I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Jalan-jalan



Selesai sarapan pagi. Ujang,sudah bersiap-siap mengajak istrinya jalan-jalan ke mall.


"Dek,abang mau ke rumah pak kades dulu. Mau pinjam mobil". Kata Ujang.


"Haa..? Kalau berangkat pakai pick up saja gak papa bang,". Kata Reina.


"Ehhh...kita mau ke kota dek,bukan ngantar sapi. Masa bawa istri,pakai mobil pick up sih. Kamu tunggu yah,". Ujang mencium kening Reina.


"Aku ikut bang,biar langsung berangkat kitanya". Kata Reina, langsung di angguk oleh Ujang.


Ujang, bersyukur memiliki istri yang tak mengeluh apapun. Mereka langsung keluar dan menuju mobil pick up dan langsung ke rumah pak kades.


Di balik tirai seseorang tengah mengintip kepergian Reina dan Ujang. siapa lagi kalau bukan, Halimah. hatinya memanas melihat ke romantisan merek berdua, seandainya dia di posisi Reina. betapa bahagianya hidup Halimah, tapi sayang karena keegoisan orang tuanya. akhirnya pupus sudah bersama Ujang,memang dulu ia tak menyukai Ujang. sebelum tahu jika Ujang,orang kaya memiliki beberapa ratus sapi dan berapaa hektar kebun sawit. yang dia tahu,hanya ustadz Zaki,lah yang paling kaya. Halimah,hanya menghela nafasnya dengan berat.


****


Memerlukan satu jam, lebih. Akhirnya mereka sampai juga di sebuah Mall, terbesar di kota ini.


"Belilah lah dek, yang mana kamu suka" kata Ujang,saat sang istri melihat beberapa pakaian.


Reina, mengajak suaminya keliling mall. Pada akhirnya mereka membeli beberapa cemilan di Hypermart,bukan beli pakai,tas atau sendal dan sepatu.


"Enak lo bang,ini" kata Reina, memperlihatkan botol minuman yogurt.


"Ambil banyak dek,kalau kamu suka". Kata Ujang,ia memilih beberapa botol fanta dan sprite.


Beberapa sayur seperti jamur kimchi dan lainnya,yang tak pernah ada di pasar.


Satu keranjang penuh mereka belanja, hampir berjuta-juta saat Ujang membayar di kasir.


"Dek,gak mau beli pakaian,tas atau lainnya". Tanya Ujang,ia melihat keranjang hanya penuh dengan makanan.


"beli di shope aja bang,murah. Tinggal transfer uangnya ke shopepay aku aja". Kedip mata Reina.


Ujang,hanya mengangguk pelan saja.


Semua barang-barang sudah di letakkan ke jok belakang mobil.


*******


Sesampai di rumah. Ujang, langsung membawa barang-barang masuk ke dalam rumah.


Mata paman,bibi dan Halimah.mereka menatap intens kepada Ujang dan Reina. Betapa banyak sekali mereka berbelanja, mereka yakin. Ujang,susab menghabiskan banyak uang demi sang istri


Reina,juga membantu sang suami membawa barang masuk ke dalam rumah.


Reina, tersenyum kecil saat mata halimah menatapnya. Ada tatapan tak suka satu sama lain. sudah pasti Halimah, nampak tak suka kepada Reina. karena dia sudah merebut hatinya Ujang,coba saja jika tak ada Reina. mungkin dia bisa bersama Ujang.


Tentu saja Halimah,iri kepada Reina. Yang selalu di manja Ujang,ia benar-benar menyesal sudah pernah menyia-nyiakan kesempatan bersama Ujang dulu.


"paman, ingin berbicara padamu". Kata sang paman. Menghampiri Ujang,saat ia mau masuk ke dalam rumah.


"Bicaralah paman,". Kata Ujang. Ck, pasti ada maunya.


"Hemmm.... maafkan sikap paman,yang sudah terbawa emosi waktu itu". Lirih sang paman. kalau tidak ada sesuatu,maba mungkin aku meminta maaf dan merendahkan harga diriku.


"Hemmm...aku maafkan paman, tapi satu hal. Mungkin sifat ku juga berubah, karena paman. Sudah mengecewakan diriku ". Tegas Ujang, langsung.


"Baiklah nak,paman sangat mengerti apa perkataan mu. Paman,senang kamu sudah menikah. Selamat nak". Paman, langsung menepuk pundak Ujang.


