih terngiang-ngiang di telinga,saat mengungkapkan isi hatinya. Reina, bolak-balik di atas ranjang sambil memeluk boneka beruang. Sesekali ia kecup dan di peluk erat.