I Found You My Girl

I Found You My Girl
Part 19



Gendis dan ibunya masih mengagumi foto-foto yang di berikan Yoon Gi. Ibunya tidak menyangka kalau pria asal Korea tersebut bersungguh-sungguh akan ucapannya. Ia terharu dengan apa yang di lakukan Yoon Gi.


"Baiklah, beri aku waktu untuk menerima mu. Dan ibu berharap kamu dengan senang hati bisa belajar adat dan tradisi Jawa agar kamu bisa beradaptasi dengan kehidupan di sini. Banyak tata cara adat yang harus kamu ketahui nanti saat kamu sudah menetap di sini." Ujar ibu Gendis panjang lebar.


Yoon Gi yang mendengar penuturan ibu Gendis seketika tersenyum ia seperti mendapatkan angin segar langkah nya untuk meminang gadis pujaannya sudah terlihat nyata di depan mata. Ya, walaupun ia harus belajar tradisi Jawa tapi, itu bukan hal sulit untuk Yoon Gi.


"Kamu kenapa tersenyum seperti itu? Apakah ada hal baik yang membuat mu bahagia? Apakah orang tua Gendis menerima lamaran kita?" tanya ibu Yoon Gi penasaran dengan menggunakan bahasa Korea.


Yoon Gi melihat ke arah sang ibu tangan kanan nya terulur menyentuh jemari yang sudah mulai berkeriput.


" Iya, InsyaAllah dia akan menjadi menantu ibu." Ucap Yoon Gi.


Semua keluarga Yoon Gi tersenyum senang. Usahanya tidak sia-sia. Mereka datang dari Korea demi seorang Gadis yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Dan berharap tidak akan lagi kata gagal untuk Yoon Gi.


" Selamat tuan, akhirnya mendapat kan restu juga. Tunggu nona Gendis lulus kuliah langsung halal lin dan ajak ke Korea." Ujar pak Kim dengan penuh semangat. Tentu saja ia salah satu orang yang paling tahu bagaimana perjuangan bos nya tersebut. Mempelajari budaya asing serta menjadi mualaf.


Dari Yoon Gi kita belajar bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dan juga dia selalu menepati apa yang ia ucapkan. Ketulusan dan niat baik akan selalu mendapatkan balasan kebaikan pula. Dan sekarang Yoon Gi sedang menuai itu.


"Ibu, merestui hubungan ku dengan oppa?" tanya Gendis memastikan lagi ucapan ibunya.


"Iya, banyak pertimbangan yang ibu pikirkan. Ini baru awal dia tetap harus belajar tradisi kita agar dia paham. Karena suatu hubungan pernikahan itu tidak cukup hanya modal cinta." Jawab Ibu Gendis.


"Bukankah oppa sudah belajar budaya kita?" Gendis bingung apa yang di maksud kan oleh sang ibu. Karena menurut nya Yoon Gi sudah banyak tahu tentang budaya Indonesia.


"Belum semua. Nanti ibu jelaskan lagi." Jawab ibu Gendis. Ia tidak mau menjelaskan panjang lebar karena di sini masih ada orang tua Yoon Gi.


Gendis menganggukkan kepala karena ia sudah paham dengan ucapan sang ibu. Tentu saja karena masih ada keluarga Yoon Gi di rumah nya.


Mereka pun ngobrol panjang lebar dengan Yoon Gi dan pak Kim yang menjadi penerjemah untuk mereka. Ibu Yoon Gi semakin menyukai Gendis ia yakin pilihan anak nya kali ini tidak akan salah. Di lihat dari cara bicara dan sikap Gendis yang lemah lembut membuat ibu Yoon Gi semakin kagum.


Keesokan harinya...


Gendis yang sudah mendapat restu dari sang ibu mulai hari ini tidak berangkat ke kampus sendiri. Seperti pagi ini, Yoon Gi sudah ada di rumah Gendis untuk mengantar gadis itu ke kampus.


"Sudah siap? Ayo, kita berangkat!" ajak Yoon Gi.


