I Found You My Girl

I Found You My Girl
Part 20



"Itu dia berjalan kemari," tunjuk Yoon Gi.


"Oh, dia teman kita. Namanya Justin, satu kelas dengan Gendis." Jawab Ucok menjelaskan.


Justin yang melihat temannya, dari kejauhan ia sudah tersenyum dan melambaikan tangan .


"Tapi aku perhatikan lihatin kamu terus dari tadi. Jangan-jangan dia suka sama kamu ya?" tebak Yoon Gi dengan menatap tajam ke arah Gendis.


"Iya oppa, dia suka sama Gendis. Tapi pacar oppa ngga suka." Saut Ratih.


Yoon Gi semakin di buat terkejut oleh perkataan Ratih. Baru ia tinggal sebentar ke Korea ternyata calon istrinya sudah ada yang melirik aja. Untung dia gerak cepat dan sudah dapat restu dari ibu Gendis.


" Bukan suka seperti yang oppa pikirkan. Menurut ku, lebih ke perasaan ingin balas budi." Ujar Gendis.


"Kenapa dia mau balas budi?" Yoon Gi bertanya pada Gendis.


"Aku pernah nolongin dia gitu. Tapi aku aja lupa wajahnya, eh... ternyata dia ngga lupa sama wajahku."


"Karena kamu cantik susah buat orang lupa kalau sudah lihat wajah kamu." Puji Yoon Gi pada Gendis.


"Uhuk... keselek aku liatin kemesraan mereka. Udah yuk, kita masuk!" ajak Ratih.


Gendis dan ke tiga sahabatnya masuk bersama. Karena sebentar lagi kelas akan di mulai. Ia tidak lupa berpamitan dengan Yoon Gi setelah mengenalkan Justin. Yoon Gi juga bisa menerima penjelasan Gendis yang mengatakan Justin adalah temannya. Ya, walaupun dari pandangan Justin masih terlihat suka. Tapi dia yakin kalau perasaan Justin itu hanya bentuk ingin balas budi kepada Gendis tidak lebih.


"Selamat ya, akhirnya ibu kamu setuju dengan hubungan mu dan Yoon Gi." Ucap Salma.


"Iya makasih, tapi oppa masih harus belajar banyak soal tradisi Jawa gitu. Takutnya ibu, oppa ngga terbiasa dengan tradisi di sini."


"Tapi, ada betul nya juga ibu kamu. Antara aku yang orang Batak yang pindah ke Jawa aja udah beda tradisi padahal masih satu negara. Apalagi ini beda negara. Dia memang harus belajar tradisi kamu. Begitupun dengan kamu yang orang Jawa harus sedikit demi sedikit belajar tentang tata cara tradisi di sana. Karena pernikahan itu bukan hanya tentang kamu dan dia tapi juga menyatukan dua keluarga dan dua budaya yang berbeda. " Jelas Ucok panjang lebar.


" Ini anak tumben bijaksana bijaksini. Habis makan apa kau? Tapi aku setuju sama pendapat mu deh, " ucap Ratih penasaran karena merasa kagum dengan penjelasan Ucok.


"Ucok gitu lo, dari dulu kan emang kayak gini orangnya." Ucapnya berbangga diri.


"Nyesel aku udah muji kau. Biasanya kan juga banyak gesreknya dari pada bener nya. Toh puji dikit udah kayak gitu" Sesal Ratih.


"Udah jangan ribut ntar kalian aku nikahin juga. Kau kan cowok Ucok, harusnya jujur lah sama perasaan mu ke Ratih. Jangan di tutupi dengan kedok persahabatan. Niatnya mau bermesraan malah berantem tiap hari." Kali ini Justin ikut bersuara mengemukakan pendapat nya tentang hubungan Ratih dan Ucok.


Ratih dan Ucok seketika saling pandang. Entah apa yang di pikirkan hanya mereka yang tahu. Karena dari pandangan tersebut Menyiratkan beberapa makna.


" Benar juga apa yang di katanya Justin. Udah, pokoknya aku dukung kalian deh. Ntar kalau kalian nikah pasti rumah ramai. Karena setiap hari kalian akan berdebat terus." Gendis juga ikut berpendapat mengenai hubungan Ucok dan Ratih.


