
Di sepanjang perjalanan menuju ke kampus Ucok hanya diam sambil mendengarkan omelan Ratih. Tak ada satu kata bantahan yang keluar dari bibirnya. Ternyata seorang perempuan memang tidak pernah salah. Dirinya lah yang kaum laki-laki selalu di salahkan. Sampai tiba di kampus pun Ratih berjalan mendahului Ucok ia masih kesal dengan kekasih nya tersebut.
"Ay... ay... jalan nya cepat sekali tunggu aku dong!" Ucok terus memanggil Ratih dengan panggilan ay, namun Ratih tetap tidak menghentikan langkahnya.
"Woi, ngapa lari-lari bro?" tanya salah satu teman kampus Ucok.
"Biasa masalah cewek bro." Jawab Ucok.
"Lagi datang bulan dia kali bro," ujar temannya lagi sambil sedikit berteriak karena Ucok sudah semakin menjauh dari pandangan nya.
"Setiap hari dia datang bulan bro," Ucok menjawab sambil mengejar Ratih.
Ratih yang samar-samar mendengar panggilan sayang dari Ucok langsung berhenti. Apa ia tidak salah dengar?
"Nah akhirnya berhenti juga, sayang kan bedaknya luntur kena keringat. Udah capek-capek dandan tadi kan?"
"Ucok! Kau jadi laki-laki ngga peka banget sih. Udah lah, masuk kelas duluan. Punya pacar ngga peka banget sih," ujar Ratih lalu ia meninggalkan Ucok yang masih diam di tempat.
Ucok masih diam di tempat sambil berpikir apa kesalahan yang ia buat pada Ratih. Sepertinya semua kata-kata yang keluar dari bibirnya tidak pernah benar.
"Emang perempuan itu maha benar, laki-laki apapun yang terjadi tetap salah. Salah ngomong dikit aja langsung panjang urusannya. Awak pusing lah jadinya. Udah lah pikir nanti, masuk kelas dulu lah."
Keesokan harinya...
Ucok masih di buat pusing dengan diam nya Ratih. Seperti biasa ia menjemput pacarnya untuk berangkat bersama ke kampus tapi hari ini Ratih lebih kelihatan cuek dari biasanya. Sampai di kampus pun tak keluar sepatah kata pun dari bibir Ratih. Ucok semakin bingung dengan tingkah kekasihnya tersebut.
"Kenapa lagi dia sih, dari kemarin itu bibir manyun aja jadi pengen aku cium eh," ucap Ucok yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Assalamualaikum," sapa Gendis yang baru turun dari mobil Yoon Gi.
"Wa alaikum salam." Jawab Ucok dan Ratih bersamaan.
Gendis yang menyadari ada yang aneh dari kedua sahabatnya lalu ia bertanya. "Kalian kenapa?"
"Ngga apa-apa." Jawab keduanya kompak.
"Cie... kompak sekali kalian." goda Gendis
"Ada yang lagi saling marahan ini ya?" celetuk Yoon Gi yang baru saja menghampiri mereka.
"Ngga ada apa-apa oppa. Udah yuk, kita ke kelas!" Ajak Ratih dengan menarik tangan Gendis.
" Oppa aku masuk dulu." Pamit Gendis pada Yoon Gi. Dengan perasaan bingung Gendis mengikuti langkah Ratih.
Saat Ratih dan Gendis sudah mulai menjauh Yoon Gi mulai menanyakan perihal diamnya Ratih.
" Kalian ada masalah? Aku perhatiin Ratih diam aja dari tadi. Agak aneh aja, yang biasanya berisik tiba-tiba kalem gitu," tanya Yoon Gi.
"Iya, dari kemarin dia gitu. Sampai pusing aku harus gimana oppa. Kasih tahu dong tips nya gimana biar doi ngga cemberut terus oppa?"
"Emang masalah nya apa, kok Ratih sampai marah kayak gitu?"
Ucok menceritakan semua pada Yoon Gi dan tidak ada yang terlewat sedikit pun. Dan Yoon Gi yang mendengarkan cerita Ucok sontak tertawa terbahak-bahak.
"Aku butuh solusi bukan ejekan oppa. Sudah pusing dari kemarin cemberut aja. Mending aku di cereweti ini Ratih malah diam aja bingung awak harus ngapain." Ucap Ucok.
"Kamu lah yang salah dalam hal ini. Perempuan itu emang selalu ingin tampil cantik di hadapan laki-laki yang ia cintai. Ratih udah berusaha sebaik mungkin. Harusnya kamu puji dia, bukan malah kamu tegur karena kamu lama nungguin dia. Dan kamu sudah minta maaf belum sama dia?" Yoon Gi memberi nasihat untuk Ucok.