
Ting... Ting... Ting....
Pesan beruntun masuk di ponselnya Reina. Sedangkan Reina,baru saja selesai mandi. Ia sedang menggosok rambutnya menggunakan handuk.
Saat mendengar suara pesan masuk. Ia langsung menggogoh ponselnya di atas ranjang. Benar saja ada beberapa pesan masuk dari Ujang.
Ujang,juga mengirimkan foto vas bunga pecah dan tangannya di perban.
[Tanganku luka dek, habis bersihin vas bunga pecah. Ehh..kena tangannya abang,tapi sudah di perban minta bantuan sama bu Wina] bang Ujang.
"Astagfirullah, kenapa bang Ujang. Bisa terkena pecah vas bunga,". Gumam Reina. Ia langsung membalas pesan dari Ujang.
[Kenapa bisa pecah vas bunganya bang? Kenapa juga abang,gak hati-hati. Untung abang,gak kenapa-kenapa]
[Gimana lagi dek,sudah musibah. Tapi gimana abang,makan yah. Tangan abang,di perban begini. Bingung dek,buat makan malam nanti. Duuhh... masih pedih sakit banget]
Ha...? Gimana ini,kasian kalau gak makan. Haaa...aku ajak dia aja makan diluar, batin Reina.
[Malam ini kita makan diluar yah,bang. Kalau gak bisa,nanti aku suapin abang]
Reina, langsung menawarkan diri. Walaupun dia malu-malu tapi apa daya jika ia merasa kasian.
[Makasih dek,malam nanti jam 8 malam. Aku jemput]
[Iya,bang]
Reina, langsung membalas pesan. Walaupun singkat.
Tok...tok...tok..
Pintu kamar Reina,di ketuk seseorang.
Ceklekk...
"Ada apa bu, tumben mengetuk pintu kamar,". Tanya Reina,kepada ibunya.
"Keluar,diruang tamu ada Zakir bersama ibunya.kamu kunci kamarnya,takutnya boneka kamu lagi di colong tapi kayaknya gak ada Aira". Ucap bu Hani. Setelah memberitahu sang ibu, langsung pergi.
Reina,hanya menghela nafasnya dengan berat. "Untuk apa mereka kesini,mana hari juga hampir magrib. Magrib-magrib bertamu di rumah orang," gerutu Reina. Ia langsung bersiap-siap dan mengunci pintu kamarnya.
"waduh...calon mantu ibu datang,tambah cantik,". Ucap bu wendah. Saat melihat kedatangan Reina.
Diruang tamu juga ada orang tuanya Reina. Menghadapi bu wendah dan Zakir.
Reina, langsung duduk di sebelah ibunya. "Bu, ngapain mereka ke sini? Gak tau waktu banget,hampir magrib malah bertamu,". Bisik Reina.
"Ibu juga gak tau? Emang yah, mereka gak tau waktu apa,". Balas bu Hani,namun di senggol sang suami karena mereka berdua bisik-bisik.
Terlihat bu wendah, menyenggol lengan Zakir.
Zakir,dari tadi hanya senyum cengar-cengir saat menatap mantan kekasihnya.
"Begini pak Hamid,saya mau melamar Reina," ucap Zakir, dengan mantap.
Pak Hamid, mengerutkan keningnya. Sedangkan bu Hani dan Reina, seketika mata mereka melotot.
"Apa kamu serius dengan ucapan kami nak, Zakir,". Delik mata pak Hamid.
"Bapaaaakk.....!!!". Teriak bu Hani dan Reina.
"Hussssttttt...jangan teriak-teriak bu,hampir magrib nih. Gak baik teriak-teriak,". Kata pak Hamid.
"Iya,gak baik juga magrib-magrib malah bertamu,". Gerutu Reina, dengan mantap.
"Hemm..saya serius pak,ingin menjalin hubungan serius terhadap Reina. Kalau tidak secepat kami menikah," pinta Zakir,tanpa menghiraukan tatapan tajam Reina.
"aku gak mau pak,aku sudah memiliki kekasih,". Tolak Reina, dengan kesal.
"Hemm... maafkan anakku bu wendah,apa yang di katakan anakku memang benar. Kalau dia memiliki seorang kekasih,". Sambung bu Hani.
"Gak papa,kamu putusin sekarang Rei. Terus hari ini aku lamar kamu,tapi cincinnya besok yah". Kekehnya Zakir.
Mendengar perkataan Zakir,pak Hamid hanya menggeleng kepalanya.
