
Yoon Gi akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit untuk melakukan sunat. Ia ingin menyempurnakan agama nya. Selain itu sunat juga sangat di anjuran untuk kesehatan.
"Tuan itu nya di potong ya? Banyak kah?" tanya pak Kim tiba-tiba. Pandangan nya mengarah ke area sensitif Yoon Gi.
Yoon Gi menatap pak Kim dengan pandangan tajam. Bisa-bisanya pak Kim menanyakan hal itu.
"Tentu saja tidak pak Kim. Hanya sedikit di ujungnya saja." Jawab Yoon Gi.
"Oh, saya pikir banyak tuan," ujar pak Kim tanpa rasa bersalah.
Hari pertunangan pun tiba. Yoon Gi dan keluarga nya sudah sampai di kediaman Gendis. Serta membawa beberapa seserahan untuk melamar Gendis.
"Assalamualaikum." Ucap Yoon Gi yang memberi salam kepada keluarga Gendis.
"Waalaikumsalam." Jawab Ibu Gendis.
Acara pertunangan sengaja di lakukan di rumah Gendis sesuai permintaan gadis itu. Ia ingin proses nya sederhana dan hanya keluarga dan teman dekat yang menghadiri acara tersebut. Tak lupa juga Ucok, Ratih dan Justin juga hadir dalam acara tersebut.
"Kamu cantik sekali, Gendis." Puji Ratih pada sahabatnya.
"Makasih ya." Jawab Gendis dengan malu.
Kebaya modern yang berwarna peach rambut di sanggul gaya modern dan bawahan jarik motif batik warna coklat membalut tubuh indahnya. Serta riasan wajah yang natural semakin menambah kecantikan Gendis.
"Eh, itu Yoon Gi dan keluarga nya sudah datang. Ayo kita keluar!" Ajak Ratih.
"Iya, ayo."
Gendis dan Ratih berjalan keluar menyambut Yoon Gi dan keluarganya.
"Subhanallah cantik sekali calon istriku," puji Yoon Gi yang memandang Gendis tanpa berkedip.
"Oppa mulut nya tutup awas lalat masuk ntar." Ujar Ratih yang sontak membuat tertawa semua orang yang ada di sana.
Gendis mencubit pelan tangan Ratih. Ia tidak terima karena membuat calon suaminya di tertawa kan semua keluarga.
"Apa-apa an sih, sakit tahu kalau cubit ini namanya penganiayaan." Ucap Ratih yang tidak terima di cubit Gendis.
"Salah siapa bikin malu oppa. Kan semua orang jadi tertawa."
"Kan emang bener dia mandang kamu ngga kedip sambil mulutnya kebuka gitu. Kasian lalat nya masuk ntar."
"Nduk, Gendis duduk sini di samping ibu!" Pinta Ibu Gendis.
Gendis segera duduk di samping ibunya. Suasana terasa haru saat ayah Yoon Gi menyampaikan maksud kedatangan nya untuk melamarkan putranya Yoon Gi. Dan juga merasa bersyukur dan bahagia karena Gendis sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga mereka.
Ibu Gendis dengan senang hati menerima lamaran Yoon Gi. Ia juga merasa bahagia dan bersyukur karena keluarga Yoon Gi menerima Gendis dengan baik.
"Ayo, sekarang pakaian cincin di jari Gendis!" Setelah itu giliran Gendis yang memakaikan di jari Yoon Gi. "Pinta ibu Yoon Gi.
Cincin emas dengan ukiran nama mereka melingkar indah di jari masing-masing. Senyum bahagia penuh syukur tak surut dari bibir keduanya. Acara di akhiri dengan makan bersama sambil berbincang santai. Tentu saja dalam hal ini pak Kim yang di buat repot. Ia sebagai penerjemah di antara mereka.
"Selamat ya, atas pertunangannya." Ucap Justin dengan tulus.
"Iya, makasih." Jawab Yoon Gi dan Gendis bersamaan.
