I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Waras Harus Mengalah



Pagi harinya. Ujang, sedang mengisi minyak.ia membeli di tempat sang kekasih, benar saja ada tiga ekor sapi lumayan besar.


"Besar banget sapinya, lumayan nih uangnya". Kekeh Reina,ia masih menatap sapi-sapi di atas pick up terikat kuat.


"Hemmm... lumayan lah dek,mau uangnya". Delik mata Ujang.


"Haa...? Apa-apaan sih,bang. Aku bukan perempuan matre lah, tapi kalau di kasih aku terima kok". Senyum sumringah Reina.


Membuat Ujang, cengengesan mendengar ucapan dari Reina. "Uangnya buat mahar adek". Bisik Ujang,di telinga Reina.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi mulusnya Reina.


"Abang, nanti ada yang lihat". Reina, langsung mencubit lengan Ujang.


"Gak ada yang lihat,dek. Mau lagi, mumpung sepi". Kedip mata Ujang.


"Gak bang,aneh aja". Gerutu Reina,namun di hatinya begitu senang.


"Ingat pesan abang,jangan macam-macam. Apa lagi Abang,jauh". Ancam Ujang.


"Iya bang, kalau gak hilaf". Lirih pelannya. "Hehehe, bercanda bang,canda".


"Kalau berani macam-macam. Abang,akan memberikan kamu hukuman. Abang, berangkat dulu sayang. Tunggu Abang,pulang ya". Pamit Ujang,ia langsung masuk ke dalam mobil pick upnya.


Reina, hanya mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati bang,". Ia melambaikan tangannya. Reina,hanya menatap kepergian Ujang.


"Reinaaaa". Ucap seseorang di belakangnya.


"Yunita,kenapa teriak-teriak. Mau beli apa hemmm". Tanya Reina,ia langsung menghampiri Yunita.


"Kamu ada hubungan apa dengan Ujang,aku liat lo. Kalian itu akrab banget,kaya mesra". Delik mata Yunita.


Fiiiuuhh.... untung dia gak lihat, waktu Ujang menciumiku. "Emangnya kenapa, terserah kamu toh. Apa hubungannya kami,kepo banget sih". Sinis Reina.


"ingat yah, Rei. Ujang,itu milikku. Jangan pernah kamu merebut dia dariku, paham kamu". Yunita, sedikit mendorong bahu Reina.


"Apaan sih,gak usah dorong-dorongan juga kali. Jangan ngaku-ngaku sebagai milikmu Yun,belum tentu Ujang mau sama kamu". Sinis Reina,ia tersenyum kecil.


"Tentulah dia mau,aku ini cantik. Kerjaannya juga ada,anak satu. Gak kaya kamu,hanya memiliki kios dan warung ini doang. Yang hasilnya gak seberapa,aku sudah terbukti kalau bisa memberikan keturunan. Gak kaya kamu masih ragu". Decak Yunita,ia menatap tajam ke arah Reina.


"hemmm... terserah apa katamu Yun. Yang waras mengalah". Reina, sangat muak meladeni Janda anak satu ini.


"Jaga omongan kamu Rei,kamu ngatain aku ha". Bentak Yunita.


"Gak,kalau ngerasa. Juga gak papa". Senyum semerik Reina.


"Ngomong-ngomong kamu kayanya, setiap hari santai. Aku punya tawaran untuk mu,mau gak jagain anakku saat aku bekerja. Nanti aku bayar deh,lima ratus ribu satu bulannya. Lumayan lah, buat tambah-tambah modal warung mu ini". Ucap Yunita,tanpa malu-malu.


Apa? Jagain anak dia,idihhh.... amit-amit. "Sorry,gak butuh uang darimu. Ogah, jagain anakmu. Asalkan kamu tau,aku sangat membenci anakkmu itu Yunita. Dia sudah mengambil boneka kesayanganku". Tolak mentah-mentah oleh Reina.


"Kalau gak mau,gak usah sewot juga. Lagian banyak kok yang lain". Ujar Yunita,ia langsung meninggalkan Reina.


******


Selesai mengantar pesanan sapi orang. Ujang, langsung pulang kerumahnya.


Ia juga memiliki rumah di kampung sebelah,cukup besar rumahnya. Terlihat berdebu karena jarang di tempati,jika Ujang hanya ada.


Saat sampai di sana. Ujang,di sambut hangat oleh keluarganya paman dan bibinya. Beserta anaknya bernama Halimah dan tetangganya, Ujang sudah terkenal dengan kebaikannya.


"Bagaimana kabarmu,nak? Lama sekali baru main kesini". Ucap sang paman,ia menepuk pundak Ujang.


