
Mendengar pernyataan sang ibu, Gendis sontak diam. Apa kelihatan dia belain Yoon Gi? Padahal juga biasa aja deh. Ini kayaknya Ibunya yang sensitif mendengar nama Yoon Gi disebut.
"Kamu suka sama dia, ya?" ucap ibu mengulangi lagi pertanyaannya.
"Ngga bu, tenang aja. Gendis akan fokus dengan kuliah." Jawab Gendis.
"Oke ibu pegang kata-kata kamu."
Gendis menghela napas lega saat ibunya meninggalkan kamar. Tapi dia yakin tidak semudah itu membuat ibunya percaya apa yang dia katakan. Tidak mau pusing dengan hal itu Gendis melanjutkan menyelesaikan tugasnya.
"Ah, akhirnya selesai juga." Ucapnya senang, setelah menyelesaikan tugas kuliahnya.
Gendis merapikan buku-bukunya. Karena sudah jam sepuluh malam. Ia juga sudah berkali-kali menguap karena menahan kantuk.
Selesai merapikan semua buku ia merebahkan tubuh di ranjang empuknya dan tidak lama iapun terlelap.
Di lain tempat...
Yoon Gi beberapa kali membaca artikel tentang agama islam dari ponsel pintarnya. Ia menurut apa yang di katakan pak Kim tadi siang untuk mencari informasi di Internet. Karena rasa cinta nya kepada Gendis yang begitu besar ia rela mencari tahu tentang keyakinan Gendis budaya dan lain sebagainya.
"Tuan, ini sudah malam kenapa tidak tidur?" tanya pak Kim yang baru masuk ke ruang kerja Yoon Gi.
"Aku belum mengantuk pak. Tunggu sebentar lagi nanti saya tidur." Jawab Yoon Gi yang masih fokus dengan ponsel nya.
"Lihat apa tuan? Sepertinya serius sekali. Sampai tadi saya ketuk pintu beberapa kali tidak dengar." tanya pak Kim yang penasaran dengan apa yang di lihat Yoon Gi.
"Membaca artikel tentang keyakinan dan budaya agama islam." Jawab Yoon Gi.
"Oh, jadi tuan mendengarkan saran dari saya. Bagus tuan kan demi gadis masa depan. Semangat, ya tuan!" Pak Kim mengepalkan tangan nya ke udara sebagai bentuk dukungan untuk menyemangati Yoon Gi.
"Iya, pak Kim. Entah lah Gendis berbeda dari perempuan yang aku kenal sebelumnya. Dia santun dan juga baik tentu saja ia sangat cantik. Saat aku ke Indonesia dan bertemu dengan dia secara langsung, semakin aku tidak ingin kehilangan dia pak Kim." Jelas Yoon Gi.
" Saya setuju tuan, dia begitu santun. Berbeda dengan nyo - " Pak Kim langsung menutup mulutnya sendiri. Hampir saja ia kelepasan bicara tentang masa lalu tuan nya tersebut. Karena pantang bagi Yoon Gi mengucap nama perempuan yang sudah mengkhianati dirinya.
Pak Kim merasa senang melihat semangat tuannya tersebut. Setidaknya Yoon Gi tidak larut lagi dengan luka masa lalu nya. Dan semua ini berkat gadis santun dan cantik dari Indonesia yaitu Gendis.
"Jangan sebut nama wanita itu lagi, Kim! Atau gaji mu ku potong." Ancam Yoon Gi.
"Iya, maaf tuan. Kadang rem nya suka bolong memang ini mulut."
"Sudah, aku mau tidur dulu. Siapa tahu mimpi gadis pujaan." Ujar Yoon Gi.
Ia bangkit dan berjalan meninggalkan pak Kim yang masih bingung melihat tuannya senyum-senyum sendiri. Seperti nya cinta itu sungguh menakjubkan.
Beberapa hari kemudian...
