
Getaran ponsel dari saku celana Gendis menghentikan percakapan mereka. Setelah melihat siapa yang sedang melakukan panggilan telepon, Gendis pun tersenyum.
" Assalamualaikum mas, iya nanti saya ke sana bersama ibu. Kangen dong, masa ngga kangen sih. Iya, hati-hati di jalan."
Senyum tak surut dari bibir Gendis setelah ia melakukan panggilan telepon yang berdurasi kurang dari sepuluh menit tersebut. Ia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
Yoon Gi menjadi penasaran setelah melihat Gendis tersenyum senang saat melakukan percakapan singkat lewat telepon seluler . Sebenarnya siapa yang di panggil mas? Kenapa Gendis terlihat bahagia sekali. Apa jangan-jangan gadis yang ada di sampingnya ini sudah punya kekasih? Beberapa pertanyaan bersliweran di kepala Yoon Gi. Tidak boleh ada laki-laki lain yang mencintai Gendis selain dirinya.
"Yang telepon barusan, siapa? Kamu sudah punya pacar? Sejak kapan pacaran? Hati-hati kamu! Pasti laki-laki itu manfaatin kamu," tanya Yoon Gi, ia berbalik badan dan menatap Gendis dengan penuh cinta.
Di tatap oppa dari Korea yang ganteng nya maksimal itu membuat jantung Gendis berdecak lebih kencang.
" I-tu, tadi yang telepon-" Gendis tidak jadi melanjutkan ucapannya.
" Gendis! Kau ada disini rupanya aku cari dari tadi," saut seorang gadis yang tidak lain adalah Ratih sahabat Gendis. Napasnya tersengal, karena ia berlari dari kelas menuju taman tempat Gendis sedang berduaan dengan Yoon Gi.
Ratih beda kelas dengan Gendis karena mereka mengambil jurusan yang berbeda. Saat sedang ada kelas, Ratih menerima pesan singkat dari temannya yang juga sekelas dengan Gendis. Temannya bilang kalau Gendis di bawa boyband Korea dan meninggalkan kelas begitu saja. Lalu tanpa pikir panjang Ratih keluar dari jam kelasnya dan mencari keberadaan Gendis.
Tak hanya dirinya sahabat nya yang bernama Ucok juga ikut mencari. Karena mereka sudah mengira pasti itu adalah laki-laki yang di kenal Gendis dari media sosial nya satu tahun yang lalu. Tentu saja Ratih dan Ucok harus tahu seperti apa ganteng nya oppa yang suka dengan sahabatnya tersebut.
"Kamu, habis lomba maraton ya? Menang ngga?" bukannya menjawab pertanyaan Ratih, Gendis malah bertanya balik.
"Di tanya malah balik bertanya." Keluh Ratih.
"Iya, maaf. Habisnya kamu aneh ngapain lari-lari gitu. Lagian kamu bukannya ada kelas ya?" Gendis mengerutkan alisnya. Pasti sahabatnya meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung.
"He... he.... iya, tadi izin sama dosen ke toilet." Jawab Ratih dengan senyum yang tanpa dosa.
Gendis geleng-geleng kepala. Sahabatnya selalu seperti ini. Dan sudah di pastikan Ucok juga akan ikut keluar di jam pelajaran karena dirinya.
"Dua teman kamu?" tanya Yoon Gi.
"Iya, kami sudah bersahabat lama. Ada lagi satu orang laki-laki. Tunggu saja, sebentar lagi pasti sampai sini." Ucap Gendis penuh percaya diri yang yakin kalau Ucok juga akan datang menemui dirinya.
Ratih segera duduk di bangku lain yang kosong. Napasnya masih naik turun karena ia berlari mencari ke sana kemari keberadaan Gendis.
Yoon Gi yang melihat Ratih seperti itu segera menghubungi seseorang melalui pesan singkat lewat ponselnya.
Lima menit kemudian pak Kim datang membawa sekantong plastik penuh berisi berbagai macam minuman dan jenis camilan .
"Ini, pesanan tuan," ucap Pak Kim dengan menyerahkan kantong plastik berisi camilan kepada Yoon Gi.