"Ayo oppa. Bu, Gendis berangkat ke kampus dulu." Pamitnya pada sang ibu. Tak lupa ia mencium tangan sang ibu begitupun dengan Yoon Gi.


"Assalamualaikum, kita berangkat ya bu." Pamit Yoon Gi dengan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, iya kalian hati-hati."


Di kampus seperti biasa Ucok dan Ratih sedang adu mulut. Mereka sudah heboh dari pagi karena mendapat kabar dari Gendis bahwa ibunya sudah merestui hubungannya dengan Yoon Gi. Sedangkan mereka saja tidak pernah tahu sahabatnya itu kapan pacaran.


Lalu bagaimana dengan Justin yang juga suka dengan Gendis? Pasti akan sakit hati kalau mengetahui sahabatnya Gendis sudah bersama pria Korea.


"Aku penasaran kok bisa ya, Yoon Gi di terima ibu Gendis. Pakai jurus apa ya? Kan susah banget bikin luluh ibunya Gendis." Ucap Ratih.


"Kebiasaan kamu ya, kalau di tanya jawabnya gitu. Aku tuh nanya serius malah jawab kayak gitu. Bikin sebal aja kali deh Ucok," Ucap Ratih memanyunkan bibirnya.


"Aku juga jawabnya dua kali serius. Serius bercandanya."


Plak... ?


Pukulan mendarat di lengan Ucok. Ratih yang merasa sebal dengan jawaban Ucok tak segan lagi untuk memukul pria itu.


"Aw.... ini cewek galak sekali." Ucap Ucok mengaduh karena pukulan Ratih yang terasa panas di lengannya.


"Salah sendiri bercanda aja dari tadi. Mantap kan pukulan gue."


Rasanya tiada hari taboa ada pertengkaran di antara mereka.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Gendis yang baru turun dari mobil Yoon Gi.


Ia sudah tidak heran lagi dengan pertengkaran kedua sahabat nya itu. Tapi, yang ia heran adalah kenapa mereka ada di depan kampus? Bukannya segera masuk ke kelas malah bertengkar di luar.


"Hai, Gendis sudah dari tadi kita nungguin kamu. Oh, iya benar apa yang kamu bilang semalam? tanya Ratih dengan heboh.


" Emang benar ibu kamu setuju? Em, kok bisa semudah itu? Dan juga keluarga Yoon Gi datang ke rumah kamu, wah sepertinya dia orang kaya ya?" tanya Ucok.


Belum sempat Gendis menjawab pertanyaan Ratih, Ucok sudah ikutan memberondong pertanyaan yang serupa.


" Kalian ini kalau tanya pelan-pelan. Belum satu di jawab udah tanya lagi. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu. " Keluh Gendis.


" He... he... iya, maaf. Kebiasaan ini mulut kalau ngomong nyerocos aja. Susah rem nya." Ratih berucap dengan tidak enak hati kepada sahabatnya.


" Karena rem nya blong jadinya jalan aja kan?" Celetuk Ucok.


" Stop! Kalian ini sepertinya jodoh deh. Kalau salah satu dari kalian ngga ada aja pada nyariin kalau ketemu kayak kucing dan tikus. Itu definisi cinta karena terbiasa. Terbiasa bertengkar. Untuk sabar ku unlimited ngadepin kalian. Kalau ngga entahlah ngga tahu aku. " Ucap Gendis.


Iya menghela napas panjang, karena pusing dengan tingkah sahabatnya tersebut.


" Ada apa? Mereka bikin kamu marah? "tanya Yoon Gi yang sudah tepat berada di belakang Gendis.


Sontak mereka bertiga melihat ke arah Yoon Gi dengan wajah kaget. Terlebih lagi Gendis, karena tadi Yoon Gi sudah berpamitan padanya.


" Lo, oppa bukannya tadi udah pamitan. Kok sampai sini lagi. Ada yang kelupaan kah?" tanya Gendis.


"Ngga ada yang lupa. Hanya dari tadi aku lihat ada pria yang lihatin kamu terus dari sana aku jadi penasaran siap pria itu." Ucap Yoon Gi.


"Ha, benarkah? Siapa?" tanya Gendis yang juga penasaran.