
"ingat yah,bu...!!! Jangan macam-macam dengan anakku,kalau tidak ibu dan Zaki. Silahkan pergi dari rumah ini,karena semua ini aku yang beli". Teriak Yunita, matanya memerah manahan emosi.
"Iya,iyah". Jawabnya bu wendah,ia tak berani melawan Yunita. Walaupun dia menantunya,tanpa Yunita. Mungkin hidupnya sudah lontang-lantung entah kemana.
Sedangkan Zakir,ia hanya memperdulikan dirinya sendiri.
"Ingat Yunita,kalau zakir sudah menikahi kekasihnya itu. Kami tidak sudi tinggal di rumah ini,lagi. Kami tidak akan mau, mengajak dirimu ini". Tegas bu wendah.
"Baguslah, kalau kalian tidak tinggal diam di sini. Berarti bebanku berkurang,aku harap kalian jangan lagi menemui aku di sini". Senyum semerik Yunita. "Ck,apa lagi suatu hari nanti. Aku menikah dengan Ujang, tentunya hidupku bakalan enak".
"Hahahaha.....kamu ngaca Yunita,kamu itu janda anak satu. Sok-sokan pengen jadi istrinya Ujang, kerjaan gak jelas". Decak bu wendah.
"Ayo,Aira. Kita masuk kekamar,ibu belikan kamu ayam goreng spesial kesukaan kamu. Kita makan di dalam kamar,kita habiskan ". Senyum semerik Yunita,ia melirik sekilas ke arah mertuanya.
"Beneran bu, tapi jangan di ajak nenek yah. Nanti ayam gorengnya habis". Rengeknya Aira, langsung saja sang ibu mengangguk kepala.
"jangan jadi kurang ajar kamu, Yunita". Jangan durhaka dengan ku,mana punya ibu". Bu wendah, mengedor pintu kamar Yunita.
Yunita terbilang wanita pelit. Sedangkan bu wendah, begitu kesal kepada menantunya ini.
Yunita dan Aira, langsung melahap ayam goreng spesial. Tanpa menghiraukan panggilan dari mertuanya di luar kamar.
Yunita dan anaknya cekikikan tertawa. "Makanya,nek. Jangan marahin Aira,emang enak gak di kasih ". Teriak Aira,dari dalam.
Beberapa saat kemudian. Yunita, keluar dari kamar. Terlihat jelas tatapan sang mertua begitu marah.
"Dasar menantu pelit kamu Yunita". Decak bu wendah.
"Kalau sudah tau,terus kenapa bu? Mau minggat, silahkan. Malahan aku senang lagi". Senyum merekah Yunita.
"Awas kamu Yunita,jangan sampai kamu bermohon-mohon jika kami nanti hidup enak". Tantang bu wendah.
"Hemmm... terserah apa kata ibu". Jawab santai Yunita.
"Bu, enak banget ayam goreng spesialnya. Kapan-kapan beli lagi yah, bakalan banyak terus Aira makannya". Senyum merekah Aira. "Kasian banget,nenek jahat sih. Makanya gak di kasih,bleee...,".
Aira, menjulurkan lidahnya.ia mengejek neneknya sendiri.
Kurang ajar, menantu dan cucu sama saja bikin naik darah. Gerutu bu wendah.
Seperti biasanya. Yunita dan anaknya,suka jalan-jalan terutama ke rumah Ujang.
Orang-orang sekitar,sudah pasti bisik-bisik. Karena Yunita, hampir tiap hari kerumahnya Ujang. Orang mengira, mungkin mereka memiliki hubungan spesial. Namun sempat di dengar Ujang,ia membantah kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Mau apa lagi kamu dan anakmu itu kesini? Apa mau menghancurkan rumah Ujang,juga". Ucap bu Wina,ia nampak tak suka kedatangan Yunita dan anaknya.
"Jalan-jalan lah,bu. Ngomong-ngomong,ini mobil siapa? Bagus banget". Yunita, mendelik ke dalam rumah Ujang.
"Itu mobilnya bapak Ujang,kenapa? Apa anakmu mau merusak mesinnya juga". Ledek bu Wina.
"Duuuh... sampai kapanpun, Ujang mana mau sama kamu Yunita". Sahut tetangga lainnya.
"Mau atau tidak mau,itu semua bukan urusan kalian". Yunita, menyungging senyuman kecilnya.
