I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Rezeki Gak Ketukar



"Dek,aku dengar-dengar kalau bu Asmah. Sedang merencanakan untuk membangun toko sembako juga, pasti kamu di tersaingi. Sedangkan toko kamu,hanya kecil,". Ucap Ujang, sambil menyantap hidangan yang di masakkan oleh Reina.


"Yah,gak papa pah bang. Rezeki gak ketukar juga,aku hanya mengisi waktu suntuk saja. Daripada bengong gak wajar". Jawab Reina, dengan santainya.


"Hemmm...aku gak mau adek kecapean,mana mengurus rumah dan lannya". Kata Ujang.


"Gak papa bang,aku sudah terbiasa dengan hal kecil. Malah badan capek,kalau gak ngapa-ngapain ". Jawab Reina, tersenyum.


"Ingat siapkan barang-barang yang kita bawa, kekampung sebelah. Sore, kita berangkat. Gak papakan menggunakan mobil pick up, sambil bawa sapi-sapi ".


"Gak papa bang,emangnya kenapa". Tanya Reina.


"Takutnya kamu ogah-ogahan barengan sama sapi,dek. Takutnya gengsilah,".


"Ha...? Aku bahkan gak sampai kepikiran ke situ bang,tapi setelah selesai antar sapi-sapi. Abang,mau kan transfer uangnya ke rekening ku. Mau belanja skincare sama baju". Reina, duduk di pangkuan suaminya.


"Boleh dek,jangan duduk di sini. Malah nanti,abang hilaf". Kekehnya Ujang.


Reina, langsung mengecup bibir suaminya. "Mulai nakal yah,". Ujang,mencolek hidung mancungnya Reina.


"Hilaf enak gak papa bang". Goda Reina,lagi.


"Jangan dek, nanti gak kelar-kelar pekerjaan abang. Abang,pamit dulu sayang". Ujang, mencium bibir Reina.


"Hati-hati yah,bang". Reina, langsung bangkit dari pangkuan suaminya. Ia mencium punggung tangan Ujang.


*****


"Berapa lama di kampung sebelah nak". Tanya bu Hani, kepada anaknya.


"Gak tau bu,kapan". Jawabnya Reina,ia tersenyum kecil.


"Hati-hati,jangan ngebut-ngebut lah". Bu Hani, mengelus rambut Reina.


"Ehhh...mau kemana kalian,bawa sapi segala". Tanya bu Asmah, mendekati mereka.


"Mau kekampung sebelah bu, nganterin pesanan orang-orang,". Jawabnya Ujang.


"Wahh...banyak nih uangnya,bisa puluhan juta rupiah". Kekehnya bu Asmah. "Maaf yah, Rei. Aku bangun toko sembako yang besar, lengkap lagi. Sudah jelas murah meriah,hemm sama kios ponselnya juga. Maaf yah, Rei. Bukannya aku menyaingi kamu jualan,tapi bingung mau di modalin apa". Kata bu Asmah, panjang lebar.


"Gak papa bu,lagian usahaku hanya kecil-kecilan. Biasa mengisi waktu suntuk,". Jawabnya Reina,ia tersenyum kecil.


Sedangkan Nita,ia curi-curi pandang ke arah Ujang. Sedangkan Ujang,hanya menatap sekilas saja.


"Takutnya kamu marah, kepadaku Rei. Karena usahaku sangat mirip dengan mu". Kekehnya bu Asmah.


Bilang aja,bu. Mau menyaingi aku,agar aku tersisih. Gak papa rezeki sudah di tentukan masing-masing, batin Reina. "Gak bu, semoga sukses yah".


"Wa'alaikum salam,nak. Hati-hati". Teriak bu Hani.


"Ingat pesanan bapak". Kata pak Hamid, kepada menantunya.


Langsung saja Ujang,mengangkat jempol nya. Bertanda Oke.


"pak Hamid,enak yah. Punya mantu kaya". Kata bu Asmah, langsung. "Aku lihat-lihat hidup kalian,sudah enak yah. Gak kaya dulu,serba kekurangan". Ejekkan bu Asmah.


"Alhamdulillah,bu. Berkat kerja keras, akhirnya tercapai apa yang kami inginkan". Jawab pak Hamid.


"Beruntung sekali kamu bu Hani,tiap hari hongkang-hongkang di rumah. Kaya aku dong, berusaha membangun toko sembako besar". Ucap bu Asmah, membanggakan dirinya. Penuh dengan kemenangan, atas perkataannya. "Tidak menghabiskan uang suami saja,"


"Ahhh.... maaf bu Asmah, istri ku bukannya tidak mau membantu bekerja. Tapi,aku sendiri yang melarangnya. Cukup aku mencari nafkah, Alhamdulillah. Berkat memuliakan istri, rezeki selalu mengalir". Pak Hamid,membela istrinya.


