I Found You My Girl

I Found You My Girl
Part 13



Masih memikirkan usulan dari pak Kim untuk pindah keyakinan, Yoon Gi. Apakah dirinya harus pindah keyakinan demi gadis pujaan nya? Tapi, bukankah ini harus di dasari dengan rasa ikhlas karena pindah keyakinan bukankah perkara yang gampang.


Pak Kim yang melihat bos nya masih melamun hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena cinta bos nya jadi seperti ini.


Di kampus...


Gendis risih dengan tingkah Justin yang mengganggu dirinya. Tidak hanya di jam pelajaran berlangsung. Bahkan saat di luar kampus pun Justin terus saja mengganggu dirinya.


"Kamu mau makan apa, Gendis?" tanya Justin.


Justin, Gendis, Ucok dan Ratih berada di kantin kampus untuk mengisi perutnya yang sudah demo.


"Makan bakso saja enak kayaknya hujan-hujan gini." Jawab Gendis.


"Aku soto aja lah, lauknya dua tusuk sate kerang, tempe goreng, perkedel kentang dan minumnya jeruk anget. Celetuk Ucok.


" Kamu doyan apa lapar, pesan sebanyak itu?" Ratih merasa heran dengan apa yang di pesan Ucok.


" Lapar dan Doyan." Jawab Ucok.


" Kamu makan banyak tapi kemana larinya itu makanan? Badan kamu masih kurus aja." Ejek Justin.


"Sebagai tuan yang adil kan aku membagi asupan makanan yang masuk ke dalam perutku kepada cacing-cacing yang ada di dalam perut. Jadinya gini lah badanku tetap profesional." Jawab Ucok santai yang juga bercanda.


"Proporsional, Ucok." Saut Ratih membetulkan ucapan sahabat nya yang salah.


"Ya, itulah maksudnya." Bantah Ucok yang tidak mau di salahkan.


"Cie... ayang nya di bela nih." Goda Justin.


Ratih membulatkan matanya mendengar perkataan Justin. Teman baru satu kelasnya itu selalu usil pada dirinya dan Ucok.


"Eh, aku sama Ucok cuma sahabat ya, tidak lebih." Ratih tidak terima di bilang dirinya kekasih Ucok.


"Lebih juga ngga apa-apa kok. Ntar kita kalau pergi kan bisa doble date kan asyik. Aku dengan Gendis kau dengan Ucok." Justin tersenyum membayangkan kalau dirinya bisa kencan dengan Gendis.


Gendis tak mau pusing dengan perdebatan tiga temannya itu. Dua saja kadang sudah bikin pusing, ini ketambahan satu lagi. Belum soal Yoon Gi yang beberapa hari yang lalu mengajak dirinya menikah. Sepertinya orang-orang yang ada di sekeliling nya itu dengan gampang mengucapkan sebuah hubungan.


Saat Gendis asyik menikmati makan siangnya. Perhatiannya teralihkan ke ponsel miliknya. Ternyata Yoon Gi yang melakukan panggilan video call. Gendis mengabaikannya. Ia tidak mau berurusan dengan Yoon Gi. Belum lagi omelan sang Ibu yang masih jelas teringat di pikirannya.


"Kok ngga di angkat. Yang telepon siapa?" tanya Justin yang penasaran saat melihat ekspresi wajah Gendis berubah.


"Bukan siapa-siapa." Jawab Gendis.


"Dih, kepo banget jadi cowok sih." Sindir Ratih.


"Sebagai calon imamnya, jelas aku ingin tahu lah siapa yang membuat Gendis ngga nyaman."


Uhuk... Gendis tiba-tiba ter batuk saat mendengarkan ucapan Justin. Akrab saja barusan kenapa sudah mikir mau jadi imam nya. Sepertinya bukan hanya menghadapi Yoon Gi saja, tapi dirinya akan di hadapkan dengan Justin juga.


Gendis langsung menenggak habis air mineral yang di berikan Justin kepada dirinya.


"Ini opak kalau ngomong lancar banget kayak jalan tol ya? Lihat tuh, Gendis sampai tersedak. Di kiranya gampang apa nikahin anak orang. Dia belum tahu aja gimana galaknya ibu Gendis." Ujar Ratih.


