
Yoon Gi membeli beberapa makanan khas Indonesia. Dan ternyata ia sangat menyukai makanan di sini. Seperti bakso dan nasi goreng. Ia makan dengan lahap dan Gendis sampai di buat heran olehnya. Padahal mereka tadi sudah makan di angkringan.
"Oppa makan banyak sekali, ngga kekenyangan?" tanya Gendis heran melihat nafsu makan Yoon Gi yang luar biasa tapi masih dengan tubuh yang ideal.
"Ngga lah, ini kan emang porsi makan ku segini. Kamu heran karena bentuk badanku masih tetap ideal ya?" Yoon Gi menjawab dengan santai serta kembali bertanya kepada Gendis.
"Iya, kok bisa ya oppa? Kalau aku udah jadi macam buntil deh," Gendis tertawa membayangkan sendiri karena dirinya makan banyak dan akan jadi gendut.
"Apa buntil?" tanya Yoon Gi.
"Itu makanan oppa, yang daun pepaya dalam nya ada kelapa parut yang di bumbui gitu pakai kuah santan pedas pasti oppa suka."
Yoon Gi menganggukkan kepalanya lalu ia berkata. "Besok aku akan coba beli.Sepertinya enak."
"Iya beli saja oppa pasti ketagihan ntar deh."
Puas berkeliling di alun-alun kota akhirnya mereka pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Di sepanjang perjalanan Yoon Gi gantian mengenakan berbagai makanan dan adat yang biasa di lakukan di Korea.
" Oh, iya oppa mau tanya. Aku harus mempelajari adat di sini itu seperti apa?" tanya Yoon Gi.
Karena ia merasa sudah belajar banyak hal tapi masih belum terlalu paham apa yang di maksud ibu Gendis. Bukankah, lebih baik ia menanyakan hal ini kepada Gendis langsung.
"Mungkin yang di maksud ibu adalah soal tata cara oppa. Seperti kebiasaan yang sehari-hari di lakukan di keluarga kami. Seperti kalau datang mengucap salam dan mencium tangan bapak ibu. Makan kakinya tidak boleh di angkat di lipat di atas lutut. Jangan makan sambil berdiri. Ya, itu adalah beberapa hal yang tidak boleh Gendis lakukan sehari-hari oppa. Kata ibu kurang sopan." Gendis menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Yoon Gi.
" Berarti tadi yang aku lakukan bener. Datang cium tangan dan tentu saja tak lupa bawa oleh-oleh kesukaan calon mertua. " Ucap Yoon Gi bangga karena ia sudah sedikit lebih tahu apa yang harus ia lakukan untuk menarik perhatian ibu Gendis.
"Iya, oppa hebat cepat sekali belajar dan beradaptasi dengan kebiasaan di sini." Puji Gendis yang juga bangga dengan Yoon Gi.
"Tentu saja semua yang aku lakukan tulus dan semua atas dasar cinta. Bukankah cinta itu mampu mengubah semua? Dan Cinta itu juga menerima apa adanya."
"Iya oppa, mampu mengubah semuanya. Dan cinta tidak pandang usia dan status sosial."
"Seperti kamu yang menerima kehadiran ku dan menerima ku apa adanya. Makasih ya, Gendis." Ucap Yoon Gi dengan pandangan yang menatap Gendis penuh cinta.
Seketika Gendis menundukkan kepala. Kalau di lihat pipinya pasti sudah bersemu merah karena ia menahan malu. Di puji Yoon Gi seperti itu. Sebenarnya bukan hanya Yoon Gi yang beruntung, dirinya juga lebih beruntung karena mendapatkan cinta tulus dari Yoon Gi yang rela datang jauh-jauh dari Korea dan belajar banyak hal tentang Indonesia termasuk ia pindah keyakinan demi Gendis. Karena Yoon Gi benar-benar mencintai Gendis dari hati.
"Aku juga makasih ya, oppa. Semua hal yang oppa lakukan itu sungguh membuatku terharu. Oppa pantang menyerah walaupun sudah ada penolakan dari ibu. Tapi, pada akhirnya oppa berhasil meyakinkan ibu," Ucap Gendis lirih. Cairan bening mulai menggenang di ke dua sudut mata indahnya.
