I Found You My Girl

I Found You My Girl
Bab 39



Sang surya telah menampakkan cahaya nya dengan malu-malu. Sepasang pengantin baru itu masih betah di bawah selimut. Mereka masih tidur pulas sambil berpelukan. Sementara itu di luar keluarga Yoon Gi dan juga Gedis sudah menunggu untuk sarapan bersama.


"Sepertinya pengantin baru sarapannya siang deh, percuma kita nungguin. Lebih baik kita duluan sarapan nyonya dan tuan!" ajak pak Kim kepada mereka.


"Iya, ayo kita sarapan lebih dulu. Jangan ganggu pengantin baru biar kita cepat punya cucu." Ucap mama Yoon Gi yang menggunakan bahasa Indonesia.


Orang tua Yoon Gi belajar bahasa Indonesia meskipun mereka belum fasih. Karena mereka juga ingin bisa berbincang dengan santai menggunakan bahasa Indonesia. Begitupun dengan Gendis yang juga mempelajari budaya Korea dan juga belajar bahasanya.


"Iya, biar kita segera menimang cucu." Saut ibu Gendis.


Di dalam kamar Gendis menggeliat sambil mengedipkan mata berkali-kali. "Ah, udah jam berapa ini?"


"Good morning honey." sapa Yoon Gi.


"Pagi, tidur oppa nyenyak?" tanya Gendis sambil tersenyum manis.


Cup... cup... cup... Yoon Gi mencium kening pipi serta bibir Gendis berulang kali. Yoon Gi yang sudah bangun dari tadi hanya menatap wajah cantik sang istri. Karena melihat Gendis yang menggeliat terlihat imut seperti kelinci ia tidak tahan untuk tidak mencium Gendis.


"Oppa aku kak belum mandi, kenapa di ciumin kayak gitu!" Protes Gendis.


"Emang kenapa kalau belum mandi? Ngga apa-apa. Ini ini dan ini semua milikku kapanpun aku ingin mencium kamu ngga boleh protes," ucap Yoon Gi sambil menunjuk bibir, pipi serta kening Gendis.


"Tapi kan bau belum mandi."


"Ngga bau kok, sini coba aku cium lagi," Yoon Gi sudah mendekat ke arah wajah Gendis.


"Stop! Aku mau mandi dulu oppa," Gendis menghentikan gerakan sang suami dengan satu tangan.


"Kamu gemesin banget sih," ucap Yoon Gi yang terus memandang Gendis.


Yoon Gi segera bersiap untuk sarapan. Karena dia tadi sudah mandi saat hendak sholat subuh jadi sekarang tinggal bersiap untuk berganti pakaian.


Di lain tempat.


Ratih dan Ucok sedang sarapan di warung soto langganan mereka. Aneka sate seperti telur dan kerang tak lupa jeruk hangat ia pesan untuk menambah menu sarapan mereka.


"Ay, ngapain kamu dari tadi lihat ponsel terus sih?" tanya Ucok pada Ratih.


Ratih yang dari subuh tadi mengirim pesan kepada Gendis tapi belum juga mendapat balasan. Ia penasaran dengan malam pertama Gendis.


"Ini nungguin balasan pesan dari Gendis. Mau tanya gimana pengalaman malam pertama nya," jawab Ratih sambil tersenyum.


"Ngapain kamu tanya beb? Kan sebentar lagi kita juga ngerasain. Kamu udah pengen ya?" tanya Ucok sambil menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih kamu ay." Jawab Ratih dengan malu-malu.


"Nikahan kita di percepat aja kalau gitu gimana? Modal nya udah ada, rumah buat nanti tinggal bersama anak-anak juga udah kebeli walaupun masih nyicil kurang delapan tahun lagi. Motor ada juga, mobil ada juga dan masih nyicil juga. Gimana kita percepat aja kamu mau ngga?"


" Ya ampun beb, jujur amat sih cicilannya kurang banyak ntar aku suruh bantuin nyicil ogah. Harta memang milik bersama kalau udah nikah tapi aku ngga mau juga nyicil utang bersama." Jawab Ratih.


" Dih, ini calon bini gini banget sih. Untung cinta coba kalau ngga udah aku -"


" Udah apa? Mau di apain?" tanya Ratih.