
Ting..
Sebuah pesan masuk di ponselnya Reina. Ternyata pemberitahuan kalau kartunya sudah di isikan pulsa.
Reina, nampak tak percaya melihat pulsanya yang masuk nominal lima puluh ribu.
Ting...
Bunyi pesan masuk di ponsel Reina.
[Aku sudah membelikan kamu pulsa,bisa buat daftar kouta. Cepat aku mau ada yang aku omongin] Zakir.
Reina, tersenyum getir saat membaca pesan dari kekasihnya itu.
Ia langsung mengabaikan apa permintaan Zakir.
Reina, langsung menuju ke dapur. Ingin membantu ibunya memasak.
"Buat siapa bu,". Tanya Reina,ia memegang rantang susun di atas meja makan.
"Itu buat nak Ujang. Ibu masak rendang daging sapi, kemarin nak Ujang menyembelih sapinya. Terus dagingnya di bagi-bagi,kamu tolong antarkan rantang itu ke Ujang. Sekalian kamu minta tolong petikan pete, bukankah besok kamu pulang. Pasti nak Amel, sudah menunggu petenya,". Pinta bu Hani.
Aku? Aku yang meminta ambilkan kepada bang Ujang.iiiss...ada-ada saja ibu dengan ku, gerutu Reina. "Iya,aku antarkan. Tapi kemana bu,".
"Kamu gak lupakan rumah pak Rokim,". Tanya balik bu Hani.
Reina,hanya mengangguk kepalanya seolah dia tau. Ia langsung menyambar kunci motornya dan membawa rantang.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Reina, sampai di rumah pak Rokim.
Ia juga melihat Ujang, tengah mencuci mobil miliknya. Mata Reina,tak henti-hentinya menatap tubuh indah milik Ujang. Apa lagi ia tengah menggunakan baju singlet putih dan celana pendek berwarna hitam.
Terlihat jelas bentuk tubuhnya begitu kekar,karena basah kuyup memperlihatkan postur tubuh Ujang.
Melihat kedatangan Reina. Ujang langsung mematikan kran airnya.
"Dek, Reina,". Panggil Ujang, membuyarkan lamunannya.
Gila,badan abang Ujang. Mantap betul,jadi gatal tangan pengen colek,batin Reina. Ia mendekati Ujang.
"Ini bang,rendang buatan ibu,". Reina, menyodorkan rantang. Yang langsung di ambil Ujang.
"Makasih,dek. Padahal gak usah repot-repot begini juga,jadi gak enak,". Kekeh Ujang.
Glekkk....
Susah payah Reina, meneguk saliva nya saat memandang tubuh Ujang terlalu dekat. Ia hanya senyum cengar-cengir tak karuan. "Gak papa bang. Makasih dagingnya,ini bang. Hemmm,". Reina, sebenarnya tak enak hati untuk berbicara.
"Kenapa dek? Ngomong aja,". Senyum kecil di sudut bibir Ujang.
Membuat Reina,jadi salah tingkah. "It-itu boleh minta tolong gak,ambilkan pete. Soalnya besok pagi mau pergi ke kota lagi,buat kerja,". Ucap Reina, sebenarnya ia tak enak meminta bantuan kepadanya.
"boleh dek. Ayo, kebelakang ambil petenya.kira adek,gak kemana-mana. Ehh...sudah balik kekota,betah banget di kota. Apa ada pasangannya di sana," delik mata Ujang,k samping.
Reina,masih mengikuti langkah Ujang. Walaupun dari samping, mereka menuju kebun pete tepatnya di belakang rumahnya.
"Hemmm...biasa Masalah kerja bang,". Jawab Reina, cengengesan.
"Kerja apa pasangan dek,". Tanya Ujang,lagi.
Membuat hati Reina, menjadi bimbang ia hanya tersenyum kecil.
Karena tidak ada jawaban dari Reina, membuat hati Ujang tau apa jawaban dari Reina. Mana mungkin juga Reina,tak memiliki pasangan. Ia cantik dan manis,mandiri juga. Sudah pasti pria kota mengantri untuk mendapatkan Reina.