"Maafkan aku Zakir,aku menolak. Sudah cukup kamu sakiti aku dulu, sekarang aku mendapatkan pria jauh lebih baik dari pada kamu,". Sinis Reina,ia menyunggingkan senyumnya.
"Tidak Reina,pria itu tak pantas untukmu. Lebih baik dengan ku saja,aku bekerja di kantor letaknya di kota. Aku yang lebih baik daripada dia". Decak Zakir.
"Hussssttttt...kamu itu ngeyel banget sih, Rei. Seharusnya kamu beruntung mendapatkan suami seperti anakku. Bekerja di perusahaan,di kantor lagi. Gak hujan dan panas,hidupmu bakalan terjamin,". Sahut bu wendah.
"Gak ada bu,selama aku pacaran sama Zakir. Dia memoroti aku,dia matre". Geram Reina. "Pokoknya aku gak mau,aku tolak kamu Zakir,". Bentak Reina,ia menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan ruang tamu.
Pak Hamid dan bu Hani,hanya tersenyum kecil. Mereka saling pandang.
"Nak Zakir, sekarang kamu tau. Apa jawaban dari anakku,dia menolak mu karena kesalahan kamu dulu," pak Hamid,mencoba menjelaskan semuanya.
"Alahhh...itu cuman masa lalu,masih aja di ungkit-ungkit,". Keluh bu wendah, dengan mulut bercibir tak karuan.
"Kami sebagai orang tua,hanya menuruti kemauan Reina. Kalau dia tidak mau,kami juga tak memaksa,". Timpal bu Hani,ia tersenyum kecil.
"tolong pak,bu. Bujuk Reina,agar mau menerima lamaran ku. Aku sangat mencintainya,". Pinta Zakir, sedikit mengiba.
Pak Hamid,hanya menghela nafasnya dengan panjang. "Maafkan kami,nak. Reina,sudah tidak mau bersama kamu. Tolong, mengertilah diluar sana masih banyak perempuan lain,". Pinta pak Hamid, dengan bermurah hati.
Bermacam-macam cara dan alasan yang di lontarkan Zakir kepada orangtuanya Reina. Namun kedua orangtuanya Reina,masih membantah. Apa lagi pak Hamid dan bu Hani, nampak tak suka dengan keluarga bu wendah.
Dengan hati dongkol dan malu,bu wendah dan Zakir. mereka langsung keluar dan pulang ke rumah.
"fiuuhhh.... emang susah yah, punya anak perempuan cantik lagi.pasti kaya gini,duhhh... pusing kepala bapak,". gerutu pak Hamid.
"tunggu dulu,kata ibu tadi. kalau Reina,punya kekasih. tapi siapa bu,apa ibu tau".
"ciyeehh... bapak kepoan," ledek sang istri.
"ayolah,buk. kasih tau,siapa kekasih anak kita.siapa tau bapak kenal sama calon mantu,". kekehnya.
"tapi,bapak jangan kasih tau sama siapa-siapa yah. jangan bilang juga sama Reina,kalau ibu yang memberitahu. ingat pak,jangan bilang-bilang sama siapa,". ancam bu Hani, kepada suaminya. secepatnya pak Hamid, langsung mengangguk pelan.
"beritahu aku bu,nanti aku kasih apa yang ibu mau,". pak Hamid,untung saja beliau memiliki ide.
"gak banyak kok pak,belikan ibu emas,". pinta bu Hani, dengan kedipan mata sebelahnya.
"gampang,besok langsung ke toko emasnya. pilih sesuka mu,bu. tapi kasih tahu dulu,siapa". pak Hamid,sudah geram kepada istrinya.
bu Hani, calingukan siapa tau. Reina, sedang mengintip atau menguping pembicaraan mereka. "Ujang pak,ujang". bisik bu Hani,kepada suaminya.
pak Hamid,menganga lebar. ia nampak tak percaya dengan ucapan oleh istrinya. "se-serius bu,U-ujang ".
"iiiiss....iya pak, Ujang mana lagi sih". gerammya sang istri.
"Alhamdulillah,kalau nak Ujang. bapak, langsung setuju bu. akhirnya mereka menjalin hubungan, pantesan mereka berdua sering ketemuan.Aaahh...gak sabar punya cucu ". pak Hamid, begitu kegirangan.
"Cucu? cucu siapa bu,emang siapa yang lahiran,". ucap Reina,yang baru menghampiri mereka.
pak Hamid dan bu Hani, langsung terdiam. mereka langsung mengubah ekspresi wajah.