" Kamu kenapa menangis? " tanya Yoon Gi heran yang melihat Gendis menghapus air matanya.
" Ngga apa-apa. Gendis bahagia bisa di cintai oppa."
Yoon Gi tersenyum senang, ternyata Gendis sangat bangga dengan dirinya. Dan ini adalah sifat dari Gendis yang ia suka. Gadis itu mempunyai hati yang tulus dan mudah tersentuh.
"Jangan nangis, dikira ibu nanti kamu aku apain lagi. Udah sampai yuk turun!" Ajak Yoon Gi.
Dengan cepat Yoon Gi mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Gendis.
Tanpa mereka sadari ibu melihat dari balik gorden. Ia melihat perlakuan Yoon Gi yang menurut ibu itu adalah bentuk ketulusan dari cinta Yoon Gi. Ia semakin yakin kalau keputusannya menerima Yoon Gi tidak salah. Terlihat jelas dari pandangan dan perlakuan pria itu kalau penuh cinta.
"Assalamualaikum bu, kami pulang." Ucap Gendis dan Yoon Gi memberi salam.
"Walaikum salam," jawab ibu yang kemudian pembukaan pintu untuk anak dan calon menantunya.
Yoon Gi dan Gendis masuk ke dalam dan duduk berdampingan.
"Oppa mau aku buatin minum?" tanya Gendis.
"Ngga usah, oppa juga ngga haus. Sebentar lagi oppa pulang." Jawab Yoon Gi.
"Oke deh kalau gitu."
"Kalian dari mana jam segini baru pulang?" Kini giliran ibu yang bertanya.
"Habis dari alun-alun dan nyobain beberapa makanan khas Indonesia bu. Maaf kalau kemalaman mengantar Gendis pulang." Jawab Yoon Gi yang tidak enak hati mengantar Gendis terlalu malam.
"Oh, habis dari kulineran kalian ya. Suka makanan di sini? Mau tinggal di sini ngga nanti kalau kalian udah nikah?" tanya Ibu Gendis tiba-tiba.
Sontak Gendis membulatkan matanya akan pertanyaan sang ibu. Bagaimana mungkin oppa bisa tinggal di Indonesia sedangkan pekerjaan nya di Korea. Bukankah hal itu terlalu dini untuk di tanyakan sang ibu? Begitulah pikiran Gendis.
"Iya, saya suka makanan di sini nyonya. Semua enak dan saya makan banyak tadi." Jawab Yoon Gi.
Ia tidak menjawab pertanyaan yang menanyakan dirinya bisa menetap di Indonesia atau tidak. Karena Yoon Gi juga harus mengurus beberapa hal agar ia bisa menetap dan berkerja di Indonesia.
" Udah malam bu, biar oppa pulang. Nanti kemalaman di jalan." Ujar Gendis.
Ia sengaja mengalihkan perhatian sang ibu agar tidak menyinggung soal bisa atau tidak Yoon Gi menetap di Indonesia. Karena hal itu akan di putuskan nanti setelah Gendis lulus begitulah yang ia pikirkan.
" Iya, saya pulang dulu nyonya. Hari senin saya datang lagi untuk mengantar Gendis ke kampus," Yoon Gi segera bangkit dari tempat duduknya.
"Hati-hati nyetirnya oppa? Kalau sudah sampai rumah, jangan lupa kabari ya?" Pinta Gendis.
"Tentu saja akan oppa kabari. Assalamualaikum nyonya Gendis." Tak lupa Yoon Gi berpamitan memberi salam dan mencium tangan ibu Gendis.
"Walaikum salam, hati-hati di jalan ya, jangan ngebut!" Pesan ibu Gendis.
"Iya ngga akan ngebut kok nyonya."
"Eh, yang tadi belum di jawab. Gimana?" tanya Ibu Gendis lagi. Ia sengaja menanyakan hal ini kepada Yoon Gi.
Yoon Gi seketika tidak jadi melanjutkan langkahnya. Ia menarik napas panjang lalu menatap Gendis dan ibunya bergantian.
"Sebenarnya, saya..." Lagi, Yoon Gi menarik napas panjang.