"ada apa ini? Kok ribut-ribut". Pak Rokim, keluar dari rumah. Beliau adalah ayahnya Ujang.
Mendengar perkataan bu Wina. Pak Rokim, langsung menatap intens ke arah Yunita.
"Kamu mau deketin anak saya,jangan harap. Karena anak saya,mau melamar kekasihnya". Ucap pak Rokim, dengan tegas.
Apa..? Mas Ujang, memiliki kekasih.tapi siapa? Apa ini hanya alibi bapaknya saja. "Saya kekasihnya pak,salam kenal. Nama saya Yunita, walaupun janda anak satu. Lihatlah wajah saya,tidak kalah cantiknya dengan anak perawan,". Ujar Yunita, dengan nada lemah.
"jangan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya anak saya kamu. Janda boleh,tapi gak ke gatelan seperti ini.sudah janda tapi gak tau jaga harga diri,jadi kamu yang diceritakan anakku. Ck, jangan harap kamu akan menjadi menantu saya". Tegas pak Rokim.
"Bapak tidak berhak,atas keinginan mas Ujang. Kalau aku adalah kekasihnya dan kami akan segera menikah ". Ucap Yunita,tanpa tahu malu.
Membuat tetangga Ujang, tercengang mendengar pengakuan dari Yunita. Ibu-ibu lainnya mulai bisik-bisik tetangga. Sedangkan pak Rokim,hanya menghela nafasnya dengan berat.
"Alahh... tenang saja pak,kami tidak percaya dengan ucapan Yunita. Emang dia janda gatal,baru juga pindah. Tapi gaya sok belagu". Sahut ibu lainnya.
"Jangan harap kami percaya Yunita, sedangkan Ujang. Selalu menghindari dirimu". Ledek bu Wina "huuuu... sok-sokan ngaku jadi kekasihnya Ujang,bikin malu aja,".
"Huuuu....janda gatel....huuu". Sorak-sorai suara ibu-ibu melengking, mengejek Yunita.
"gai mau apa, ngaku-ngaku gak jelas. jangan harap kami percaya dengan omongan kamu Yunita". decak bu Wina.
"mungkin urat malunya sudah putus". timpal lainnya.
Ia begitu geram terhadap ibu-ibu lainnya,belum lagi anaknya merengek meminta pulang.
"bu,kita pulang. kita pulang,saja. ibuuu". rengeknya Aira,kepada ibunya. dengan hati dongkol, Yunita langsung meninggalkan perkarangan rumah Ujang.
Saat kepergian Yunita. Pak Rokim, langsung bergegas menuju rumah pak Hamid.
Hanya beberapa menit saja. Pak Rokim,sudah sampai di rumah teman lamanya itu.
"Assalamualaikum,". Teriak pak Rokim,ia langsung mematikan mesin motornya.
"Wa'alaikum salam,apa kabar pak Rokim". Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Bu, bikinin kopi.ada pak Rokim,ini".
"Iya,pak. Di tunggu". Jawab bu Hani, kepada suaminya.
"Kabarku baik Hamid,kabarmu gimana?mana anak gadis mu,aku pengen lihat". Kekehnya pak Rokim. "Kamu sudah taukan Ujang dan anakmu".
Mendapatkan bisikkan dari pak Rokim. Pak Hamid, langsung mengangguk pelan.
"Bagus, akhirnya kita besanan juga. Kapan nih, kira-kira untuk waktu yang pas. Aku gak sabar lagi,mau lihat anakku menikah".
"Hussssttttt.. pelan-pelan saja bicaranya,gak enak di dengar tetangga lain". Kedip mata pak Hamid.
Banyak lagi yang di bicarakan mereka. Reina,hanya mendengar cekikikan tertawa dari teras rumahnya.
Ia segera menengok siapa yang datang. Saat menengok matanya terbalalak,ia baru sadar. Jika teman sang ayah adalah ayah kandungnya Ujang.
"Astagfirullah, bapaknya bang Ujang. Huuu...apa bang Ujang,sudah cerita tentang hubungan kami. Aduuuhh....jadi malu, kalau ketemu,". Gerutu Reina,ia hanya menengok sekilas."mana dari tadi WhatsApp ku,tidak di balas bang Ujang. Apa dia sibuk? Kalau sore-sore begini pasti sibuk banget"
Reina, mondar-mandir di kiosnya bersampuk dengan warung bahan sembako miliknya.