
"ibu-ibu lagi kumpul-kumpul nih,". Ujar bu Wendah, tersenyum merekah.
"Iyalah,kan kami lagi ada arisan". Sahut ibu lainnya.
"Besok kalian pada datang yah, soalnya besok anakku nikah. Biasa acara kecil-kecilan saja,kalau acara besar-besarnya di tempat pempelai perempuannya". Bu Wendah, mengundang para ibu-ibu.
"Wahhh.. selamat yah,bu. Akhirnya Zakir,mau menikah,". Sahut bu RT.
"Iyalah, jangan lupa datang besok. Padahal aku dan Zakir, pernah melamar Reina. Tapi di tolak,". Senyum semerik bu Wendah.
"Haaa? Kenapa di tolak bu Hani,kalau di terima. Mungkin saja sekarang Reina,yang menikah". Ucap bu RT, langsung.
"Karena Reina, sudah memiliki pacar bu. Apa lagi, sekarang mereka berdua sudah bertunangan ". Jawab bu Hani, sambil memilih beberapa lembar baju di hadapannya.
"Haaa...? Tu-tunangan,". Membuat ibu-ibu syok dengan ucapan bu Hani.
Bu Hani, tersenyum puas. Apa lagi bu wendah,ia kalah telak.
"Sama siapa bu,". Tanya salah satu ibu-ibu di dekatnya dan diiringi anggukan ibu lainnya juga.
"jangan bilang sama Ujang,sebabkan kalian Antara keluarga dekat banget". Sahut ibu lainnya.
"Nah,iyah... benarkan Ujang, Bu Hani". Tanya ibu RT.
"Hemmm...iya bu,nak Ujang". Kekehnya Bu Hani.
"Alhamdulillah....". Ucap bersamaan,namun tidak bagi bu Wendah.
Tidak mungkin, Ujang. Ujang, hanya milik Yunita "jangan ngaku-ngaku,bu Hani". Bantahnya.
"Jangan ngaku-ngaku? Maksudnya apa,bu. Apa yang aku katakan memang benar,kalau nak Ujang sudah menjalin ikatan dengan anakku Reina". Jelas bu Hani,lagi.
"Aku tidak percaya sama sekali,karena Ujang. Hanya milikku Yunita, mere menjalani hubungan serius". Senyum semerik bu Wendah.
"bu Wendah,kamu gak sadar yah. Mana mau Ujang,sama Yunita. Model begituan,iiihhhh...". Salah ibu di dekatnya bergidik geli.
"Iyah, mending sama anakku. Daripada sama Yunita,janda tapi gak punya akhlak. Apa lagi anaknya, bikin emosi cepat naik darah". Sahut bu RT,ia nampak tak suka juga.
"nyesal aku mengundang kalian,". Ketus bu Wendah, langsung beranjak pergi meninggalkan kerumunan ibu-ibu.
"Huuuuuuu....". Sorak salah satu ibu-ibu.
"Besok,kita sepakat deh. Jangan pada datang kerumahnya,mending kita bikin acara juga". Ucap bu RT,kepada ibu-ibu lainnya.
"Mencok aja deh... ngomong-ngomong selamat,bu Hani. Dapat mantu,kaya Ujang. Orangnya rajin pula, pasti hidup Reina enak". Kata lainnya.
Bu Hani,hanya mengangguk pelan. "Alhamdulillah, do'akan saja Bu,". Senyum merekah bu Hani.
sedangkan bu Wendah, langsung duduk di sofa. ia mendengus rasa kesal kepada bu Hani,ia sudah di permalukan di depan ibu-ibu.
"apa sudah di bereskan,semua pakaian ibu. mulai besok ibu, gak tinggal di sinikan". jangan harap menantu kesayangan,ibu. akan memperlakukan dirimu seorang mertua kesayangannya.
"Tenang saja Yunita, semuanya sudah beres. Enak sekali hidupku nanti,punya menantu kaya raya". sinis bu wendah,ia tersenyum licik.
"Aduhhh... jangan kesenangan dulu,deh. takutnya nyungsep sakit". ledek Yunita.
"Kamu yang, jangan kesenangan dulu. atas kepergian ku, takutnya kamu kerja. siapa yang jagain Aira,".
"tenang bu,aku sudah memiliki siapa yang akan menjaga anakku nanti. ibu,tidak usah takut". senyum semerik Yunita.
******
Reina, tengah santai di bangku panjang sambil menunggu kios dan warungnya. Ia sambil memeluk erat boneka besar,yang di beri oleh Ujang.
