I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Kebahagiaan (TAMAT)



Beberapa bulan kemudian.


Ueeek.... uuekkk.....


Pagi-pagi Reina,sudah merasakan perutnya mual-mual. seperti biasalah gejala ibu hamil,ia merasakan mual dan pusing.


Saat ini Reina, tengah hamil dua bulan.


Betapa bahagianya orang tuanya Reina,dan ayahnya Ujang.Sebentar lagi mereka akan menimang cucu.


Ujang,juga sangat bahagia tak lama lagi akan menjadi seorang ayah. yang di tunggu-tunggu akhirnya hamil juga.


"Diminum dulu,susunya sayang". Kata bu Hani, membawakan secangkir susu bumil. "Sehat terus cucunya ibu".


Bu Hani,mengelus perut anaknya yang masih rata.


"Makasih,nek". Jawab Reina, cengengesan.


Sudah cukup lama Reina,tak lagi membuka kiosnya. Ia di marahi sang Suami, capek-capek kerja.


Bu Hani,juga mengupas buah untuk Reina. Selama hamil,ia sangat di manja oleh orangtuanya dan suami.


Betapa beruntungnya hidup Reina,saat ini.


"mau apa nak,tinggal bilang aja. Nanti ibu, turuti. Siapa tahu,kamu mau minta di masakin apa gitu". Tanya sang ibu.


"Gak ada apa-apa,bu". Jawab Reina, tersenyum. Sambil menonton televisi bersama ibunya.


"Assalamualaikum,". Kata Ujang,dari ambang pintu. Baru saja pulang, dari kerja.


"Wa'alaikum salam ". Jawab bersamaan Reina dan ibunya.


Reina, langsung mencium punggung tangan sang suami.


"Dek,kamu baik-baik sajakan".


"Alhamdulillah, baik-baik saja mas. Ada ibu,yang jaga aku". Kata Reina, tersenyum manis.


"Alhamdulillah, makasih sudah menjaganya bu". Kata Ujang.


"Alahhh...biasa aja nak, Reina anak ibu. Apa lagi di dalam perutnya calon, cucu ibu". Kekehnya bu Hani.


******


Sore harinya. Reina dan ibunya tengah menghadiri acara doa selamatan di rumah bu Asmah.


Bu Asmah, nampak sumringah saat mengetahui jika Reina tak lagi membuka kiosnya. Malah ibunya,membeli bahan sembako di toko sembakonya.


"Mas,bisa minta tolong gak? Besok anter aku yah,ke kota. Mau belanja keperluan bahan sembako ibu". Pinta Nita, kepada Ujang.


Ujang, mengerutkan keningnya. "Maaf, aku tidak bisa". Jawabnya.


Membuat hati Nita, langsung kesal. Balom apa-apa sudah di tolak saja,ia sangat tertarik dengan Ujang.


"Kenapa minta bantuan sama suamiku Nit? Bukankah kamu memiliki kekasih, kerja kantoran". Sahut Reina, langsung merangkul tangan suaminya.


Akhir-akhir ini,ia sangat sensitif selalu cemburuan,ngambekan. Mungkin bawaan sang bayi.


"kekasihku sibuk Rei. Gak masalah kan aku minta bantuan sama suami kamu, tenang aja aku akan memberikan upah kepada suami kamu". Kata Nita,tanpa tahu malu.


"Suamiku juga sibuk, besok". Kata Reina, tersenyum kecil.


"Sibuk apa sih? Lagian anakku minta tolong sebentar lo,masa kamu gak mau. Heran,jadi istri cemburuan". Kata bu Asmah.


"Wajarlah anakku cemburu,karena dia sayang sama suaminya". Sahut bu Hani. "Aku juga hak setuju,kalau suami ku membantu kamu".


Semua mendengar ucapan bu Hani, orang-orang cekikikan banyak mendukung ucapan bu Hani.


"Ayo,bang. Kita pulang,". Rengeknya Reina. Ujang, langsung menuruti kemauan istrinya.


"Mas,pelis.... bantuin aku yah,cuman kamu punya mobil di sini". Kata Nita,lagi.


"Tuh,ayahmu punya mobil. Pak kades juga,rumah di sebelah ku juga ada. Kenapa gak merentalkan mobil mereka saja,atau mau merentalkan mobil kami" jawab Reina,kepada Nita.


"Apaan sih, Rei. Aku ngomong sama suamimu,kenapa kamu yang jawab ". Ketus Nita.