Ujang, langsung minder karena tak pantas untuknya,dia sadar hanya orang kampung biasa
"Makasih banyak,bang. Buat teman sih,dia suka sama pete,". Kekeh Reina. "Perempuan kok bang,jomblo dia. Siapa tau abang mau kenalan,". Ucap Reina. Astaga,aku salah ngomong ini. Kenapa juga aku gak rela.
"Makasih dek. Mana mau teman adek,suka sama abang. Abang, hanya orang kampung biasa. Perempuan sekitar sini juga banyak kok,biar satu kasta,". Jawab Ujang.
Tiba-tiba saja Reina,hanya tersenyum kecut. Saat mendengar perkataan Ujang,apa lagi saat ia berkata perempuan sekitar sini. "Oh,jadi abang sudah punya pasangan,". Ke kepo an Reina, langsung bergejolak di hatinya.
Ujang, mengerut keningnya dan menatap ke arah Reina.
"Hehehehe,masih pdkt dek,". Jawab Ujang, terlihat sumringah.
"Oh, pulang dulu yah bang,". Ketus Reina,ia langsung meninggalkan Ujang terlebih dahulu.
Entah mengapa Reina, menjadi kesal kepada Ujang. Ia menancapkan gas motornya dengan kecepatan sedang.
Melihat sikap Reina. Ujang,hanya menghela nafasnya saja.
Kenapa juga aku kesal begini,kan dia bukan siapa-siapa aku,batin Reina. Bertubi-tubi ia menggerutu dirinya sendiri.
******
Reina, terpaksa sore hari ia harus pergi ke kota.
Karena sang ibu tak ingin anaknya pulang pagi,katanya masih kangen dengan anak perempuannya ini.
"Sudah lah bu,liat didepan sudah banyak ibu berikan macam-macam sayuran,". Keluh Reina.
"Gak papa,kamu simpan di lemari. Biar gak beli-beli sayur di sana,kan bisa hemat,". Jawab bu Hani.
Begitu lah ketika Reina,pulang kerumah orang tuanya.saat ingin pergi ke kota untuk bekerja, macam-macam di berikan oleh ibunya untuk di bawa. Seperti sayuran dan ikan,agar anaknya tak membeli lagi.
"Udah bu,nanti aku dikira jualan sayuran,". Sungut Reina.
"Gak papa,yang penting anak ibu sering makan sayur-sayuran,". Kekeh sang ibu."anggap saja oleh-olehnya dari ibu dengan Amel,"
Reina,hanya menahan tawanya. Amel, Memang senang di beri oleh-oleh walaupun hanya sayuran.
Ala drama-drama lah melepaskan kepergian Reina. Sebenarnya Reina,tak tega melihat sang ibu. Setiap pergi kekota untuk bekerja, selalu saja ibunya menangis.
Saat di persimpangan jalan. Ada sebuah kafe, begitu banyak anak muda. Mata Reina,tertuju kepada sesosok yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Ujang.
Begitu juga Ujang,ia tau jika Reina tengah lewat. Ia melambaikan tangannya,namun di abaikan Reina.
Entah mengapa Reina,masih kesal kepada Ujang. Apa lagi dia bersama teman-teman bercampur dengan beberapa perempuan lainnya.
"Jang,kamu melambaikan tangan siapa,". Tanya teman Ujang.
"Ahh...itu anak pak Hamid,si Reina. Dia kayanya berangkat kerja ke kota,". Jawab Ujang
"Oh..si Reina,setauku dia punya pacar deh. Tapi gak tau juga masih apa gak nya,". Timpal lainnya.
Mendengar perkataan temannya. Ujang, hanya menghela nafasnya dengan panjang. Entah mengapa? Baru beberapa kali ketemu dia langsung suka kepada Reina. Apa kah perasaan ini dia pendam saja?
di sepanjang jalan Reina,tak henti-hentinya mengingat perkataan Ujang.apa lagi tentang perempuan,ada hati yang tak ikhlas menerima perkataan Ujang.
*******
"wah.... banyak banget sayur sama ikannya,makasih oleh-oleh dari ibumu Rei,". ucap Amel,ia begitu senang melihat kedatangan Reina.
"iya,biar kita hemat. apa lagi sayur dan ikannya segar-segar begini,". ujar Reina.
"sip...sip...jadi gak sabar besok mau bakar ikan nila,mana besar lagi," kekeh Amel.
hanya perlu satu jam lebih. Reina,sudah sampai dirumah Amel.