"Wah, ada yang patah tapi tapi bukan ranting. Sakit nya terasa nyata tapi tak nampak," ucap Ucok dengan pandangan mengarah ke Justin.
..............
Justin langsung memandang Ucok dengan tatapan tajam. Ia tidak terima dengan sindiran Ucok.
" Maksudnya apa ngomong gitu?" tanya Justin.
"Ngga ada maksud apa-apa, itu kasian yang di taksir udah di ikat orang sekarang." Ejek Ucok.
"Kan masih ada Ratih, dia juga ngga kalah cantik dan baik seperti Gendis. Hanya saja sedikit cerewet, tapi justru itu yang bikin asyik. Aku sama Ratih saja." Jawab Justin asal. Ia sengaja membuat Ucok cemburu.
"Ratih udah punyaku jangan macam-macam kau ya!" Spontan Ucok memperingatkan Justin untuk tidak mendekati Ratih.
"Nah, sekarang kau ngaku kalau suka sama Ratih kan. Kemarin saja ngga mau ngakuin. Jujur aja kalau kau suka, ntar ke buru di ambil orang nyesel baru." Ujar Justin menasihati Ucok.
"Siap bro, ntar lulus langsung aku ajak kawin aja lah." Jawab Ucok dengan penuh percaya diri.
"Nikah dulu, baru kawin." Saut Yoon Gi.
"Dih oppa ikutan nyamber aja kayak petir." Ucap Ucok.
"Iya kan, nikah dulu baru kawin. Lah, tapi belum tentu Ratih nya mau di ajak nikah. Emang kamu sudah bilang sama dia kalau suka?" tanya Yoon Gi.
"Belum," jawab Ucok disertai dengan menggelengkan kepala.
Yoon Gi dan Justin menepuk pelan jidat mereka. Tentu saja tidak habis pikir dengan tingkah Ucok. Ingin ngajak nikah Ratih tapi belum bilang kalau dirinya suka pada Ratih.
"Kalian pada ngomongin apa? Kok asyik banget." Tanya Gendis yang membawa piring kecil berisi buah-buahan untuk Yoon Gi.
"Ini ngomongin Ucok, mau ngajak nikah Ratih tapi belum bilang soal perasaan nya. Kamu bawa apa itu?" Jawab Yoon Gi dan bertanya kepada Gendis.
"Ini buah untuk oppa. Makan lah!" Gendis menyerahkan piring kecil tersebut kepada Yoon Gi.
"Makasih ya, sayang." Ucap Yoon Gi.
"Uhuk, panggilannya di ubah ya sekarang. Mesranya nya nanti aja kalau kami udah pulang. Ngga lihat jomblo ngenes lagi merana gini malah sengaja di pamerin." Ujar Justin.
"Biarin aja. Cepat kamu cari gadis lain di kampus sana!" Ucap Yoon Gi cuek.
"Di pikir cari cewek seperti cari cilok apa, dikira nya gampang." Ujar Justin.
"Cari nya gampang kamu yang sulit karena pilih-pilih. Dan juga kamu Ucok, buruan jujur sama Ratih kalau kamu suka sama dia. Jangan sampai keduluan orang lain atau keduluan Justin." Yoon Gi kembali menasihati Ucok.
"Ogah aku sama Ratih, dia cerewet banget ntar berisik aja kalau di rumah aku ngga mau." Tolak Justin dengan tegas.
"La tadi katanya sama dia ngga apa-apa. Kok sekarang nolak?" tanya Yoon Gi.
"Cuma godain Ucok aja."
Yoon Gi mengangguk paham. Sebenarnya dia juga tahu kalau Justin tidak mungkin akan suka dengan Ratih. Karena dia menyukai Gendis. Dan lagi pula Ratih juga sudah kelihatan menyukai Ucok. Dari pertengkaran kecil yang sering melibatkan mereka dan kebersamaan dari bangku sekolah membuat perasaan yang lebih dari sahabat muncul di antara mereka.