Nita, langsung berdecak kesal. Wajahnya seketika cemberut, mendengar penolakan Ujang lagi.


"kamu kok gitu Jang,sama kami. gak mau bantu kami". kata bu Asmah.


"Ehh....bu Asmah, wajarlah orang gak mau. malah di paksa-paksa". sahut ibu lainnya.


"ayo,nak. kita pulang,gak usah di landeni". kata bu Hani,kepada menantunya dan anaknya.


*****


Bulan telah berlalu,tiba saatnya Reina melahirkan anak pertamanya.


"Owekkk...owekkk.....".


Tangisan bayi,yang baru lahir. Ada air mata luruh,di kedua mata Reina. Begitu besar perjuangan saat melahirkan anaknya,hanya mengikuti aba-aba dari bidan.


Ia baru saja melahirkan anak pertamanya dan di dampingi suaminya.


"Alhamdulillah, semuanya sehat". Kata bidan tersebut.


"Terimakasih banyak,sayang. Kamu sudah melahirkan anak pertama kita,jenis kelaminnya laki-laki sayang". Ujang, mengecup kening istrinya.


Hari ini di antara keluarga masing-masing, sudah mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah terjadi.


"Masya Allah, gantengnya cucu ibu,". Bu Hani, langsung menggendong cucunya. Yang selama ini di idamkan semua keluarga.


"Terimakasih nak, sudah melahirkan cucu bapak". Kata pak Rokim, menghapus air matanya. Karena sangat bahagia, melihat cucunya yang baru lahir. "Coba saja ada ibumu Jang,pasti ibumu sangat bahagia menggendong cucunya".


"Sabar pak,". Pak Hamid, menepuk pundak sang besan. "Makasih nak,sudah melahirkan cucu bapak". Kata sang ayah,kepada Reina.


Reina, tersenyum bahagia melihat anaknya jadi rebutan orang tuanya.


******


Karena kondisi Reina dan anaknya sehat-sehat. Bidan langsung memperbolehkan Reina,di bawa pulang.


Sesampai di rumah,sudah banyak orang-orang tengah menyambut kedatangan mereka.


Mereka, ingin sekali melihat cucu bu Hani.


Anaknya Reina, langsung di rebahkan tubuhnya di sebuah kasur kecil dan memakai kelambu agar nyamuk gak mengigit.


Orang-orang sekitar berdatangan melihat wajah anak Reina, langsung.


"Masya Allah, gantengnya cucu bu Hani. Gemes banget". Kata ibu-ibu lainnya.


"Boleh gendong anaknya gak". Kata bu Asmah, langsung.


"Jangan bu, kita lihat aja. Jangan di pegang,masih rentang lo". Tegur salah ibu-ibu lainnya.


"Alahhhh,itu cuman mitos doang". Jawab bu Asmah.


"Jangan lah,bu. Lihat aja, nantinya gendongnya kalau sudah besar". Sahut ibu lainnya. banyak lagi cibiran dari ibu-ibu lainnya.


Dengan hati kesal. Bu Asmah, langsung keluar rumah dan meninggalkan kediaman bu Hani. telinganya sangat panas, saat ibu-ibu lainnya melarang menggendong anak Reina.


Malam hari tiba. Ujang, tengah menggendong anaknya saat Reina sedang makan.


"Dek, ASI mu lancar kan? Kalau gak lancar, ganti saja pakai susu formula gak papa". Kata Ujang


"Alhamdulillah,bang. ASI,aku lancar". Jawab Reina,ia tersenyum dan mendekati suaminya.


Ujang, dengan hati-hatinya meletakkan anaknya di atas kasur yang sudah tertidur pulas.


Ia langsung mendekati Reina dan memeluknya dengan erat. Ia mencium seluruh wajah sang istri,dan melu-mat habis bibirnya.


"Makasih dek,sudah melengkapi hidup abang". Ia langsung mencium bibir istrinya kembali.


"Bang, tajam dulu. Aku masih nifas,". Kata Reina, tersenyum manis.


Ujang, langsung mengusap wajah. Kenapa ia benar-benar lupa,jika sang istri masih dalam nifas. Ia harus berpuasa terlebih dahulu.


Namun ia sangat bahagia saat ini, keluarga kecilnya sudah lengkap dengan buah hati yang begitu menggemaskan. Begitu juga Reina,ia sangat bersyukur atas kehidupannya jauh lebih baik. Apa lagi sudah menjadi seorang ibu,ia tersenyum kecil saat melihat anaknya tengah tertidur pulas .