[Dek, sudah siapkan. Satu minggu lagi,kita akan menikah]
"Duh... kenapa Abang,malah bahas masalah ini. Aku jadi deg-degan banget,". Gumam Reina.
[Iya,bang. Jadi deg-degan akunya, secepat itu yah. Kita sudah menikah,bang]
[Cepat dek? Itu lama bagi Abang, pengennya langsung kenal. Cusss... ijab kabul]
[Ngauurr....abang, ada-ada aja. Jadi kangen akunya bang]
Reina, tengah cekikikan tertawa lepas.
"Astagfirullah, kenapa kamu ada". Reina, terkejut kedatangan Aira.
Reina, langsung cepat menaruh boneka yang lebih tinggi. Agar Aira,tak bisa mengambil miliknya.
"Kak Rei, itu punya Aira. Jangan di ambil,". Rengeknya, sambil menarik lengan Reina.
"ngaurr...itu punya ku bocah,tengil. Pulang sana,main ngaku-ngaku aja.huussss....". Usir Reina, dengan kesal.
"Punya Aira,itu punya Aira,". Bocah itu, menangis sejadi-jadinya.
"Huuuu.... Yunitaaaa....bu Wendaaahhh....". Teriak Reina, berkali-kali. Ia sangat geram kepada Aira.
"Pulang sana,". Bentak Reina,ia menyeret paksa Aira.
"Lepaaaasss....itu milik Aira,lepaaaass....huuu...huuu...huuu". Isak tanginya di tanah.
Dari kejauhan Yunita, tergesa-gesa menghampiri anaknya.
"Dasar perempuan kurang ajar,tidak memiliki hati nurani. Kamu memperlakukan anakku seperti ini ha". Bentak Yunita, seketika tangis anaknya berhenti.
Yah, tangisnya hanya alibi Aira saja. Membuat Reina, begitu geram.
"Anak mu saja,yang suka mengaku barang orang lain. Sama kaya ibunya,sok belagu ngaku-ngaku juga". Sinis Reina.
"Ibu,aku mau boneka besar itu". Tunjuk Aira,kepada ibunya.
"Mau yang itu, sebentar sayang. Ibu, yang ambilkan". Belum melangkah untuk maju, dengan cepat Reina cegah.
"kamu apa-apaan Yunita? Mau ambil milik orang lain ha". Mata nyalang Reina, langsung keluar.
"Cuman boneka doang,kamu pelit banget sih. Ini anak kecil,yang gak tau apa-apa Rei. Gak usah egois,jadi orang".
Tetap saja Reina, mencegah Yunita.
"Itu milikku Yunita,jangan harap kamu mengambilnya. Dasar pencuri". Bentak Reina,ia mencengkram erat tangan Yunita.
Bu Hani, dengan cepat mengambil boneka. Lalu berlari masuk, kedalam rumah.
Aira, semakin menjadi-jadi menangis. Karena bonekanya sudah,di simpan.
Reina, tersenyum puas. Ia menjulurkan lidahnya, seakan-akan mengejek Aira.
Plakk...
"Reinaa,". Lirih sang ibu .
Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya Reina. Ia di tampar oleh Yunita.
"Makanya jangan main-main dengan ku Reina,". Bentak Yunita.
Plakkk...
Tamparan itu,di berikan oleh Yunita. Dari bu Hani,ia geram saat anaknya di tampar.
"Kau berani menamparku bu Hani". Bentak Yunita.
Mendengar sang ibu di bentak. Reina, langsung naik pitam.
Plakkk...plakk...
Kedua pipi mulusnya Yunita, sudah di balas Reina. Ia tersenyum puas, sedangkan Yunita. Ia merasakan sangat perih di kedua pipinya.
Orang-orang sekitar,juga banyak melihat keributan tersebut.
"Dasar tidak tahu diri kamu, Yunita. sama seperti anakkmu,bikin kesal aja". sahut ibu lainnya,yang sedang ikut menonton.
"geram aku bu Hani, pengen aku bonyok tu wajahnya". geram salah satu ibu-ibu sekitar.
"awas kamu Reina,aku bisa membelikan boneka banyak. saat aku menikah dengan Ujang, nanti". sinis Yunita,ia tersenyum sumringah.
Reina dan ibunya,hanya tertawa cekikikan saja. saat mendengar ucapan dari Yunita, benar-benar tidak memiliki rasa malu sama sekali.