Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Saat Dia Tiada



Prof. Cecil sedang berada dalam keadaan kacau karena dia muak dengan hasil dari penelitian mereka yang gagal lagi.


 


Dengan keadaan basah kuyup, dia berjalan ke ruangan Prof. Swis yang bersebelahan dengan ruangan yang di tempatinya.


 


Braaak!!


 


Cecil datang sambil mendobrak pintu ruangan itu.


 


Dia lalu terkejut melihat Swis dan perawat lainnya yang ada di ruangan tersebut juga berada dalam keadaan kacau.


 


“Swis- Ha?!”, Cecil mencoba melampiaskan amarahnya namun dia terkejut saat melihat wajah Swis yang pasrah.


 


“Anak itu gagal juga?”, Tanya Cecil.


 


Namun Prof. Swis lalu menggelengkan kepalanya.


 


Dengan nada serak Swis membalas pertanyaannya.


 


“Melihat dirimu seperti itu, aku bisa menebak yang kamu atasi kali ini gagal lagi...”


Cecil pun marah mendengar pernyataan tersebut.


 


“Gkhuh! Lihatlah diriku, Anak itu tiba-tiba tidak bisa menahan--”, Balas Cecil yang mencoba menjelaskan kejadian yang dialaminya dengan rinci, namun langsung di potong oleh Swis.


 


Swis menutup mulut Cecil dan menunjuk ke depan mereka, di sana terdapat sebuah ruangan yang di batasi oleh sebuah kaca besar.


Di balik ruangan itu terpenuhi oleh bunga-bunga besar yang memiliki ranting berduri.


 


Cecil langsung tersadar saat melihat beberapa perawat Tower mati di dalam sana karena terjebak di antara batang-batang berduri itu.


 


Tubuh mereka tertusuk oleh duri-duri tersebut, bahkan ada yang terlilit dan hanya menyisakan bagian kecil dari tubuhnya saja.


 


“Berbeda denganmu, yang ini berhasil namun masuk ke mode Hibernasi seperti 2 anak itu”, Sambung Swis yang kelelahan.


 


Cecil lalu meremas bibirnya.


 


“Tetap saja ini berhasil”, Ujarnya dengan bahagia.


 


Cecil kemudian berjalan dan menempel wajahnya di kaca itu, dia lalu mencari sela-sela untuk melihat anak di balik ranting-ranting tersebut.


 


Dan tak lama menemukan keberadaannya dari sela-sela tersebut dan terlihat sebuah kelopak bunga besar berwarna merah *Seperti Bunga Tulip*.


 


“Jadi anak itu berada di dalam sana?”, Tanya Cecil yang masih berfokus dengan bunga-bunga itu.


 


Swis terlihat lelah dan seorang perawat yang ada bersamanya lalu membantunya untuk duduk di sebuah bangku.


 


Perawat lain lalu membawakan segelas air dan mengelap keringat yang ada di wajahnya.


 


Sambil di rawat oleh dua perawat itu, Prof. Swis mengambil Tabletnya dan membuka sebuah File.


 


Di dalam File itu terlihat beberapa nama dari anak-anak lain yang familiar.


Dia lalu membuka sebuah File dan di folder tersebut terdapat foto sekaligus data yang mengandung informasi tentang Vino.


 


“Iya, Aku sempat menggunakan kekuatanku untuk menekan kekuatan anak itu, tapi terlambat dan akhirnya terjadi seperti sekarang”, Jelas Swis.


 


Di file itu, Swis memilih sebuah pilihan “Awakened”, lalu memasukkan kalimat “Akasia Hydrangea” di kolom “Hazard” dan kata “Dendrolyst” di kolom “NEPTO TYPE” dan beberapa hal lainnya.


 


Cecil lalu menoleh ke belakang dan melihat Swis yang sedang melaporkan kejadian ini ke HQ.


 


“Tipe Dendrolyst dab Kelas Hazard ya... Beruntung sekali kamu”, Gumam Cecil yang iri dengan hasil dari penelitian nya Swis.


 


Dia lalu termenung dan merasa bahwa dirinya telah gagal dalam operasi kali ini, dan berjalan kembali ke ruangannya yang tadi.


 


Swis melihat Cecil kemudian menyadari ekspresi dari teman seangkatannya itu.


 


“Ingin kembali?”, Tanya Swis yang sudah selesai melaporkan penelitiannya.


 


Cecil lalu menatapnya dengan pasrah.


 


“Yahhhhh mau gimana lagi, Aku harus melakukan sesuatu dengan anak itu”, Balas Cecil.


 


Dia lalu melihat bajunya yang masih basah.


“Dan aku harus membersihkan diriku juga”, Tambahnya.


 


Swis lalu berdiri dari bangkunya, mendekati Cecil dan menahan bahu temannya itu.


 


“Kamu kembali lah, biarkan aku yang mengatasi Tempest”, Ujar Swis.


 


Mendengar itu dengan tegas cecil menolak tawaran tersebut.


 


“Tidak!- Ini penelitianku jadi aku yang harus mengatasinya”, Balasnya.


 


Dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan kasar dan kembali ke ruangannya yang sebelumnya.


 


Setelah Cecil pergi, salah seorang perawat tadi datang dan mendekati Prof. Swis, dia lalu memberikan sebuah File baru kepadanya.


 


Saat Swis sedang melihat file itu, perawat itu mempertanyakan sesuatu kepadanya.


 


“Prof, bagaimana caranya kita mengeluarkan subjek itu dan membawanya ke ruangan inkubasi?”, Tanya perawat tersebut.


 


Swis lalu melihat perawat tersebut, mencubit dagunya dan menatap dengan dingin.


