I Found You My Girl

I Found You My Girl
Part 8



Setelah memblokir nomor Yoon Gi Gendis mulai fokus pelajarannya karena sebentar lagi akan ujian akhir. Dan dia juga tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Cukup sekali saja melihat sang Ibu merasa kecewa atas dirinya yang tidak mendengarkan nasihat sang ibu waktu itu. Ia tidak ingin mengulanginya lagi.


Di sekolah...


"Gendis kamu masih berhubungan dengan orang Korea yang waktu itu kamu ceritakan?" tanya Ratih.


"Udah ngga, Ibu marah soalnya waktu itu kepergok lagi video call sama dia. Udah aku blokir dan aku hapus nomor nya. Ngga mau lagi lihat Ibu marah gitu. Diem sih, tapi serem aku lihatnya." Ujar Gendis.


"Kayak film horor aja serem."


"Film apa yang serem? Ada film baru? Nonton bareng yuk, kita. Saut Ucok. Iya memotong percakapan dua sahabatnya.


"Dih, ini anak nyamber aja kayak petir di siang bolong." Keluh Ratih.


"Kalian ini sama saja, berisik dari tadi. Udah aku mau lanjut kerjain tugas ini. Sana, kalian pergi!" Usir Gendis.


Ratih dan Ucok segera kembali ke tempat duduk mereka. Ini jam kosong jadi mereka bebas mengobrol. Tapi, berbeda dengan Gendis. Ia ingin fokus belajar dan meraih cita-cita supaya tidak mengecewakan kedua orang tuanya.


Di Korea.


Yoon Gi uring-uringan. Sudah hampir satu bulan Gendis tidak bisa di hubungi. Terakhir kali ia melakukan panggilan video call dan setelah itu Gendis tidak bisa di hubungi lagi. Merasa ada yang hilang di hatinya. Entahlah lewat obrolan singkat nya bersama Gendis memberikan warna kembali di hidup Yoon Gi setelah kesedihan nya di tinggal sang mantan istri.


"Gendis kenapa blokir nomor ku ya? Apa ia di marahin Ibunya gara-gara video call waktu itu?" tanya Yoon Gi pada dirinya sendiri.


Ia berbaring di ranjang king size miliknya sambil membayangkan Gendis. Ingin sekali ia mendengar Gendis saat bicara karena gadis tersebut terlihat santun. Dan juga wajah ayu dan senyum manis khas gadis Jawa yang membuat rindunya semakin membuncah.


"Oke gadis manis, tunggu kedatanganku ke Indonesia." Ucap Yoon Gi sambil memandang wajah Gendis di ponsel miliknya.


Satu Tahun kemudian...


Seorang pria berjalan dengan tegap serta di dampingi asisten pribadinya. Semua mata tertuju kepada pria tersebut terutama kaum hawa. Tak sedikit yang berbisik karena ketampanan pria tersebut. Kemeja warna biru celana jeans serta kaca mata hitam yang ia kenakan menambah nilai lebih untuknya.


"Kamu yakin dia kuliah di sini?" tanyanya kepada asisten pribadinya.


"Iya, Pak. Saya sudah memastikan nona Gendis kuliah di sini. Data yang saya dapatkan sudah lengkap serta bukti foto yang kita dapat pak." Jawab Asisten tersebut.


"Baiklah, kerja bagus. Terima kasih pak Kim." Ucap Yoon Gi pada asisten pribadinya yang bernama Kim Jaehyung.


Pria tersebut adalah Yoon Gi. Ia memenuhi janjinya kepada Gendis untuk datang ke Indonesia untuk bertemu dirinya. Walaupun nomornya sudah di hapus dan di blokir Gendis bukan hal yang sulit untuk mencari keberadaan Gendis karena jaringan koneksi Yoon Gi yang luas.


"Benar kah, ini ruangan nya?" Tanya Yoon Gi lagi, saat sudah sampai di depan sebuah ruang kelas.


"Benar pak." Jawab Pak Kim.


