I LOPE YOU UJANG

I LOPE YOU UJANG
Boneka



"Aku sampai-sampai tidak percaya, senekat itu dia menemui Rei. Berarti Zakir,memang ada niat yang tak baik. Aku bahkan hampir tak percaya, sampai-sampai keluarganya pindah kek kampungmu,". Ucap Amel.


Saat ini mereka tengah jalan-jalan keliling mall. "aku dengar-dengar nih, istrinya Alm. Kakak Zakir,juga ikut Mel. Mana kalah saing dengan ku,aku takutnya Ujang. Malah kecantol sama si janda itu,". Gerutu Reina.


"Kalau jodoh gak bakalan kemana lo, Rei. Kamu tenang saja,makanya minta maaf gih. Sama kang Ujang,". Kekeh Amel.


"Dia berubah Mel, dingin banget tau sama aku. Pasti dia sangat marah kepadaku,nanti sajalah,". Kata Reina,ia menghirup jus di tangannya.


Cukup lelah mereka keliling sekitar mall,sudah waktunya Reina dan Amel pulang.


******


Saat pulang kerumah. Reina,di kejutkan dengan kedatangan bu wendah. Ibu kandung Zakir, mereka baru pindah ke kampung Reina.


Hanya jarak beberapa rumah saja.


"Nak Reina,apa kabar sayang. Ibu ke sini mau silahturahmi,maaf yah. Atas sikapnya Zakir,". Senyum merekah di wajah bu wendah. Kalau dulu tau Reina,anak terbilang kaya.aku bakalan suruh zakir, menikahinya.


Gak nanya bu, ngapain juga ke sini segala, gerutu Reina. "Ahh...iya bu, namanya juga pria kadang hilaf dan kadang gitu,". Kekehnya.


"kamu ini bisa aja sih, ternyata kamu cantik orangnya.padahal ibu pengen banget ketemu kamu,tapi Zakir selalu beralasan macam-macam. Maklum ibu juga sibuk dengan cucu,". Bu wendah, langsung menarik lengan cucunya Aira. Anak Yunita.


Reina, hanya tersenyum melihat bocah di dekat ibunya Zakir. Terlihat ia sedang memegang boneka,milik Reina.


"Nek,kita pulang yuk. Pasti mamah,sudah datang,". Rengek Aira.


"Iya,sayang. Makasih banyak,bu Hani. Sudah menerima saya,untuk bertamu,". Pamit bu wendah.


"Ehh... tunggu dulu bu,maaf bonekanya,". Pinta bu Hani.


"Gak,mau. Ini bonekanya Aira,jangan di ambil,". Bentak bocah itu.


"Astagfirullah,gak boleh begitu dek. Itu boneka kakak,". Tegur Reina.


"Gak mau,ini bonekanya Aira,". Aira, langsung berlarian.


"Alah...cuman boneka doang,gak papa yah. Di kasih saja sama cucuku,lagian kamu sudah besar juga,". Sinis bu wendah.


"Bu,itu boneka miliku baru di kasih bang Ujang,". Raut Reina,memelas kepada ibunya.


"Tapi,bu..!! Itu milik anak saya,". Kata bu Hani,namun bu wendah malah ngomel-ngomel yang bukan-bukan. Sambil meninggal rumah bu Hani.


"Makanya,jangan sembarang terima tamu aja,". Tegur salah satu tetangga bu Hani.


"Yang sabar,yah nak,". Bu Hani, menenangkan anaknya.


Reina, dengan kesalnya. Ia langsung masuk ke dalam kamar.


"Astagfirullah, sekarang anakku sudah besar dan dewasa. Tapi masih kaya anak-anak,". Gumam bu Hani,ia tersenyum manis.


*****


Saat Ujang, pulang mencari rumput di kebunnya. Untuk sapi-sapi di belakang rumah,kandang begitu sangat besar tentunya sapi milik Ujang. Begitu sangat banyak.


Saat keluar dari mobil pick up nya. Ia sudah di hadang oleh Yunita, alasannya saja dia membeli pete. Padahal untuk melirik Ujang.


"Mas, seperti biasa," Yunita, memberikan uang puluh ribu kepada Ujang.


"Aku petikan dulu mba,". Ujar Ujang. Sebenernya dia sangat risih kepada Janda satu ini,hampir setiap hari membeli pete.