"Terima kasih pak Kim." Jawab Yoon Gi.
Pak Kim membungkukkan badannya lalu undur diri dari hadapan Yoon Gi. Ia tidak mau mengganggu atasannya yang sedang melepas rindu bersama gadis pujaannya. Pernah muda, jadi pak Kim sangat paham akan hal itu.
"Kasih ke teman kamu! Dia kehausan kasihan." Ujar Yoon Gi. Ia menyerahkan sebotol air mineral kepada Gendis.
Sambil tersenyum manis Gendis berkata." "Terima kasih. "
"Dan ini, buat kamu!" Yoon Gi menyerahkan sekantong plastik penuh berisi camilan dan juga beberapa minuman lainnya.
Tidak langsung menerima pemberian Yoon Gi, Gendis malah bengong dengan melihat sikap laki-laki tersebut.
Yoon Gi menyadari kalau Gendis merasa heran akan sikapnya. Lalu dengan bijak ia berkata. "Ini yang satu kantong buat kamu nanti bisa di bagi ke teman-teman kamu!"
" Oh, iya makasih."
Gendis menyerahkan satu botol minuman kepada Ratih. "Minum dulu!"
Ratih segera mengambil air mineral tersebut dan meneguknya.
Glek... glek... glek...
"Alhamdulillah, makasih ya Gendis." Ucap Ratih saat selesai minum.
Dari kejauhan seorang laki-laki hanya melihat kedua sahabat nya yang sedang tertawa bersama seorang laki-laki. Ia enggan mendekat karena ingin melihat apa yang akan mereka lakukan setelah dari taman kampus. Dia adalah Ucok sahabat Gendis dan juga Ratih. Mereka bertiga masih satu kampus tapi mengambil jurusan yang berbeda. Persahabatan mereka masih awet sampai sekarang.
Setelah berbincang cukup lama dan mengenal sosok Yoon Gi, Ratih mengambil kesimpulan kalau laki-laki yang menyukai sahabatnya tersebut adalah orang baik dan niatnya tulus ke Gendis.
Hampir dua jam mereka berbincang akhirnya Ratih dan Gendis pamit untuk pulang. Yoon Gi ingin mengantar mereka tapi di tolak Gendis dengan alasan ia membawa motor sendiri. Yoon Gi pun tidak memaksa Gendis lagi. Ia paham pasti masih butuh waktu untuk gadis itu menerima dirinya.
Di rumah Gendis.
Membalik halaman demi halaman buku yang Gendis baca tapi belum juga hafal akan materi pelajaran nya. Pikiran Gendis melayang membayangkan sosok laki-laki tampan yang menemui dirinya siang tadi. Terkejut sekaligus senang itulah yang di rasakan Gendis. Laki-laki tersebut menepati janjinya untuk datang ke Indonesia dan bertemu dirinya. Apakah ini jodoh?
Gendis menampik pikiran nya sendiri. Pasti ibu akan melarang dirinya untuk pacaran. Dan dulu ibu juga marah sekali saat melihat ia sedang melakukan panggilan video call dengan Yoon Gi.
"Kenapa aku jadi kepikiran Yoon Gi terus. Ngga cuma ganteng, dia juga baik dan perhatian. Kalau gini aku beneran jadi benci. Benar-benar cinta maksudnya." Ucap Gendis pada dirinya sendiri.
¬
Ia senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuan pertama nya bersama Yoon Gi. Tanpa dia sadari sang ibu sudah ada di belakang tempat duduknya sambil berkacak pinggang.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri kayak gitu?" tanya Ibu.
Sontak Gendis membuka matanya dan berbalik ke arah sumber suara tersebut. Dengan rasa takut ia menjawab. "Ngga ada apa-apa bu."
"Bener ngga ada apa-apa? Sampai ngga denger ibu ketuk pintu dari tadi." Tanya ibu lagi, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Gendis barusan.
Gendis terdiam sejenak sambil berpikir jawaban apa yang bisa membuat ibunya percaya. Rasanya ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang ibu.