I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Kafe



Sudah dua hari Reina,menganggur di rumah orangtuanya. Ia juga ingin istirahat dulu, walaupun orang tuanya tak masalah jika anaknya tidak bekerja lagi.


Sore hari Reina, mencoba nongrong di kafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


Sesampai di kafe,dia memesan beberapa menu terlihat enak.


Ting....


Sebuah pesan masuk di ponselnya.


[Sayang,kamu dimana? Kenapa Wa ku kamu blok,aku juga ketempat kenapa sepi].


Walaupun tidak tahu siapa yang mengirim,tapi bisa di tebak Reina. Siapa lagi kalau bukan mantan kekasihnya Zakir.


"Rese banget sih,ni orang,". Ia langsung memblokir nomor tersebut.


"Rese?rese dengan siapa dek,". Ucap Ujang,yang baru datang.


Deggg.....


Ada rasa gugup dan tak campur aduk saat mendengar suara. "Ehh...abang,hemm biasa seseorang,". Kekeh Reina. Ia tersenyum kikuk.


"tumben kamu nongrong dek? Kapan pulang,abang sampai gak tau,". Tanya Ujang.


Reina, membenarkan rambutnya. "Hemm.. dua hari yang lalu bang,baru sekarang sih keluar rumah,". Senyum manis terpampang di wajah Reina.


"Oh,kapan lagi ke kota? Sebenarnya abang,ada niatan jalan-jalan langsung ada yang di cari,".


"Gak ada rencana kekota bang, soalnya gak kerja lagi. Mau cari kerjaan di sini,tapi mau istirahat beberapa hari lagi," jawab Reina.


"Baguslah kalau kamu gak kerja jauh-jauh,kasian bapak dama ibumu. Apa sudah dapat kerjaan,".


Duh... meleleh hati adek, bang. Senyum gingsulnya,bisa gak di simpan dulu, batin Reina. Ia mencoba mengalihkan pandangan dari Ujang. "Belum bang,jadi pengen cari kerjaan cepat-cepat. Kuping aku mau budek dengarin ocehan ibu yang pengen cucu,". Gerutu Reina. Astagfirullah,apa yang aku ucapkan. Jangan sampai ini di kira bang Ujang,kode keras.


"Ehh... emang adek,mau cepat-cepat nikah,". Tanya Ujang,yang sumringah.


"Kalau jodoh bang, tapi untuk saat ini gak ada yang di ajakin nikah. Pacar aja gak punya,masa minta sama suami orang,". Canda Reina. Astagfirullah,jangan sampai di kira bang Ujang. Aku bakalan jadi calon pelakor.


"Jadi kalau ada yang ngelamar adek? Bakalan di terima nih,sudah siap jadi seorang istri,". Tanya Ujang,lagi.


Lah,kenapa di tanya-tanya mulu nih, jangan-jangan benar. Kalau bang Ujang,aku sudah kebelet nikah. Gara-gara ibu nih,mau minta cucu,batin Reina. "Insyaallah,siap bang. Kalau ada yang datang lamar,tapi liat-liat dulu kok,". Senyum kecil Reina.


"ciyeehh...adek kebelet nikah,". Ledek Ujang,ia tersenyum-senyum.


Nah,kan. Sudah aku duga, bang Ujang. Akan mengira aku kebelet nikah, batin Reina. "Yah,bukan kebelet nikah bang. Tapi kalau jodoh sudah sampai,kita gak bisa berbuat apa-apa,". Jawab santai Reina.


"Semoga secepatnya dapat jodoh dek,abang doain deh. Abang,ke sana dulu yah. Biasa ngumpul sama teman-teman,". Pamit Ujang, kepada Reina.


Reina, langsung mengangguk kepala. Seolah dia merasa minder kepada Ujang, buktinya di kode keras tapi Ujang,malah pergi meninggalkan Reina.


Ada rasa kecewa di hati Reina,apa dia sudah jatuh cinta dengan Ujang.


Saat Reina, meneguk minuman terasa sakit di tenggorokan.


Pede banget kamu Rei,dia aja mana mungkin suka sama kamu,batin Ayunda. Ia menghela nafasnya dengan berat.


"Reina,". Seseorang memanggil namanya dan membuyarkan lamunannya.


"Dewa,". Gumam Reina,namun masih terdengar oleh Dewa.


