I Found You My Girl

I Found You My Girl
Part 10



Gendis terdiam sejenak sambil berpikir jawaban apa yang bisa membuat ibunya percaya. Rasanya ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang ibu.


"Beneran ngga ada apa-apa bu." Ucap Gendis meyakinkan lagi sang ibu.


"Ya sudah kalau ngga ada apa-apa. Ibu ngga suka kamu main rahasia sama ibu ya. Lanjutkan ngerjain tugasnya, ibu keluar lagi." Ibu Gendis berjalan keluar meninggalkan kamar.


Gendis mengangguk paham. Bukan dia tidak ingin jujur pada sang ibu tapi, nanti akan marah jika ibunya mengetahui kalau dirinya bertemu dengan Yoon Gi. Dulu saja yang hanya lewat video call ibunya marah sekali apalagi kalau tahu dirinya sudah bertemu dengan Yoon Gi.


"Ya, Allah untung ibu ngga curiga. Maafin Gendis ya, sudah bohong sama ibu." Akhirnya ia bernapas lega sekaligus sedih karena sudah membohongi sang ibu.


Keesokan harinya...


Di kantin kampus seperti biasa Gendis bersama dua sahabatnya sedang makan sambil sedikit ghibah.


" Eh, itu oppa beneran suka sama kamu ya? Gila udah di bela-belain datang dari Korea ke Indonesia. Nih, ya menurut ku dia serius sama kamu. Lagian aku lihat dia juga sudah dewasa orangnya." tanya Ratih sambil menyesap minumannya.


"Entahlah, aku ngga tahu dan ngga mau mikirin hal itu. Kamu tahu bagaimana ibu kan. Bisa di gantung di pohon tauge aku kalau ketahuan pacaran sama dia." Jawab Gendis. Ia bergidik ngeri membayangkan sang ibu kalau marah.


Tidak banyak bicara atau ngomel seperti kebanyakan emak- emak lain di luar sana. Tapi ibu Gendis memilih diam tanpa kata dengan di serta sikap yang cuek. Itu justru menyiksa Gendis.


"Yang ada itu tauge udah almarhum sebelum kau di gantung. Yang lain kek di hanyut kan ke ember yang ada airnya gitu." Ujar Ratih.


"Kalian berdua ngga ada yang bener. Harusnya di tabok pelan sama beberapa lembar uang seratus ribuan lalu uang itu di kasihkan kita, baru asyik." Saut Ucok.


Mereka bertiga kompak tertawa membayangkan kalau semua hukuman yang menurut mereka enak. Kalau seperti apa yang di ucapkan Ucok, semua orang pasti memilih di marahi saja. Karena bukannya sedih saat di marahi orang tua justru, ia malah senang karena mendapat uang.


"Aku juga bingung kenapa itu Yoon Gi bisa datang ke sini. Bisa tahu alamat kampus kita, padahal nomor nya sudah ku blokir dan ku hapus." Gendis menghela napas panjang. Ia takut selama beberapa hari ke depan pasti Yoon Gi akan sering menemui dirinya.


"Tapi aku suka tipe pria kayak gitu. Dia memegang ucapannya. Kamu pernah cerita katamu dia akan ke Indonesia buat nemuin kamu kan? Akhirnya ia penuhi ucapannya itu. Sepertinya ia pria yang bertanggung jawab deh." Ratih menyimpulkan kepribadian Yoon Gi dengan sedikit cerita dari Gendis.


Ucok masih menyimak obrolan kedua perempuan yang ada di sampingnya. Dia sebagai laki-laki melihat kesungguhan Yoon Gi dalam hal ini karena dia datang dari jauh hanya untuk bertemu dengan sahabatnya Gendis. Tapi di sisi lain dia masih ragu karena mereka beda negara dan ya, tentu saja kita tidak boleh asal percaya dengan orang begitu saja.


"Menurut mu gimana Ucok?" Ratih bertanya tentang pendapat Ucok.


"Belum bisa menyimpulkan apa-apa. Harus di teliti para ahli dulu." Jawab Ucok asal.