 


“Panggil tim spesialis, dan katakan pada mereka untuk mengeluarkannya bersama dengan kelopak besar itu”, Ucap Swis dengan dingin.


 


Perawat itu seketika merasa tekanan yang di keluarkan Swis dan langsung ketakutan.


 


 


Plak!


 


Swis langsung menampar perawatnya itu, lalu meremas wajahnya.


 


Tanpa basa basi Swis langsung menggunakan kekuatannya dan perlahan wajah dari perawat itu menua.


 


“Aghhk!”


 


Perawat itu kesakitan namun dia tidak bisa melawan.


 


Tak lama, Asisten Swis pun datang dan mengetok pintu.


 


Tok! Tok!


 


Swis dengan serentak menghentikan pembuliannya karena ternyata pintu ruangan tersebut tidak di tutup oleh Cecil, dan asistennya sudah berada di sana dari tadi.


 


Swis lalu menatap asistennya itu dan melempar perawat tadi.


 


“Bereskan wanita ini dan subjek di sana, jika aku mendengar kamu juga khawatir, maka nasibmu akan sama dengan mereka”, Ujar Swis sambil menunjuk ke belakang.


 


“Organisasi ini tidak membutuhkan orang yang berhati lemah...”, Tambahnya.


 


Asistennya itu hanya mengangguk, karena dia tau kata2 Swis barusan juga tertuju untuk profesor lainnya.


 


“Baik Tuan—“, Balasnya.


 


Namun karena masih di penuhi emosi, Swis menahan kerah baju asistennya itu dan mengancamnya.


 


“Lakukan dengan benar, dan jika aku mendengar kalau kamu juga melawan rencana IMObius, maka aku akan menghabisimu dan bukan hanya kamu, tapi adikmu juga yang menjadi kelinci percobaan di proyek ini”, Ancamnya.


 


Dia lalu melepaskan genggamannya dan berjalan keluar dari ruangan itu.


 


Setelah swis keluar, suster yang tadi sempat mendengar percakapan mereka dan penasaran dengan Asistennya Swis ini, dia lalu melihat tanda pengenal yang tergantung di dadanya.


 


“Million”


 


“OH jadi dia ya”, Gumam suster itu dalam batin.


 


***


Setelah berada di tengah lorong, Swis sempat melewati ruangan Cecil, dan sempat melihat keadaan Tempest yang basah kuyub dan tak sadarkan diri.


 


Namun dia tidak peduli dengan kesibukannya cecil dan tetap berjalan kembali ke ruang kantornya.


 


“Merepotkan”, Gumamnya dengan wajah kesal.


 


Di Kantor Prof. Kevin...


 


Terlihat Prof. Kevin sedang duduk di mejanya sambil melihat laporan dari Swis tadi, selang 15 menit dia menemukan fakta kalau ternyata kekuatan Vino terlalu kuat dan berbahaya.


 


Kekuatan itu bukan hanya berbahaya untuk orang lain tapi untuk Vino sendiri juga.


 


Karena tak sanggup menahan kekuatan itu, Vino akhirnya memasuki Mode Hibernasi seperti dua anak lainya yang sedang berada di ruang inkubasi.


 


“Singkatnya, karena tak sanggup menahan kekuatan tersebut, Vino pingsan dan secara misterius Bibit itu melindungi inangnya sendiri?... Tapi melindunginya dari siapa? Hmm apa dari kita? Ahahaha Menarik”, Tawa Kevin dengan girang.


 


Dia lalu mengambil sebuah folder kertas di laci mejanya dan membedakan alasan hibernasi Vino dengan 2 anak yang ada di dalam Folder kertas tersebut.


 


“Lalu mengapa bisa bibit itu bergerak sendiri, sedangkan dua yang lain—Ohhhh benar juga, mereka berdua adalah tipe Hydrolyst dan Geolyst, berbeda dengan punya Vino”, Lanjutnya.


 


Prof. Kevin lalu menaruh folder tersebut di dalam lacinya kembali, dan menghubungi Prof. Cecil karena belum melaporkan hasil penelitiannya.


 


Klik!.... Kliik!


 


Baru juga mau menghubungi, sebuah pesan dari Prof. Cecil pun masuk.


 


Raut wajah Kevin yang tadinya bahagia tiba-tiba langsung kusut setelah melihat penelitian Cecil yang hasilnya adalah gagal.


 


“Hhhhhhhh, yang satunya berhasil namun berada dalam hibernasi, dan yang ini malah gagal karena tubuhnya yang tidak kuat menahan efek sampingnya”, Ujar Kevin dengan kecewa.


 


Dia lalu melihat pesan kecil yang Cecil berikan, dan kemudian–


 


Braaaak!!


Prof. Swis datang ke ruangannya, dan membuat onar..


 


“Sudah aku katakan jangan mendatangiku seperti itu”, Ujar Kevin dengan kesal.


 


Tanpa basa-basi Swis menghampirinya dan memberikan dia sebuah kelopak bunga.


 


“Menurutmu bagaimana?! Yang satu adalah air dan yang satunya adalah bunga!”, Jelas Swis dengan kesal..


 


“Bagaimana ledakan kemarin bisa terjadi jika kedua kekuatan subjek yang ini tidak bisa mengeluarkan api, apalagi meledak?!”, Sambungnya.


 


Prof. Kevin langsung tersadar dan menyadari kejanggalan ini.


 


Dia lalu terlihat cemas.


 


“Pertama-tamq duduk dulu baru aku membalas pertanyaanmu”, Ujar Kevin yang mulai menduga-duga sesuatu.