"Silahkan mimpi dulu di pagi hari bebas. Udah Aku jalan ke sana dulu ya." Ratih berpamitan kepada mereka bertiga. Karena ruang kelasnya berbeda dengan Gendis.


"Iya." Jawab mereka bertiga secara bersamaan.


Di tempat lain Yoon Gi yang baru sampai ke apartemen nya langsung menuju ke ruang kerjanya. Keluarganya masih di sini, karena rencana akan jalan-jalan dulu ke beberapa tempat di Indonesia seperti Bali dan Lombok untuk menikmati beberapa pantai indah di pulau tersebut.


"Kamu sedang apa?" tanya ibu Yoon Gi.


Anaknya dari dulu tidak berubah, selalu di manapun tak pernah meninggalkan kerjaan nya. Kadang ibunya berpikir apa Yoon Gi tidak lelah?


"Sedang baca artikel mengenai tradisi di sini Bu. Karena kalau aku tinggal di sini harus tahu apa yang menjadi tradisi di tempat ini."


"Iya, belajar lah! Ibu pikir tadi kau sedang bekerja. Ternyata kau hanya membaca artikel. Sudah, ibu mau nonton tv lagi." Ibu Yoon Gi segera beranjak dari tempat duduk nya lalu berjalan ke arah ruang keluarga untuk menonton acara talk show kesukaannya.


Yoon Gi tersenyum mendengar penuturan sang Ibu. Wanita paruh baya tersebut selalu mengkhawatirkan dirinya. Pernah gagal dalam membina rumah tangga menjadi salah satu bentuk ke khawatiran sang ibu. Maknanya sang ibu tidak ingin nanti kalau dia sudah menikah dengan Gendis harus meluangkan waktu cukup untuk istrinya jangan lebih banyak waktu di kerjaan. Itulah nasihat yang di berikan sang ibu.


"Ternyata ada banyak kebiasaan yang banyak belum aku ketahui. Seperti kalau lebaran ada acara mudik atau pulang kampung. Dan masih banyak lagi yang aku tidak tahu. Nak, ini makan kaki di lipat di atas juga ngga sopan namanya ini ya. Oke lah, aku harus ingat semua agar nanti terbiasa dengan ada di sini. " Ucap Yoon Gi lirih, yang hanya di dengar olehnya sendiri.


" Tuan masih membaca artikel itu?" tanya pak Kim yang baru saja datang membawa secangkir kopi dan beberapa camilan.


" Masih pak Kim. Aku harus mengingat semua nya agar tidak melakukan kesalahan di depan mertuaku." Jawab Yoon Gi.


"Cinta itu memang bisa mengubah segalanya ya, tuan?"


"Maksudnya pak Kim apa?" bukan menjawab Yoon Gi malah bertanya kepada pak Kim.


"Dulu gara-gara cinta tuan terpuruk Dan sekarang karena cinta juga tuan bangkit dan semangat lagi. Saya senang melihat ruang seperti ini. Tuan orang yang baik, saya berharap semoga tuan selalu di berikan kebahagiaan." Ucap pak Kim tulus.


"Aamiin , doa yang sama buat pak Kim. Terima kasih bapak sudah setiap bekerja bersama saya, dan siap siaga kapanpun saya butuhkan. Menjadi penasihat yang baik juga buat saya." Yoon Gi juga mengucap hal yang sama. Ia bersyukur memiliki asisten seperti pak Kim yang sudah setia mengabdikan dirinya kepada Yoon Gi dari lama.


" Sama-sama tuan. Silahkan di minum kopi nya tuan, biar ngga ngantuk baca artikel sebanyak itu. Takutnya nanti di depan calon mertua tuan lupa " Goda pak Kim di sertai senyum.


"Baru saja di puji bapak sudah ngejek saya. Oke bonus baak aku potong nanti, dan bapak ngga ada cuti tahun ini." Balas Yoon Gi bercanda dengan mengancam pak Kim


"Jangan dong tuan! Ngga kasian sama uang tuan yang ngga jadi keluar buat saya?" gurau pak Kim.


Yoon Gi pun hanya tersenyum.