
"bang,boleh antarin aku kerja gak.motor aku lagi mogok," pinta Yunita,kepada Ujang.
Ujang, memandang Yunita.yang menggunakan pakaian kurang bahan. sedangkan Ujang,hanya berpakaian lusuh karena dia ingin mencari rumput.
"Bang, tolongin aku yah,". Yunita,ingin meraih tangan kekar Ujang. Namun secepatnya ia menjauh.
"Tolong,jaga sikapmu. Apa lagi kamu seorang wanita,janda lagi. Apa kata orang-orang nanti menilai tentang kita," tegas Ujang. "Aku sibuk,mau cari bahan makanan sapi,".
"Iiiss... tinggalin saja lah, bukannya abang kaya. Tinggal suruh sama orang lain,beres," Elak Yunita. "Ayolah,bang. Jangan dengarkan kata orang-orang. Kalau mereka mau menikahkan kita,aku ayo-ayo aja,". Kedip mata Yunita, dengan nakal
Tanpa mempedulikan yg Yunita. Ujang, langsung naik ke mobil pick up nya. Tak menghiraukan teriakkan Yunita,yang sedang merengek meminta bantuan.
"Aduh...jadi perempuan murahan banget sih,mana mau bang Ujang nganterin perempuan kaya kamu,". Tegur seorang wanita, tetangga Ujang.
"Ck,bilang saja kamu irikan,". Ledek Yunita. Dengan hati kesal,ia langsung pulang kerumah. Huuu...mana anuku perih lagi, gara-gara Zakir. Kaya kesetanan nafsunya.
*****
Reina,yang belum buka kiosnya. Ia mendapat pesan masuk dari Ujang.
[Dek,malam ini boleh ketemu. Nanti abang, jemput]. Abang Ujang.
Deggg....
"Tumben-tumbenan bang Ujang, ngajakin ketemuan malam-malam,". Gumam Reina.
[Boleh bang]
Reina langsung membalas pesan dari Ujang.
[Makasih,dek] bang Ujang.
Reina,hanya tersenyum kecil saat membaca pesan dari sang pujaan hati namun tak kunjung di miliki.
Sepagi ini. Reina, membantu ayahnya untuk menyiapkan jualannya. Pak Hamid,setiap hari berjualan sayur di pasar. Itulah usaha kecil-kecilan nya.
"Pak,aku lihat-lihat ada yang membersihkan tempat kediaman paman Heru. Apa mereka ke sini lagi," tanya Reina,kepada ayahnya.
Pak Heru, sepupu ayahnya Reina. "Hemm... katanya mau buka usaha di sini, bapak juga gak tau. Kenapa tiba-tiba pindah ke sini lagi, dengar-dengar mereka bangkrut nak. Tapi kamu diam aja yah,ingat jangan sampai mereka berhutang dengan mu. Hutang mereka yang dulu aja,mana pernah di bayarin,". Kata pak Hamid. ia masih trauma kepada salah satu keluarganya itu.
"Loh, katanya mereka banyak uang. Masa hutang setengah juta,gak bisa bayar sih," decak di Reina.
"mana bapak tau? Bapakkan gak kepoan kaya kamu sama ibu,". Jawab pak Hamid.
"Kalau aku sama ibu,bisa menagih hutang piutang dulu, tapi uangnya untuk kami bagaimana pak? Boleh yah,". Kedip mata Reina.
"Iya,pak. Daripada didiamkan sayang,uang setengah juta lumayan,". Sahut bu Hani,ia bersekongkol dengan anaknya.
"Hemm..terserah kalian,kalau dapat untuk kalian aja. Kalau gak,bapak hanya tertawa,". Kekeh pak Hamid
"Waaahh... kayanya bapak meremehkan kemampuan kita bu,". Ucap Reina,kepada ibunya.
"Tenang saja nak,kita buktikan sendiri,". Senyum semerik bu Hani.
Pak Hamid,hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku istri dan anaknya.
"bu, mereka itu gengsinya tinggi. Kita ancam saja,pasti mau" ucap Reina.
"Masalah ini,gampang nak. Lumayan setengah juta lo,bisa beli apa-apa nanti kita," kompak bu Hani,kepada anaknya.
*****
Siang harinya. Keluarga pak Heru dan istrinya bernama Sukma, mereka baru datang kekampung halaman. Cukup lama mereka tinggalkan karena pergi ke kota untuk menjalankan bisnis.
Semua orang-orang di kampung,cukup tahu menahu kalau keluarga pak Heru. Adalah orang kaya yang sukses menjalankan bisnis di kota. Banyak orang-orang tau kalau pak Heru, memiliki toko bangunan yang cukup besar.