"Ketemu lagi kita,kapan ke kota nih? Siapa tau bisa bareng,". Dewa, langsung duduk di dekat Reina.


"Tumben,biasanya ciri-ciri orang berhenti kerja. Berarti dia pengen nikah,nih. Jangan-jangan sudah kebelet nih,". Kekeh Dewa.


"Soal itu, pengen. Tapi jodoh belum ketemu Wa,apa lagi ibuku selalu nyindir-nyindir kalau anak temannya sudah memiliki menantu sama cucu. Kan aku kesal jadinya,". Jawab Reina,ia tersenyum kecil.


"Hmppttt... jangankan kamu Reina,aku juga begitu. Aku selalu di banding-bandingkan sama anak tetangga,yang sudah memiliki beberapa anak. Gimana kalau kita langsung cuss....ke KUA,". Senyum semerik Dewa.


Namun semua pembicaraan mereka masih terdengar oleh Ujang, hatinya memanas saat pria itu langsung berbicara tentang menikah. Sesekali dia melirik ke Reina,ia juga tersenyum-senyum.


"ngaurr....aku tau seperti apa kamu,kamu itu playboy,". Bisik Reina.


Namun Dewa, langsung cengengesan mendengar ucapan dari Reina.


Bagi Ujang,ia mengira jika Reina. Menerima penawaran teman prianya. Ada kepalan tangan di bawah meja.


Dewa,juga memesan minuman dan mengobrol berdua dengan Reina. Tentunya hati Ujang,ia tak terima.


Dering....


Ponsel Reina, berbunyi. Terpampang nomor tak dikenal. Reina, langsung mematikan telpon tersebut.


"Ciyeehh...dari siapa? Apa dari gebetan,". Cengar-cengir Dewa.


"Bukan,tapi dari mantan,". Jawab Reina. "Kita foto bareng yuk,agar mantanku itu gak ganggu lagi,". Pinta Reina.


"dengan senang hati,". Senyum merekah Dewa.


Braakkkk.....


Reina dan yang lainnya terkejut mendengar suara, seperti seseorang menggebrak meja.


"Lah,kamu kenapa Jang. Main gebrak meja segala,". Tegur teman-temannya,yang terkejut


Reina, juga menoleh ke arah Ujang dan teman-temannya.


"Ma-maaf,maaf. Tadi ada sesuatu yang berjalan di kakiku,jadi ripleks,". Alibi Ujang,ia tersenyum malu-malu.


"Huuu.... kami hampir saja jantungan Jang,". Keluh salah satu temannya.


Ujang,hanya tersenyum kecil ke arah Reina. Namun tidak ada balasan dari Reina.


"Aku pamit pulang, dulu,". Ucap Reina,ia langsung berdiri. Namun Dewa, mencekal lengannya.


"Maaf,aku ripleks Rei. Hemmm...apa perlu aku antar,". Dewa, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ahhh...tidak perlu Wa,aku bawa motor sendiri,". Tolak Reina.


"Hemmm...yah, sampai ketemu lagi. Aku boleh minta nomor WhatsApp mu,". Pinta Dewa. Ia siap dengan ketikan ponsel di tangannya.


"Boleh, dong. Biar kita bisa kirim pesan,". Ucap Reina,ia langsung menyebutkan nomernya berapa. selesai memberikan nomor WhatsAppnya. mereka berdua langsung meninggalkan kafe dan pulang masing-masing. mereka saling berpisah karena berbeda arah


Ujang,hanya mengusap wajahnya dengan kasar. apa yang di lakukan dengan perasaannya saat ini, tiba-tiba dia merasa tak rela. jika Reina,bersama pria lain. dari tadi terlihat jelas di wajah Ujang,ia seperti gelisah tak menentu.


"Kamu kenapa Jang,dari tadi kaya gelisah. Aku liat-liat kamu,sering liatin perempuan tadi,". Tanya salah satu temannya,ia merasa aneh kepada Ujang. tak seperti biasanya.


"Bukan urusanmu," ketus Ujang,ia langsung meninggalkan teman-temannya. perasaannya malam ini tak mood.


"Lah,sensi amat kamu Jang. Lagi pms,". Teriak temannya


Namun ia tak menghiraukan teriakkan temannya. Ia langsung ke parkiran dan menancapkan gas motornya, langsung ke arah rumah Reina.Namun ia langsung urungkan niatnya,ada rasa kecewa dengan Reina.