"Selamat atas pernikahan Kalian,nak. Maaf,kami tidak datang waktu akad nikahmu". Kata bibi,ia tersenyum kecil.


"terimakasih paman dan bibi,aku masuk dulu". Ujang, langsung masuk ke dalam rumah. Ujang, sangat tak suka berbasa-basi kepada orang yang pernah mengecewakan dirinya.


"Tidak ada apa-apa sayang,". Jawab Ujang, tersenyum merekah. ia langsung menggendong istrinya dan masuk ke dalam kamar, tentu saja mereka melakukan olahraga siang.


******


"Bagaimana pak,apa mas Ujang memaafkan kita,". Tanya halimah, kepada orangtuanya.


"Hemmm....tapi bapak yakin,dia memang memaafkan kita. Tapi sifatnya juga berubah,tidak seperti dulu". Kata sang ayah.


"Gimana dong,pak. Kita harus secepatnya mencari uang,jika tidak empang kita"


"Sudahlah bu, jangan membahas tentang ini. Kepala bapak, sedang pusing. Intinya kita harus mengambil hatinya nak Ujang,lagi. Biar kita dapat uang pinjaman yang banyak, pasti nak Ujang. Mau membantu kita,ini semua gara-gara kamu percaya sama saudara jelas-jelas mereka menipu ". Gerutu sang suami.


"Kok bapak,jadi nyalahin aku. Inikan demi masa depan kita,siapa tahu investasi dengan saudara ku bisa bertambah besar kita dapat uang".


"Sangat besar bu, sampai-sampai kehabisan modal". Bentak sang suami.


"Bapak,ibu....kenapa kalian bertengkar sih,makanya kalau ngomong di jaga pak. Asal-asalan ngatain mas Ujang,kalau seperti ini. Kita juga yang repotnya,coba aja kita baik-baik dengan mas Ujang. Kita juga bisa minta modal usaha lagi". Decak Halimah.


"intinya kita harus mengambil hatinya nak Ujang,lagi. Terserah kalian apakan,".


Halimah,hanya melirik ke arah ibunya. Sang ibu, langsung mengangguk pelan.


******


Pagi harinya. Ujang dan Reina, bersiap-siap untuk pulang ke kampung sebelah.


Reina, selalu merengek untuk pulang. Katanya rindu kiosnya dan orang tuanya.


"lo, Kalian mau pulang,". Tanya sang bibi.


"Iya,bi. Banyak kerjaan yang harus,di kerjakan. Makanya mau pulang" jawab Ujang, dengan santai.


Sial,kalau pulang. Bagaimana mengambil hatinya,bisa berabe nantinya. "Kenapa gak nanti-nanti aja, pulangnya. Kita belum makan-makan bersama gitu" ajak sang bibi.


Ujang, langsung mengerutkan keningnya. "Maaf,bi. Kami harus pulang,lagian di sini kerjaan sudah selesai".


"Kapan-kapan saja yah,bi". Sahut Reina, tersenyum manis.


Halimah, seakan-akan tidak terima atas kepulangan Ujang.


"Besok saja pulangnya,padahal bibi mau ajak masak-masak bersama dan makan bersama juga" sang bibi, mencoba membujuk mereka.


"Terimakasih,bi. Kami pergi dulu, assalamualaikum". Pamit Ujang, langsung naik ke mobil pick up.


"Mas,tidak bisakah di tunda dulu". Pinta halimah, kepada Ujang.


"Makasih banyak, Halimah. Maaf,kami buru-buru". Ujang, langsung meninggalkan perkarangan rumahnya.


Halimah dan ibunya, menatap kepergian Ujang.


"Gimana dong,bu. Kita tidak ada kesempatan lagi, pasti bapak marah". Gerutu Halimah.


"Yah...gimana lagi Halimah,sudah jalannya". Jawab sang ibu.


sedangkan Ujang dan Reina, menikmati perjalanan pulangnya.


"aku yakin mereka ada tipu muslihat,kenapa tiba-tiba meminta maaf bang". kata Reina, membuka suara.


"palingan mau minta bantuan,biasa uang dek". jawab Ujang.


"gak tau malu,banget. kemarin sok-sokan, sekarang ngemis-ngemis.Basiiii....". gerutu Reina. ia melirik ke arah Suaminya dan tersenyum kecil.