
Ruang tamu di hiasi bunga.
orang-orang juga banyak berdatangan, menyaksikan langsung pernikahan Ujang dan Reina.
"Sahh...".
"Sahh....".
"Alhamdulillah... Al-fatihah...". Ucap penghulu kepada lainnya.
Semua orang-orang mengucapkan doa dan lainnya.
Seorang wanita cantik menggunakan make up tipis dan memakai kebaya pengantin putih dan menggunakan hijab
Hari ini adalah hari sakral pernikahan Reina dan Ujang. sungguh hatinya Reina, berdegup kencang, akhirnya yang di tunggu tiba juga.
Beberapa menit lalu. Ujang, sudah mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan lainnya.
Semua orang-orang tersenyum dan bahagia atas akad nikah Reina dan Ujang.
Selesai ijab Kabul. Barulah Reina, keluar dari kamar di tuntun oleh sang ibu.
Ujang,terpana dengan kecantikan sang istri,yang mulai mendekatinya.
"Ciyeee.... ciyeehh.... baru nikah..". ucap lainnya,menggoda pengantin baru.
"cium punggung tangan suami, nak". bisik sang ibu, barulah Reina menuruti.
Reina,hanya tersipu malu-malu dan duduk di samping Ujang. Ia mencium punggung tangan Ujang dan Ujang mencium kening Reina.
Semua orang-orang bersorak gembira riang, melihat kejadian tersebut. Apa lagi kedua orangtuanya Reina dan pak Rokim. Yang melihat anak mereka sudah menikah.
Semua orang-orang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
Banyak juga kerabat dekat berdatangan untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
"selamat yah,nak. atas pernikahan kalian,kami sebagai orang tuamu. selalu mendoakan rumah tangga kalian sakinah mawadah warohmah,". bu Hani, memeluk anaknya. ada air mata menetes,air mata kebahagiaan.
"makasih banyak,bu". Reina, membalas pelukan sang ibu.
"jaga anakku Jang,dia anak kami satu-satunya,". pak Hamid, memeluk menantunya dan menepuk pundak Ujang.
"Akan selalu aku pak. tenang saja, serahkan kepada Ujang. makasih,sudah menerima ku sebagai menantu bapak" senyum kecil di sudut bibirnya Ujang.
"iya,nak. hati bapak,lega kalau kamu menjadi suaminya Reina. tenang pikiran bapak dan kamu Reina. bapak,harap kamu selalu patuh dengan suami dan menurut apa katanya. jangan berkata kasar,". sang ayah, mencium kening anaknya.
"makasih pak,akan aku ingat apa perkataan bapak". senyum merekah Reina.
waktunya giliran pak Rokim, yang langsung memeluk anaknya. "sayangi Reina,nak. jangan kamu sakiti menantu bapak, makasih Rei. sudah mau menerima Ujang,jadi suami kamu".
"iya, pak. makasih atas semuanya,". kata Reina,kepada bapak mertuanya.
"tenang pak, menantu kesayangan bapak. akan aman bersamaku,bapak harus sabar. jaga kesehatan doakan semoga cepat-cepat dapat cucu ". bisik Ujang, kepada ayahnya.
"aku pegang ucapan mu,nak". pak Rokim, menepuk bahu Ujang. "bapak, sudah mengundang paman dan bibimu,tapi di lihat-lihat mereka tidak mau datang. palingan mereka malu sama kita, untung dapat uangnya ". kekeh pak Rokim.
sedangkan Ujang, menggeleng kepalanya dengan pelan. walaupun sang ayah,tidak pelit. tapi keluarga yang ngelunjak, pasti keluar juga jurus pelitnya.
saat orang-orang lagi menikmati acara akad nikah Ujang dan Reina. sedangkan Yunita,ia begitu geram dan sangat marah. saat melihat sang pujaan bersanding dengan Reina,apa lagi anaknya merengek meminta hantaran pengantin Reina. membuat orang-orang geram kepada bocah tersebut, nakalnya minta ampun.
"Yunita,bisa gak sih? kamu jaga anakmu ini,masa mai ngambil mainan anak saya. coba kamu belikan,katanya kerja di bank gajih besar. tapi beli mainan lima ribuan aja gak bisa". ejek seorang ibu-ibu.
"benar bu,sok belagu gajih gede. tapi beliin anak mainan gak mampu. suka banget,main rampas punya orang". sahut ibu lainnya.