Mendengar pembelaan dari Suaminya. Bu Hani, tersenyum kemenangan. "Makasih,banyak suamiku tersayang. Malam ini,jadikan kita jalan-jalan. Dahhh....bu Asmah,kami siap-siap dulu". Bu Hani, langsung menggandeng tangan suaminya. Ia juga melambaikan tangannya ke arah bu Asmah, terlihat jelas begitu kesal wajahnya berubah masam.


"Ehhh...bu Asmah,mantan suami kamu sekarang sukses lo. Punya mobil,punya rumah istrinya juga cantik". Kata tetangga Reina.


"Gak perduli". Bentak bu Asmah, langsung meninggalkan perkarangan rumah Reina. Hatinya kesal kepada orang-orang sekitar,apa lagi dengan mantan suaminya.


Sekarang mantan suaminya sudah sukses,yang dulu sempat dia hina. Namun sayang,dia tidak bisa menuntut kepada mantan suaminya. Karena Nita,anak dari Suaminya kedua. Kalau Nita, anak dari suami pertama. Ia juga bisa menikmati harta kekayaan mantan suaminya tersebut. Yang memiliki beberapa empang,anggap saja juragan empang.


*****


Di perjalanan menuju ke kampung sebelah. Reina, selalu saja ngoceh tak henti-hentinya.


"Bang,di kampung sebelah ada siapa aja". Tanya Reina.


"Banyak lah dek, manusia dan hewan-hewan pastinya". Kekehnya Ujang.


"Iiisss...salah tanya lagi aku". Gerutu Reina. "Ada keluarga abang,gak? Keluarga dekat,ehhh...paman dan bibinya abang". Ia langsung ingat kejadian dimana seorang wanita mengangkat telpon Ujang.


"Oh, mereka dek. Abang,sudah kecewa sama mereka. Tapi, jangan marah kalau abang cerita,". Jawab Ujang.


"Cerita saja bang, janji gak marah ". Kata Reina, langsung. Ia tak sabar mendengarkan cerita dari Suaminya.


"sebenarnya paman dan bibi,abang. Mereka berhutang uang kepada abang, untuk membangun usaha empang. Yang sempat tertunda karena kurang modal,apa lagi abang waktu itu punya uang lebih. Karena mereka keluarga abang,abang bantu dek. Apa pagi, mereka memiliki seorang anak. Abang, sempat suka dengannya. Tapi,abang sempat dengar mau di jodohkan dengan ustadz. Dan mulai saat itu, Abang pindah ke kampung halaman adek. Untuk melupakan perasaan abang,ini. Lama-lama akhirnya ketemu dengan adek,malah abang langsung jatuh cinta pandangan pertama". Kata Ujang,


"Waktu pulang kemarin. Mereka menyambut kedatangan abang, dengan hangat. Seperti biasanya,apa lagi usaha paman dan bibi. Sudah mulai berkembang, tapi sedikitpun tidak ada niat membayar hutang-hutang mereka. Malah mereka mau menjodohkan anaknya sama abang, sungguh abang kaget. Bukankah anak mereka di jodohkan? Akhirnya abang,tau. Pihak keluarga laki-laki menolak perjodohan ini. Dan melemparnya ke abang, sungguh abang kecewa dengan sikap mereka. Apa lagi abang, memiliki calon istri lebih cantik". Kekehnya Ujang.


"terus bang,gimana lagi". Tanya Reina,ia menikmati cerita suaminya.


"Mereka marah-marah dek,kalau abang sudah memiliki pasangan alias calon istri. Sampai-sampai mereka tidak mau bayar hutang mereka,di anggap lunas. Aku sebenarnya keberatan,tapi gak papa lah. Anggap saja,ini terakhirnya membantu mereka. Kalau nanti-nanti jangan harap aku bantu lagi dek, kekecewaan abang sudah dalam. Kata bapak, mereka sudah membayarnya. Karena bapak,yang mengurusnya". Kata Ujang, sambil menyetir mobil.


"Makanya bang,jangan terlalu baik sama orang. Di bodohi,orang nantinya. Alhamdulillah,kalau mereka sudah bayar. Seharusnya mereka beruntung ada yang membantu, waktu kesusahan. Ini malah tidak mau bersyukur ". Sungutnya Reina.