Gendis, Justin, Ratih dan Ucok sudah sepakat sore ini mereka akan pergi ke toko buku. Setelah selesai dengan mata pelajaran kuliahnya Gendis berjalan keluar bersama Justin untuk menemui Ucok dan Ratih. Semua teman kelasnya mengira Gendis ada hubungan khusus dengan Justin. Tak sedikit di belakang teman-teman nya menggunjingkan Gendis. Beberapa waktu yang lalu Yoon Gi, dan sekarang dengan Justin.
"Udah ngga usah dengerin apa kata mereka. Cukup di aamiin kan saja. Siapa tahu kita berjodoh beneran." Celetuk Justin.
" Siapa yang asal ngomong. Aku kan cuma mengaminin kan saja. Bukankah baik kalau aku sama kamu jadinya kita."
"Ngga." Tolak Gendis dengan tegas.
"Dih ngambek ya? Kalau lagi kayak gitu makin gemas aja aku."
Gendis tidak lagi menanggapi Justin karena pasti tidak akan ada ujungnya percakapan mereka. Selalu saja Justin bisa membalas kata-kata Gendis.
Justin semakin yakin kalau perasaan nya kepada gadis yang ada di samping nya ini bukan hanya sekedar perasaan ingin balas budi. Melainkan perasaan suka kepada lawan jenis.
"Eh, itu Ratih dan Ucok," tunjuk Gendis ke arah dua sahabat nya.
Ratih dan Ucok melambaikan tangan ke arah Justin dan Gendis. Mereka baru saja keluar dari kelas.
"Aku rasa Gendis cocok dengan Justin. Kelihatan banget kalau si Justin suka banget sama Gendis." Celetuk Ucok.
Ratih mengalihkan pandangan ke arah Ucok lalu berkata. " Cocok dari mana? Emang Justin suka sama Gendis?" Ratih berbalik bertanya pada Ucok.
"Yang satu cantik dan yang satu juga tampan. Lagian mereka sering bersama juga. Ngga di kampus ataupun acara di muat kampus."
"Tapi, aku lebih suka kalau Gendis sama Yoon Gi. Dia terlihat dewasa perhatian dan sepertinya juga sudah mapan." Ratih mengemukakan pendapat nya, ia lebih memilih Yoon Gi dari para Justin.
Ucok membenarkan ucapan Ratih. Tapi pasti akan banyak halangan untuk hubungan mereka karena latar belakang budaya yang berbeda.
" Kalian ngomongin apa sih? Kelihatannya asyik banget aku lihat dari kejauhan." Tanya Gendis.
"Ngomongin anak kucing tetangga yang ilang. Udah yuk, kita berangkat keburu hujan ntar." Jawab Ucok asal.
Ratih tertawa melihat wajah cemberut Gendis. Ucok selalu bisa membuat sahabat nya tersebut penasaran.
"Ngomongin kita berdua kapan jadian." Justin ikut bersuara menimpali obrolan mereka. Serta mengedipkan satu mata ke arah Gendis.
Gendis semakin cemberut mendengar Justin. Lalu ia berjalan lebih dulu ke arah parkiran sepeda motor.
"Waduh, calon gue kayaknya pura-pura ngambek. Aku kejar deh sambil lari-lari kayak di film India dulu," Justin segera berlari menuju ke arah Gendis.
"Kapok," teriak Ucok dan Ratih bersamaan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit mereka sampai di toko buku. Mereka berpencar mencari buku yang mereka inginkan. Karena sebelum jam delapan malam Gendis harus sampai di rumah. Ibunya tidak mengizinkan dia pulang terlalu malam.
"Hai, Gendis. Kau di sini juga? Kau sendirian ke sini?" tanya seseorang kepada Gendis.
Saat Gendis fokus mencari buku di rak yang tersusun rapi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya. Dengan cepat ia berbalik badan dan melihat siapa yang memanggilnya. Saat ia sudah berbalik Gendis terkejut dengan siapa ia berjumpa.
"Kamu di sini juga?" bukannya menjawab pertanyaan laki-laki tersebut. Gendis malah berbalik bertanya.
"Kalau di tanya itu di jawab. Bukannya malah bertanya balik."ujarnya seseorang itu