Tanpa menunggu lama Yoon Gi segera masuk dan mencari keberadaan gadis pujaannya. Matanya menyapa setiap sudut ruangan mencari Gendis. Saat sudah melihat gadis yang ia yakini itu adalah Gendis ia langsung mendekat ke arah gadis tersebut.


"Halo, Gendis apa kabar?" tanya Yoon Gi.


" Ka-kamu... Kok, bisa di sini sih?" Bukan nya menjawab sapaan Yoon Gi. Gendis malah bertanya balik dan ucapannya terbata-bata karena ia terkejut.


Gendis tidak menyangka setelah satu tahun tidak berhubungan dengan Yoon Gi bahkan nomor pria tersebut telah ia blokir dan hapus dari kontak telepon. Tapi, kenapa Yoon Gi bisa di hadapannya saat ini.


"Karena aku udah janji mau datang ke Indonesia nemuin kamu. Pria sejati harus pegang ucapannya dong." Jawab Yoon Gi penuh percaya diri.


Ia terpukau melihat kecantikan Gendis. Dari layar ponsel Gendis terlihat cantik tapi Yoon Gi tidak menyangka gadis pujaannya jauh lebih terlihat cantik saat ia bertemu langsung. Bahkan dia sendiri sedang menutupi kegugupannya karena berhadapan dengan Gendis.


"Kan nomor kamu aku blokir. Kok bisa tahu aku ada di kampus ini? Kamu semacam penguntit atau apa sih namanya?" ujar Gendis. Ia merasa takut juga tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kenapa Yoon Gi mudah sekali menemukan dirinya.


"Bukan hal yang sulit buat nemuin kamu Gendis. Yang penting aku udah tepati janji ku padamu."


Gendis geleng-geleng kepala dan menepuk pelan kedua pipinya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Hei... ini bukan mimpi. Jangan pukul kayak gitu pipinya!" Tangan Yoon Gi meraih tangan Gendis agar gadis tersebut menghentikan aksinya.


"Ayo, keluar sebentar!" Gendis menampik tangan Yoon Gi. Ia segera keluar ruangan untuk mencari tempat bicara yang nyaman bersama Yoon Gi.


Gendis tidak mau ia menjadi buah bibir teman kampusnya. Karena dari tadi ia mendengar bisik-bisik dari teman kelasnya dan itu membuat Gendis tidak nyaman.


Tanpa menjawab Yoon Gi mengikuti langkah Gendis. Ia tersenyum senang karena Gendis mengajaknya pergi keluar.


"Sekarang tolong jelaskan apa maksudnya semua ini. Kenapa kamu datang tiba-tiba gitu?" tanya Gendis.


"Aku nemuin gadis pujaan ku. Dan sebagai pria sejati harus tepati janjinya dong."


Gendis menghela napas panjang. Rasanya percuma bertanya kepada Yoon Gi. Seribu kami pertanyaan pun jawaban nya akan sama.


"Kenapa?" tanya Yoon Gi dengan lembut.


Gendis yang mendengar ucapan Yoon Gi yang begitu lembut membuat ia sedikit gugup karena detak jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Tidak di pungkiri ia juga senang melihat Yoon Gi ada di hadapannya. Tapi Gendis masih ragu akan kedatangan pria tersebut. Ia takut Yoon Gi punya niat jahat padanya.


"Ngga apa-apa."


"Iya, maaf kalau kedatangan ku tiba-tiba. Karena aku mau kasih surprise buat kamu. Hari ini sudah lama aku tunggu." Ujar Yoon Gi.


Gendis sedikit tersentuh atas apa yang di sampaikan Yoon Gi. Ternyata pria dari Korea tersebut bersungguh-sungguh atas apa yang di ucapkan nya. Karena jaman sekarang orang seperti Yoon Gi jarang di temui.


"Maaf juga aku keterlaluan tadi. Bukannya tidak percaya tapi aku kaget kenapa kamu bisa datang tiba-tiba di sini. Dan bikin heboh satu kelas ku tadi astaga." Keluh Gendis.


Dreet... drett...


Getaran ponsel dari saku celana Gendis menghentikan percakapan mereka. Setelah melihat siapa yang sedang melakukan panggilan telepon, Gendis pun tersenyum.