
Cup... Sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Gendis. Perlahan turun dan menelusuri leher jenjangnya. Saat tangan Yoon Gi beralih ingin menelusuri setiap inci tubuh Gendis gerakan nya terhenti karena perkataan sang istri.
"Oppa, aku sedang datang bulan."
Sontak Yoon Gi menjauhkan tubuhnya dari Gendis. "Honey, kenapa kamu ngga bilang. Aku sudah menahan sesuatu di bawah sana dari dati."
"Maaf oppa," jawab Gendis dengan menyesal.
"Ngga apa-apa, kenapa kamu menunduk seperti itu. Kita masih punya banyak waktu honey," tangan Yoon Gi mengangkat dagu Gendis lalu ia mengecupnya dengan mesra.
"Atau kamu yang udah ngga tahan ya?" goda Yoon Gi.
"Oppa, apaan sih. Udah ah, mau tidur dulu ngantuk."
Gendis segera membaringkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.
"Itu kenapa kepalanya di tutup semua?" Yoon Gi menarik selimut putih yang membalut tubuh Gendis.
"Jangan oppa! Gendis malu."
Yoon Gi semakin di buat gemas dengan sang istri. Masih saja malu walaupun mereka sudah bertunangan dari lama. Yoon Gi tak menghiraukan istrinya. Dengan pelan ia menggeser tubuhnya untuk semakin dekat dan akhirnya memeluk Gendis dengan mesra.
" Oppa, aku kan lagi datang bulan. Jangan seperti ini dong!" pinta Gendis.
Kini mereka berhadapan berbaring di atas ranjang serta berbalut selimut putih tebal. Tak ada jarak antara mereka pandangan keduanya beradu mengisyaratkan ada cinta yang begitu besar dari keduanya. Cinta dari dua manusia berbeda status, serta latar belakang kebudayaan yang berbeda. Tapi semua itu bisa di satukan dalam sebuah hubungan pernikahan yang ber pondasikan rasa cinta.
"Aku beruntung memiliki oppa." Ucap Gendis.
"Aku lebih beruntung memiliki kamu." Yoon Gi pun berucap yang sama.
"Aku oppa." Ucap Gendis yang masih menganggap dirinya yang beruntung.
"Aku lebih beruntung, honey. Berkat dirimu aku mengenal arti waktu, kebersamaan perasan sayang dan cinta yang sesungguhnya. Semua berkat kamu. Makasih ya, honey," Ujar Yoon Gi yang menggenggam lembut tangan Gendis.
Senyum indah tersinggung dari bibir Gendis. Ia mencium punggung tangan Yoon Gi yang kini sudah menjadi suaminya. Bahkan dari awal mereka jumpa tak pernah terbesit sedikitpun untuk bersama dengan Yoon Gi tapi lagi-lagi kuasa Allah lah, yang mempersatukan mereka.
"Yuk kita tidur! Kamu pasti capek karena sudah seharian menyalami tamu undangan, aku ngga mau kamu sakit karena kecapean. Lagi pula satu minggu lagi kita ke bulan madu aku ngga mau kamu sakit," ajak Yoon Gi yang sudah mendekat sang istri dalam pelukannya.
Gendis membalas pelukan sang suami. Ia menghirup aroma tubuh maskulin Yoon Gi sungguh menenangkan dan memberikan rasa nyaman, dan tak lama kemudian ia telah larut dalam mimpinya.
" Cepat sekali tidur nya istriku. Honey, aku mencintaimu. Aku harap hubungan kita langgeng. Mencintai mu adalah hal terindah honey," ucap Yoon Gi sambil mengecup bibir Gendis.
Tak lama kemudian Yoon Gi pun ikut hanyut dalam alam mimpi bersama Gendis. Rasa kantuk dan lelah nya tak bisa di tahan lagi. Mereka sudah bersatu dalam ikatan pernikahan. Perbedaan, jarak dan status tidak menjadi halangan untuk keduanya. Semua berkat kegigihan dari keduanya. Mereka berjodoh karena berjuang. Jodoh itu di perjuangkan seperti Yoon Gi yang memperjuangkan Gendis.