
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Hari berganti bulan begitupun tahun. Gendis juga sebentar lagi akan wisuda. Begitupun Ucok, Ratih dan Justin. Yoon Gi satu tahun yang lalu telah memutuskan untuk tinggal di Indonesia demi Gendis. Pekerjaan nya yang di Korea telah di handel saudara laki-laki nya. Dan sekarang ia memegang perusahaan yang ada di Indonesia.
"Nanti ngga usah di jemput ya, oppa! Aku mau pergi sama Ratih dulu." Pinta Gendis.
Seperti biasa Yoon Gi akan mengantar Gendis ke kampus dulu sebelum ia berangkat bekerja.
"Oke honey," jawab Yoon Gi sambil mengangkat tangan.
Panggilan Yoon Gi kepada Gendis berubah menjadi honey. Semakin lama hubungan mereka semakin romantis.
"Hai, Gendis tunggu!" teriak Ratih yang juga baru turun dari motor Ucok.
"Ay, tungguin aku dong! Kalau udah ketemu Gendis aku di cuekin aja sih. Sepertinya saingan terberat ku adalah Gendis," gerutu Ucok.
Ratih tidak menghiraukan Ucok. Ia tetap berlari mengejar sahabatnya.
"Itu kamu di panggil Ucok, malah lari ngejar aku sih." Tegur Gendis.
"Biarin aja lah manja sekali dia sekarang. Mau nya nemplok terus." Jawab Ratih.
"Hust! Ndak boleh gitu kamu. Emang kamu mau di cuekin dia?" tanya Gendis.
"Ngga lah."
"Iya, makanya jangan gitu. Justru kamu harus senang dong dia bisa kayak gitu. Artinya Ucok sangat cinta sama kamu. Oppa aja yang udah dewasa gitu kadang kalau berdua sifat manjanya keliatan." Gendis tersenyum saat bercerita tentang bagaimana manjanya Yoon Gi.
" Oh, gitu ya. Oke deh ngga akan aku ulangi lagi. Makasih ya, Gendis kamu sahabat terbaik."
Sejak satu tahun yang lalu Gendis memulai bisnis online bersama Ratih . Dengan dukungan dari ibu dan Yoon Gi sekarang sudah banyak pelanggan dan juga bisa menghasilkan omset jutaan setiap bulannya. Walaupun Yoon Gi tidak masalah jika dirinya tidak bekerja tapi Gendis ingin menghasilkan uang sendiri.
"Ay, setelah lulus nanti keluarga ku datang lamar kamu ya?" tanya Ucok.
"Iya beb datang saja bawakan mahar yang banyak ya be?" Jawab Ratih.
"Punya calon bini gini amat ya, Allah. Matre itu namanya beb. Ngga apa-apa lah, untung aku cinta." Ujar Ucok.
"Uluh... calon suamiku baik banget sih. Tambah cinta aku deh beb," Ratih mendekatkan wajahnya ke Ucok dan kedua tangannya mencubit pelan pipinya.
"Sakit di cubit ay, cium aja beb." Kata Ucok.
"Big no! Jangan macam-macam ya kamu beb!" Ratih memperingati Ucok agar tidak macam-macam.
"Cuma satu macam ay."
"Ngga boleh sebelum sah jadi suami istri." Ratih tetap pada prinsipnya tidak akan ada ciuman bibir sebelum ada ikatan resmi di antara mereka.
Ucok semakin cinta dengan Ratih. Prinsipnya selama pacaran dari awal sampai sekarang selalu ia jaga. Berbeda dengan kebanyakan anak muda jaman sekarang yang sudah berciuman saat pacaran tapi Ratih masih selalu menjaga agar tidak ada kontak fisik seperti ciuman bibir. Dan Ucok sangat menghargai hal itu, malah semakin membuat hubungan mereka semakin kuat.
"Yasudah kita langsung nikah aja yuk! Mau ngga?" tanya Ucok lagi. Ia sengaja menggoda Ratih.
"Siapin maharnya yang banyak beb. Nanti siap nikah kita. Seperti sawah, tanah, perhiasan, rumah dan apa lagi ya?" Ratih terlihat berpikir apa lagi yang harus ia masukkan dalam daftar mahar yang harus diberikan Ucok.