"aku heran deh,bu. waktu hamilin anaknya,ngidam apa sih? bisa-bisanya bocah sudah berumur 8 tahun,sukanya ngerampas mainan orang". ejek lainnya.
"apaan sih,bilang aja ibu-ibu itu pelit. makanya ngatain anak aku sembarangan". bentak Yunita,kepada ibu-ibu setempat.
banyak lagi cibiran lainnya yang keluar dari mulut ibu-ibu super pedas. sampai Yunita, kewalahan menghadapinya.
Malam semakin larut. Reina, merasa dirinya sangat kelelahan karena berdiri terlalu lama.
"Uuhhh, pegalnya kakiku". Rengeknya Reina,ia mengoleskan minyak urut ke kakinya.
Ujang,yang abis mandi hanya menggunakan celana pendek saja tanpa baju atasan.
"Pegal banget,yah". Tanya Ujang,kepasa sang istri.
"Pegal banget bang, untung akad nikah aja. Kalau acara resepsi pernikahan, bisa-bisa aku gak sanggup". Jawab Reina, ia tersenyum kecil.
"Sini,biar abang pijat. Abang,ahli lo". Alibi sang suami.
"Serius bang,asyik". Reina, langsung berbaring di atas ranjang. Sedangkan Ujang, tersenyum licik.
Ujang, berlahan-lahan tangannya memijat kaki Reina. "Enak dek".
"Hemm...enak banget bang". Jawan Reina, sambil memainkan ponselnya. Mungkin membalas semua chat-chat temannya.
Berlahan-lahan juga tangannya Ujang, mengelus sampai paha mulus Reina.
Saat ini Reina, menggunakan celana pendek dan baju atasan.
"Abang,jangan di paha Reina. Di kakinya saja". Pinta Reina,ia merasa sangat gugup.
"Gak bisa gitu dong,dek. Kalau kakinya sakit,pasti pahanya harus di pijet juga". Jawab Ujang,ia tersenyum kecil.
"ta-tapi bang,akunya gak nyaman". Reina, mengigit bibirnya saat tangan Ujang. Mulai ke atas pangkal pahanya,ia merasakan tubuhnya tiba-tiba berbeda.
"Nikmati saja dek,". Bujuk Ujang,ia tersenyum manis.
"Sudah bang, nanti pegal tangannya abang". Reina, menarik kakinya.
"baru sebentar lo,dek. Gak papa lama-lama atau mau yang lainnya,". Bisik Ujang, di telinga Reina.
Membuat bulu kuduk berdiri seketika. "Apaan sih, bang". Kata Reina, malu-malu.
"Dek". Panggil Ujang, dengan pelan. Saat menoleh ke arah Ujang, bibirnya langsung di sambar oleh suaminya.
Berlahan-lahan Ujang, membaringkan tubuh istrinya dengan masih berciuman dengan mesra.
"Aahhh...bang, pintunya sudah...shhh..dikunci". Desis Reina, saat Ujang mencium seluruh lehernya.
"Sudah sayangku,tenang saja. Tidak ada yang mengganggu kita". Tangan Ujang, sudah menyusup ke dalam baju Reina.
Ia juga melepaskan baju Reina, hanya meninggalkan bra saja.
Glekkk.......
Susah payah meneguk salivanya melihat dua gund-ukan milik Reina,yang masih tersembunyi di balik bra nya.
"Jangan dilihatin,malu bang". Rengeknya Reina,ia menutup kedua gun-dukan menggunakan tangannya.
"Jangan di tutup sayang,ini sangat indah". Bisik Ujang,ia ******* bibirnya Reina lagi.
Tangannya mencoba melepaskan kait bra sang istri,lalu melemparnya sembarangan arah.
Saat melihat dua gund-ukan milik Reina,yang terpampang nyata tanpa sehelai benang pun.
Ujang, langsung mel-umat rakus dua gund-ukan Reina. Ia menghisap secara pergantian dan menjil-atinya, dengan semangat.
"Aahh...shhh...hhhmmm.... Aahhhhhh...bang". Des-ah Reina. Ia meremas kepala Ujang.
Ujang,sudah melucuti celananya Reina. Saat ini mata Reina, terbalalak kapan dia melepaskan celananya.
Ciuman itu turun ke perutnya Reina. Ia menggelinjang hebat dan menikmati sentuhan sang suami. "Aahhh...hhhmmmm...shhhh... aahhh...".
matanya merem melek,ini adalah pertama kalinya merasakan sentuhan lembut dari seorang pria.