
Reina,ikut serta mengantar sapi-sapi pesanan orang-orang di kampung sebelah. Selesai mengantar semuanya,lalu mencuci mobil pick up.
Takutnya Reina,ke bauan bekas sapi-sapi di belakang. Setelah selesai, barulah Ujang. Membawa Reina,ke rumahnya di sebelah paman dan bibinya.
Awalnya ia ingin menjual rumah tersebut,tapi sang ayah tidak setuju.
"mereka paman dan bibi ku, perempuan sebelahnya menggunakan hijab namanya Halimah. Anak satu-satunya mereka, seorang guru ngaji dan mengajar di sekolah SD". Jelas Ujang, sebelum keluar dari mobil pick up.
"Oh, cantik. Pantesan abang,suka". Gumam Reina, namun hatinya sedikit cemburu.
"Ck, sekarang tidak dek. Karena hidup abang,milikmu sayang". Ujang, mengecup sekilas di bibirnya.
"Abang,jangan cium sembarangan malu kalau ada yang lihat". Gerutu Reina, wajahnya cemberut. Duhhh.... walaupun sudah jadi suami-istri tetap saja aku merasa malu.
Namun Ujang, hanya cengengesan melihat wajah Reina cemberut. Baginya malah jadi gemes,ia segera membawa sang istri turun dari mobil pick up.
Sedangkan paman dan bibinya, tengah bersantai di teras rumah. Begitu juga Halimah,ia ingin sekali menyapa. Tapi terhalang oleh perkataan sang ayah,ia juga membenci kepada istrinya Ujang.
Hati Halimah,memanas saat mendengar ketawa-ketiwi di rumah Ujang.
"Lupakan dia nak". Gumam sang ibu. maafkan kamu nak,yang sudah egois menghancurkan kebahagiaan kamu.
"Ini semua karena bapak,". Mata Halimah,mulai berkaca-kaca. Ia langsung meninggalkan ibunya. Coba saja dulu,di restui . mungkin saat ini aku yang jadi istrinya mas Ujang, bukan wanita sialan itu.
Sedangkan Ujang dan Reina, tengah bergelut mesra di ruang tamu.
"Aaahh...sudah bang,banyak debu nih. Kita bersih-bersih yah". Reina, membenarkan pakaiannya. Yang baru saja di buka Ujang, seperti biasa dua gund-ukan milik nya menjadi candu untuk suaminya. Huuuff...encok lagi pinggang aku,kalau selalu dekat dengan bang Ujang.
"Abang,bantu kok dek. Gemes aku lihat kamu dek,". Ujang, memeluk erat tubuh Reina. Tahan, Ujang. kalian baru sampai,mana bisa langsung memakan istri mu. tapi kamikan suami-istri yah, terserah aku.
"Hemmm...abang tiap hari ngeselin ganggu Reina, terus". Gerutunya. Ngeselin tapi enak, kekehnya Reina.
Reina, menuju ke arah dapur. Terlihat beberapa peralatan masak, terlihat lengkap tersimpan di dalam lemari.
"Kita gak usah,masak sayang. Beli aja,". Ujang, memeluk erat dari belakang. Hemmm...
"Aaahhh ...". Desis Reina,saat dua gund-ukannya di remas-remas oleh Ujang.
"Mende-sah lah sayang,abang suka" kata Ujang, membaringkan tubuh istrinya ke atas meja makan. Maafkan Abang,dek. yang gak bisa dekat dengan mu, selalu ingin memakanmu saja.
Mereka saling berciuman dengan mesra, suara desa-han menggema di ruang dapur.
Ujang, menghunjam tubuh istrinya dengan kuat. "Aaahhh....ahhh...hemmm....enakkk....dekk....". Des-ah Ujang.
"Aahhh...abaaang...ahhh". Des-ah Reina, tubuh mereka sama-sama polosnya. Astaga,kamu melakukan di dapur, semoga orang gak ada yang masuk, Aahhhhhh......abang sayang....betin Reina. matanya merem melek menikmati permainan sang suami.
Halimah, tengah terpaku di ruang tamu. Saat mendengar suara desa-han menggema di dapur,ia berniat mengantar pisang goreng kepada Ujang.
Kakinya berlahan mundur,ada hati memanas mendengar suara desa-han mereka saling bersahutan.
Astagfirullah, mereka melakukan hubungan in-tim di dapur. apa lagi pintu rumah tidak terkunci. ya Allah,sakit sekali hatiku. seandainya tahu,aku tidak akan melangkah kaki untuk masuk. sakit sekali,mas.