"jangan panggil mba, dong. Panggil Yunita,aja". Senyum merekah Yunita.


Ujang, hanya diam dan sesekali melirik ke arah Yunita. Memang dia cantik dan postur tubuhnya sangat bagus, walaupun sudah janda anak satu.


Selesai memetik pete untuk Yunita. Yunita, langsung pulang. Ia kesal karena di cueki oleh Ujang.


"Ehh..anak mamah,cantik banget bonekanya. Dapat dimana sayang,". Anaknya Yunita, menghampiri ibunya yang masih tak jauh dari rumah Ujang.


"Ini mah,aku ambil dari rumahnya kakak itu. Sudah tau di ambil Aira, terus Aira peluk-peluk. Ehh...pas Aira,mau pulang. Malah di suruh di kembalikan,yah aku gak mau,". Ucap Aira,kepada ibunya.


"Gak papa Yunita,itu kami dari rumahnya mantan kekasih Zakir,". Jawab bu wendah. "Sok-sokan mau di ambil lagi,pelit amat. Padahal sudah besar juga,".


"Oh...bagus lo, bonekanya. Biarin bu,dia gak bakalan ambil bonekanya lagi,". Yunita, langsung membawa anak dan mertuanya pulang.


Ujang, langsung mendengar ucapan mereka. Boneka itu? Iya,benar. Boneka itu pemberianku dengan Reina,sial. Di ambil oleh anaknya Yunita,ibunya saja begitu sudah pasti anaknya menurun sifat dari ibunya. Tidak tahu malu,batin Ujang.


****


"Isi berapa kak? Pulsanya,". Tanya Reina.


"Isi lima puluh ribu aja,ini nomornya. Yang cepat aku mau telpon orang penting,". Sinis Yunita, kepada Reina. "Sama paket datanya yang ini,". Tunjuk Yunita.


"Semuanya jadi sembilan puluh ribu,". Ucap Reina,namun ia belum mengisikan pulsa Yunita.


"Ngapain aku bayar, kamukan kekasihnya Zakir. Masa sama calon ipar saja perhitungan,". Ucap Yunita. "Loh, Pulsa mana? Kenapa belum masuk,". Ia menepuk meja Reina.


"Siapa sih kamu? Dengar yah,aku sama Zakir. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa, ancamkan itu,". Tegas Reina.


"Bodo amat,emang aku pikirin ha. Cepat isikan aku pulsa sama paket datanya, berikan kepadaku dan ini uangnya. Gitu aja ribet,". Decak Yunita.


Huuuu.... ekstra sabar menghadapi orang-orang seperti ini,batin Reina.


"tolong yah,kak. Ajarin juga anaknya jangan sesuka hati mengambil barang orang lain, berani-beraninya mengambil boneka kesayanganku,". Ucap Reina,saat Yunita beranjak pergi. Namun ia acuhkan saja,hanya memonyongkan bibirnya


"Ada apa nak? Tuh,wajah cemberut aja," tegur sang ibu.


"Itu bu, menantunya bu wendah. Anaknya yang kemarin mengambil bonekaku,kesal tau," sungutnya.


"Sabar,nak. Siapa tau,dapat gantinya yang jauh lebih gede,". Kekeh bu Hani, kepada anaknya.


Reina, langsung menggogoh kantong celananya dan mengambil ponsel.


ia memiliki ide,biar seseorang peka terhadapnya.


[punya anak tapi gak di ajarin sopan santun. boneka kesayanganku,diambil bocah. tapi kata ibu, ikhlaskan saja. siapa tau dapat boneka yang lebih gede]


begitu lah status WhatsApp Reina. ia cekikikan menahan tawanya.


berapa menit kemudian. Ujang,membaca status Reina. ia hanya tersenyum kecil,tak mungkin dia membelikan kepada Reina.


untuk saat ia, sengaja menghindari Reina.


"maafkan aku Rei,untuk kali ini aku sadar. aku tidak akan mengganggumu lagi,mulai besok aku akan pergi ke rumah lamaku. setidaknya aku menenangkan pikiran ku, walaupun hanya sesaat,". gumam Ujang,ia meremes benda pipih di tangannya.


Ujang,sudan menyiapkan baju-bajunya untuk di bawa. sebelum pergi,ia ingin berkumpul dulu dengan teman-temannya malam ini.