"Masuklah dulu,di rumah kami. Makan bersama dulu,lama kita tak bertemu". Ajak bibinya.


"Oke,bi. Apa pagi Ujang,sudah lama tidak mencicipi masakan bibi". Jawab Ujang,ia menggiring paman dan bibinya masuk.


Mendengar pernyataan Ujang, tentunya hati Halimah. Saat ini sedang bahagia,ia juga sangat merindukan Ujang. "Alhamdulillah,mas. Masih mengajar, bagaimana kabarmu mas".


"Alhamdulillah,baik dek". Senyum merekah Ujang.


Paman dan bibinya, tersenyum saat mendengar perbincangan mereka .


"Wahhh...ikan nila bakar,apa sepesial untuk ku bi". Tanya Ujang,ia sudah duduk di kursi.


"Alhamdulillah, setelah mendengar kalau kamu ke sini. Pamanmu, langsung menangkap ikan di empang". Jawab sang bibi.


"Bagaimana empang, paman? Apa sudah panen ".


"Alhamdulillah,sudah panen beberapa kali nak. Makasih,atas modal yang kamu berikan. Sedikit demi sedikit,paman akan cicil".


"Alhamdulillah, baguslah kalau usaha paman berhasil. Aku jadi senang mendengarnya paman".


Kini piring di atas meja. Sudah di taruh nasih,oleh Halimah. Kalau Reina,tau. Bisa-bisa aku langsung di putusi, gerutu Ujang. "Makasih dek,padahal gak perlu sampai begini. Aku bisa mengambil sendiri".


"Alahhh....gak papa Jang, sekali-kali lah. Lagian ini gak merepotkan Halimah". Sahut bibinya.


"Iya,mas. Aku senang,kok. Kalau melayani mas,". Senyum manisnya Halima, terpampang di wajahnya.


Ujang,merasa tidak enak hati. Ada hati yang ia jaga,namun tak enak juga dengan paman dan bibinya.


Selesai makan bersama. Ujang, memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Walaupun bersebelahan dengan paman dan bibinya. Ia langsung mengambil handuk,ingin cepat-cepat mandi karena gerah.


Hanya beberapa menit kemudian. Ia sudah menyelesaikan acara mandinya, cepat-cepat ia mengambil ponsel langsung mengirim pesan kepada Reina.


[Abang,kangen dek. Gak kuat jauh-jauh dari adek]


Ujang, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa menit kemudian,tidak ada balasan dari sang kekasih.


Ia semakin gelisah tapi tetap berpikir positif."Ahhh... mungkin dia sibuk". Gumam Ujang,ia masih menatap layar ponselnya.


"Mas,Massss". Teriak seseorang di luar rumah,siapa lagi kalau bukan Halimah. Dia adalah perempuan masih muda, menggunakan Hijab panjang dan gamis syar'i melekat pada tubuhnya.


Sebelum mengenal Reina. Ujang, sempat menaruh hati kepada Halimah. Karena dia adalah perempuan idaman,bagu kaum pria.


Mendengar panggilan dari luar rumahnya. Ujang, langsung bergegas bangkit dari ranjang dan membuka pintu kamar lalu menuju arah luar rumah.


"Ada apa dek". Tanya Ujang,ia tersenyum kecil.


"Ini mas, pisang goreng bukankah? Ini kesukaannya mas,". Halimah, menyodorkan piring di tangannya.


"Makasih banyak,dek. Malah ngerepotin kamu". Ujang, langsung menyambut piring tersebut. Ia meletakkan di meja luar.


"Gak papa kok,mas. Mas Ujang, bakalan tinggal di sinikan". Tanya Halimah,ia sangat berharap jika Ujang akan tinggal di sini lagi.


"Gak,dek. Cuman beberapa hari di sini, nanti pulang kesana lagi. Sayang,kebun sama peternakan ku". Alibinya Ujang,padahal ia tak mau jauh-jauh dari Reina.


"Oh,". Gumam Halimah,ia menatap lekat ke arah Ujang.


Ting ....


Pesan masuk di ponselnya Ujang. Baru saja ada balasan dari sang kekasih.


[Maaf,baru balas bang. Tadi habis mandi,terus bantuin ibu masak]


Ada senyuman manis di bibir ujang. Membuat hati Halimah, gelisah. Ia sangat penasaran pesan dari siapa.


"Senyum-senyum sendiri, pesan dari siapa bang" senyum kecil Halimah.


"Ehhh...ada deh". Jawab Ujang, ia senyum-senyum.


Dengan hati kesal. Halimah, seperti di cueki oleh Ujang. Ia langsung pulang ke rumah saja dengan wajah cemberut.