"Sia-sia tanya sama mu ngga nemu jawaban malah bikin orang pusing. Sudah kamu diam aja!" Ujar Ratih sedikit jengkel karena tidak mendapat respon dari Ucok.


"Aku sudah diam dari tadi, kau saja yang ngajak awak bicara. Situ yang salah apa aku yang salah? Atau salahkan saja rumput di halaman yang bergoyang." Ucap Ucok yang masih membalas perkataan Ratih dengan candaan.


"Sudah, kalian ribut mulu kalau ketemu. Sampai besok juga ngga akan kelar kalian debat." Saut Gendis. Ia menghentikan perdebatan dua sahabatnya tersebut.


Dari kejauhan seorang pria sudah tersenyum senang melihat gadis pujaan nya yang sedang tertawa lepas bersama kedua sahabat nya. Dengan langkah pelan ia melewati beberapa mahasiswi yang memandang dirinya dengan tatapan kagum. Tak sedikit yang memanggil dirinya tapi ia abaikan.


Gendis menatap ke arah suara yang tidak asing untuknya.


"Kamu kenapa datang ke sini lagi?" tanya Gendis dengan perasaan terkejut.


"Karena aku rindu kamu." Jawab Yoon Gi dengan penuh percaya diri.


"Huek... huek... Belum apa-apa sudah bilang rindu. Ini oppa ngga tahu kalau berat jadi jangan mudah di ucapkan." Saut Ratih.


"Salah, yang berat itu bukan rindu berat badan kau yang naik 2kg setelah tadi pagi makan ketoprak 3piring." Lagi-lagi Ucok meledek Ratih.


"Kalian salah semua yang berat itu ongkos dari Korea ke Indonesia." Seseorang dengan logat bahasa Indonesia yang masih belum fasih ikut nimbrung obrolan mereka. Dia tidak lain adalah pak Kim asisten pribadi Yoon Gi.


Pak Kim membawa dua porsi nasi rames dan es teh manis untuk dirinya dan Yoon Gi makan siang.


"Nah, bener banget tuh pak." Ucok membenarkan ucapan pak Kim.


"Pak Kim salah, ngga ada yang berat demi cinta ku pada Gendis pak. Apapun akan aku lakukan." Yoon Gi berucap sambil menatap mata Gendis penuh cinta.


"Sudah semua ngga ada yang benar. Yang penting makan itu baru benar." Gendis menghentikan perdebatan mereka. Ia segera melahap soto yang sudah mulai dingin itu untuk menutupi rasa gugupnya.


Iya, Gendis sedikit gugup saat di pandang Yoon Gi. Ia bisa melihat ada ketulusan dari tatapan pria asal Korea tersebut. Dirinya juga senang melihat Yoon Gi yang tersenyum kepada dirinya. Tapi, ia tidak mau mengambil kesimpulan apapun. Karena dia juga tidak tahu Yoon Gi benar-benar suka dirinya atau hanya mengganggap Gendis teman.


Akhirnya mereka makan bersama dan sesekali keluar candaan dari Ucok dan pak Kim yang notabene nya mereka suka bercanda. Mereka berbagi cerita tentang negara Masing-masing. Budaya dan kebiasaan warganya.


Setelah selesai makan Yoon Gi membayar pesanan mereka.


"Wah, enak nih makanan hari ini." Celetuk Ucok.


"Iya enak karena gratisan. Coba kau yang bayarin tadi, pasti rasanya hambar." Ucap Ratih dengan nada yang mengejek.


"Sudah jangan ribut lagi! Alhamdulillah kita di traktir. Makasih ya, oppa Yoon Gi," ujar Gendis. Ia berbalik badan dan menatap wajah tampan Yoon Gi.


"Sama-sama. Kamu masih ada kelas?" Jawab Yoon Gi dan juga bertanya kepada Gendis.


"Aku sudah ngga ada kelas. Habis ini mau ke toko buku sebentar lalu pulang."


"Aku antar ya?"


Gendis mengalihkan pandangan nya ke arah Yoon Gi lagi. Lalu menjawab dengan nada lembut.