"Nanti di baikin pasti luluh juga kok." Jawab Justin penuh percaya diri.


"Udah, kalian jangan debat lagi. Pusing denger nya aku." Gendis menghentikan perdebatan Ratih dan Justin.


Malam hari di rumah Gendis.


Seperti biasa Gendis setelah membantu sang ibu membersihkan meja makan dan mencuci piring ia segera ke kamar dan mengerjakan tugas kuliahnya. Baru sebentar ia berkutat dengan tugasnya ketukan pintu kamar mengalihkan perhatiannya.


"Gendis, boleh ibu masuk?" saut sang ibu dari balik pintu kamar Gendis.


"Boleh, silahkan masuk ibu!" Jawab Gendis.


Ibu masuk dengan membawa susu hangat serta buah naga yang sudah di potong dan di letakkan di piring.


"Gimana kuliahnya? Ada kesulitan ngga?" tanya sang Ibu.


"Alhamdulillah ngga ada bu. Pelajaran nya Gendis bisa mengikuti dan teman-teman di kampus juga baik bu."


"Ibu harap kamu jangan memikirkan pacaran apalagi soal pendamping hidup. Belajarlah dulu yang rajin, dan raihlah cita-cita kamu setinggi langit nak." Pesan Ibu kepadanya.


Gendis mengangguk paham. Dari arah pembicaraan sang ibu, ia tahu maksudnya. Pasti ini soal Yoon Gi yang terang-terangan ingin menikahi dirinya. Di terima jadi kekasih saja belum apalagi menikah. Yoon Gi terlalu cepat mengambil keputusan.


"Iya, Gendis ngga akan cepat-cepat menikah bu. Lagian juga ngga ada pikiran mau ke arah sana." Bantah Gendis.


"Lalu si Yoon.... Yon, siapa itu namanya? Dia ngajak kamu nikah kayak ngajak beli cilok aja gampang banget. Pokoknya ibu minta kamu fokus kuliah dulu. Kita tidak tahu maksud Yoo, yang sebenarnya, dan kita tidak tahu dia tulus atau ngga. Kamu harus hati-hati! " Ibu Gendis memperingati lagi anak gadisnya agar tidak mudah percaya dengan kata manis dari laki-laki.


" Namanya Yoon Gi, bu. Iya Gendis akan berhati-hati."


" Entah apa itu, lah. Susah sekali ibu nyebut namanya."


Gendis tertawa melihat tingkah ibunya yang tidak mau menyebut nama Yoon Gi dengan benar.


"Kok malah ketawa? Ibu ini ndak ngelawak lo."


"Siapa bilang ibu lagi ngelawak. Aku geli aja ibu ngga bisa ngucap nama Yoon Gi dengan benar."


"Bukan ngga bisa, tapi malas aja lah nyebut nama dia yang ngga penting. Lagian orang kok pede banget gitu datang-datang langsung ingin menikahi anak orang." Ujar Ibu Gendis. Ia kembali sedikit meradang saat mengingat pertemuan nya dengan Yoon Gi.


Wajah tampan dan sepertinya juga sudah mapan. Tapi latar belakang budaya yang berbeda tidak lah mudah. Jarak yang jauh dan belum lagi mereka beda keyakinan. Seorang ibu pasti akan sangat selektif memilihkan calon pendamping untuk anaknya di masa depan. Tapi bukan hanya mapan dan tampan saja yang menjadi pertimbangan ibu Gendis.


"Itu namanya gentle bu, artinya Yoon Gi menunjukkan keseriusan nya pada Gendis. Dia datang jauh-jauh dari Korea untuk menemui Gendis. Bahkan dia sampai belajar bahasa dan budaya kita agar bisa semakin dekat dengan Gendis." Ucap Gendis membela Yoon Gi.


"Kok kamu sampai belain dia gitu banget. Namanya pengen dapatin ya kayak gitu, ngga tahu dia tulus atau ngga kan. Jangan sampai kamu menjalin hubungan sama dia di belakang ibu ya, Gendis. Kamu suka dia ya?"