"Memalukan". Gumam Halimah,ia langsung keluar dari rumah Ujang.
Ia juga membawa kembali sepiring pisang goreng. Takutnya ketahuan karena mengetahui apa yang mereka lakukan tadi di dapur.
"Lo,kenapa balik lagi". Kata sang ibu. ia nampak heran kepada Halimah.
Telinganya masing terngiang-ngiang di telinga suara desa-han Ujang dan Reina. Ya Allah, suara desa-han mereka. masih terngiang-ngiang di otakku.
Reina, langsung tertidur pulas. Badannya sangat lelah, karena melayani suaminya.
"Maafkan aku dek,jadi kelelahan akibat olahraga sore kita,". senyum kecil di sudut bibirnya Ujang.
Ujang,lah akhirnya bersih-bersih seisi rumah semuanya. Beres-beres seperti ini, sudah biasa baginya.
Saat membersihkan teras rumah. Ia melihat Halimah, tengah menghampiri dirinya. Huufff... ngapain lagi,dia kemari, gerutu Ujang.
"Mas,ini pisang goreng". Halimah, meletakkan piring di meja.
"Bawa saja,pisang goreng itu. Aku tidak menyukainya lagi, Halimah". Jawab Ujang, sambil membersihkan kaca. Mulai saat ini,aku membenci apa pisang goreng, batin Ujang,tanpa memperdulikan Halimah.
Degg....
Ada hati teriris pisau begitu pedih yang di rasakan Halimah, mendengar ucapan Ujang. "Mas, marah padaku". ya Allah, segitunya mas Ujang marah kepadaku.
"Jangan sentuh aku, Halimah. Kamu perempuan berhijab dan aku juga memiliki istri,tak pantas apa yang lakukan". Tegas Ujang,ia menghindari Halimah. Berani-beraninya dia menyentuh diriku, padahal dia perempuan berhijab.
Halimah, langsung menghapus air matanya. "Maafkan bapak,mas. Beliau hilaf, dulu pernah menyakiti hati mas". apa kata maaf ku,tidak bisa menghapus kekecewaan mu mas.
"Sudahlah Halimah,aku tidak mau membahas masalah ini". Ujang, langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
*****
Esok harinya. Reina, tengah santai di teras rumah.
Sedangkan Ujang, mencari makanan entah dimana? Saat bangun tidur, Ujang sudah tidak ada lagi di tempat tidur.
"Hoaaammm...segarnya" Reina, merentangkan kedua tangannya. Ia menatap ke arah Halimah, tengah menuju ke arahnya.
"Maaf,ini masakan buat mas Ujang,". Kata Halimah, meletakkan beberapa wadah di atas meja.
"Lebih baik gak perlu,aku bisa memasak untuk suamiku. Lagian,bang Ujang gak bakalan memakan masakan darimu". Tolak Reina,ia menatap tajam ke arah Halimah.
"jangan sombong kamu, mentang-mentang istrinya mas Ujang. Aku tahu semuanya, apa kesukaan mas Ujang". Halimah, seakan-akan membuat Reina cemburu.
"Hemmm... itu dulu,bukan sekarang Halimah. Heran, di bantu minta lebih. Di kasih hati,malah jantung ". Sinisnya Reina,ia tersenyum kecil.
Mendengar perkataan Reina, membuat hati Halimah seakan-akan memanas. "Jangan lancang kamu". Tunjuk Halimah, matanya seakan-akan melotot mau keluar.
Reina,hanya santai menghadapi sikap Halimah. Sudah terbiasa menghadapi sikap orang seperti ini, kenyang bagi Reina.
"Halimaaaahh....". Teriak Ujang,yang baru datang.
"Mas, Ujang". Gumamnya, langsung menurunkan telunjuk tangannya.
"Sudah aku bilangkan!! Jangan lagi, mengantar makanan kepada ku Halimah". Tegas Ujang, langsung menutup pintu rumahnya.
Halimah, terduduk lemas di kursi. Air matanya mengalir di pipi mulusnya,ia menghapus menggunakan Hijab panjangnya.
"Sudah ibu,bilangkan. Jangan mengharapkan Ujang,lagi. Dia sudah memiliki istri, kamu wanita baik-baik Halimah". Sang ibu, mencoba menasehati anaknya.
"Ini semua karena bapak sama ibu,". Isak tangisnya Halimah. "Aku sangat mencintai mas, Ujang". Katanya lagi.