Tapi pak Hamid,nampak tak suka dengan sepupunya ini. Karena mulutnya selalu menghina kehidupan pak Hamid, seakan-akan hidup mereka tak sukses seperti pak Heru.
"Lama gak ketemu yah, Bu Sukma,". Ucap bu Hani, keluarga pak Heru. Tengah bertamu di rumah pak Hamid.
"Iya, benar bu Hani. Kami hanya berdua ke sini, anak-anak kami sedang sibuk dengan urusannya masing-masing,". Kekeh bu Sukma.
"hidupmu gini-gini aja yah, Hamid. Tapi kamu memiliki mobil pick up dan sebuah kios ponsel juga,". Kata pak Heru. "Pasti capek,yah tiap hari jualan sayuran ke pasar," senyum kecil di sudut bibirnya pak Heru. Seakan-akan mengejek saudaranya.
"Alhamdulillah,aku memiliki pekerjaan kecil-kecilan dan kios itu milik anakku, Reina,". Ucap pak Hamid.
"Paman, tumben-tumbenan malah pindah ke kampung. Apa ada masalah,". Delik mata Reina.
"Ahhh....gak ada, kami hanya membuka suasana baru. Siapa tau,kami membuka usaha di sini,". Jawab pak Heru.
"Baguslah kalau buka usaha di sini,jadi gak jauh-jauh beli bahan bangunan. Enak banget,pak Heru kayanya banyak uang,". Sahut bu Hani.
"Aduh...ibu gak tau aja, keluarga pak Heru. Sudah terkenal suksesnya,". Sambung Reina.
Pak Hamid, hanya diam mendengarkan perkataan istri dan anaknya.
"Ahhh...makasih banyak,sudah memuji kami. Jadi gak enak,". Kekeh bu Sukma.
"Ahh...aku ingat sekali, dulu pak Heru. Pernah minjam uang setengah juta dengan bapakku, pasti ke sini mau bayarkan. Uang segitu kecil bagi paman," senyum merekah Reina.
"Nah...iya banget,kami lagi perlu uang pak. Uang segitu pasti bagi pak Heru dan Bu Sukma,hanya uang recehan,". Sambung bu Hani,aksi mereka berdua sudah di mulai.
"Hahahha,benar. Masa uang setengah juta gak bisa bayar,apa kata orang-orang nanti,". Kekeh Reina, sebelum di jawab .
Pak Heru,diam tanpa bersuara apa-apa. kenaoa mereka jadi membahas hutang,jadi nyesal aku ke sini. kenapa juga aku lupa, ternyata mereka tidak melupakan hutang dulu.
"Ahhh....lupa,untung kalian mengingatkannya. Ini kami bayar,maaf lupa,". Elak bu Sukma,ia langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang setengah juta kepada bu Hani. gengsilah kalau tidak bayar,mau taruh dimana muka mereka.
Pak Hamid, melongo melihat uang yang di terima oleh istrinya yang tengah sumringah.
Pak Heru,merasa tidak terima uang setengah juta melayang begitu saja.
"makasih banyak bu Sukma,jadi gak enak,". Kekeh bu Hani. Ia mengibaskan uang di tangannya.
Walaupun wajah bu Sukma, sedikit masam.
ia terpaksa mengeluarkan uang setengah juta, kepada bu Hani.
"Wahahha... ternyata benar,bibi banyak uang. Uuuhh...aku jadi iri," sahut Reina,ia tersenyum puas.
"loh,itu hutang sudah lama. Kenapa masih di tagih,". Ujar pak Heru, nampak tak suka.
"Hutang itu wajib di bayar pak Heru,lagian uang segitu bukan apa-apa juga bagi kaliankan,". Kata pak Hamid.
"Tapi,sama saja kamu perhitungan sama keluarga. Itu tidak baik pak Hamid," decak pak Heru.
"Lah,kami tidak pernah perhitungan pak Heru. Bukankah sudah berjanji membayarnya,". Jawab pak Hamid
"Ayo,bu kita pulang saja. Emang susah bergaul dengan keluarga yang tidak mampu,". Sinis pak Heru.
"Silahkan,". Ucap pak Hamid, membuat mereka tambah kesal.
"Ck, menyesal kami bertamu di sini,". Sahut bu Sukma.
"Makanya hutang itu di bayar, jangan lupa. Nanti bakalan malu sama orang-orang sekitar,". Ledek Reina.
Para tetangga Reina, langsung menghampiri keluarga pak Heru.
Mereka hanya berbasa-basi sebentar.