
Di salah satu hutan di area luar kota...
Terdapat sebuah bangunan besar yang terpencil di bagian dalam pertengahan hutan itu.
Dan terpampang slogan besar bertanda SK yang menandakan kalau bangunan tersebut adalah Sky Tower.
Bangunan rahasia milik pemerintah yang memiliki keamanan tingkat tinggi.
Namun bagian dalam dari bangunan itu adalah sebuah fakultas penelitian yang di desain seperti taman kanak-kanak.
Mereka membuat Asrama, Kolam Renang, Taman bermain dll, untuk "Anak-anak" mereka yang berada di sana agar anak-anak itu merasa nyaman di sana.
Lalu di sebuah taman luas yang jg ada di sana, terdapat sekelompok anak-anak yang berpakaian serba biru yang sedang bermain-main.
Anak-anak itu tertawa, berlari dan bermain seperti anak-anak biasanya.
Berbahagia tanpa mengetahui keadaan di luar dan keadaan di dalam bangunan ini sendiri.
“Haha.. Hahahaha”
“Bwahahaha...”
“Pwhuhahaha Lihat wajahmu lucu sekali~”, Tawa beberapa anak yang berada di dalam keramaian itu.
Mereka terbahak-bahak karena melihat wajah dari seorang yang sedang menggunakan kekuatannya dengan meniru wajah dari salah satu profesor yang ada di sana.
Namun tiruannya itu gagal dan akhirnya malah terlihat lucu padanya.
“Pffftttt Abang kevin jadi aneh loh, phuhahh-“, Tawa anak lain yang berambut pink.
Anak itu lalu merangkak mendekati Temannya yang sedang menggunakan kekuatan tersebut dan menjelaskan keanehan tersebut sambil tertawa kearahnya.
“L-lihat abang kevin malah jadi seperti bayi... Phuahahha masih bagus wajah Amon dari pada campluran aneh ini, kwakakakakkaak”, Tawanya sambil terbahak-bahak sambil memukul tanah.
Anak-anak yang lain pun ikut tertawa karena Tawa gadis berambut pink itu tertular ke mereka.
Anak yang lainnya lalu berdiri dari keramaian itu dan maju ke depan untuk menunjukkan kekuatannya juga.
“Hmph! Hiraukan saja Leo dan Nolla, dan lihatlah Aku”, Bangganya.
Dia lalu berkonsentrasi dan tak lama mengangkat kedua tangannya ke langit, lalu perlahan muncul percikan-percikan api seperti kembang api sunset.
Traakk- Traatrackkk!
Anak-anak lain yang melihat hal tersebut langsung terkejut dan kagum akan kekuatannya, mereka lalu mulai menebak sebutan untuk kekuatannya Ajax.
“Apa itu api?”, Tanya Nolla sambil mencubit dagunya.
“Tidak kemungkinan itu peluru, seperti pistol yang tututututut!” Jawab Leo sambil menirukan gaya seperti machine gun.
“Mungkin kembang api?” Jawab anak berambut putih yang berada di tengah-tengah keramaian.
Mereka seketika terdiam dan pandangan mereka menujuh kearahnya..
“Apa itu kembang api?”, Tanya anak-anak itu dengan kompak.
“Eh? Itu loh seperti peluru tapi bukan peluru lalu bisa ditembakkan ke langit dan berbunyi DUAAARR!!”, Jelasnya sambil memperagakan kepada mereka dengan ragu.
Karena dia sendiri juga kebingungan bagaimana dia bisa mengetahui hal tersebut.
Ajax yang sedang menunjukkan kekuatannya lalu berhenti dan menuju ke temannya itu karena dia juga tidak tahu apa itu kembang api.
“Tempest, jika kamu tahu seharusnya jelaskan dengan benar”, Ujar Ajax yang merasa kecewa dengannya.
“Eh? Eh?!”, Bingung Tempest sendiri.
Dia lalu tanpa sengaja melihat dua anak yang sedang beristirahat di sebuah pohon yang jaraknya tak jauh dari mereka.
Gadis yang satu berambut biru panjang dengan rambut bermodel ekor kuda, sedangkan yang satunya berambut hitam pendek dengan poni kecil yang menutup mata dan wajahnya.
Dan Mereka berdua terlihat sedang serius membaca sebuah buku.
Tempest lalu melemparkan pertanyaan itu sambil berteriak kepada kedua gadis yang berada di sana.
Mendengar panggilan temannya, Eli dan gadis di sebelahnya langsung menoleh ke arah keramaian.
Mereka berdua keheranan namun tak lama Eli melihat Ajax yang melambaikan tangannya dan memanggil mereka.
“ELIIIII!! VIIIII KEMARILAAAAH”, Teriaknya di ikuti dengan anak-anak lain yang juga memanggil mereka berdua.
“Untuk apa lagiii?” Bisik Eli ekspresi capek kepada Vii.
“Ntah, palingan juga sesuatu yang tidak mereka ketahui lagi” Jawab gadis bernama Vii itu dengan santai.
Mereka berdua lalu berdiri dan berbarengan menghampiri anak-anak lain, dan sesampainya di sana Ajax langsung menggenggam erat tangan Eli.
“Jadi- Jadi apa kau tahu nama kekuatanku?”, Tanya Ajax dengan senang.
Eli lalu melihat Ajax dan teman-temannya di belakang dengan wajah kebingungan, dan teman-temannya itu dengan spontan melihat Tempest dengan wajah kecewa.
“Astaga ternyata tidak tahu ya?” Jawab mereka dengan kompak.
Nolla lalu membanting tubuhnya ke tanah dan dengan kecewa menyesali rasa penasarannya yang tadi.
“Hahhhhh Mengecewakan”, Ucapnya sambil memeras rumput.
Vii yang masih belum memahami apa yang sedang terjadi lalu mempertanyakan hal tersebut, dan di jawab oleh Leo.
“Memangnya.. Apa?” Tanya Vii sambil mengangkat bahunya.
“Tadi.. Kami membicarakan siapa yang mendapatkan kekuatan yang paling keren dan aku menunjukkan punyaku lebih dulu, namun gagal dan jadi bahan bercandaan.
Lalu Ajax maju dan menunjukkan kekuatannya, itu terlihat keren loh karena ada percikan api seperti Peluru yang keluar dari tangannya, Lalu si kutu buku Tempest mengatakan--
Apa tadi itu?” Jelas Leo sambil menyahut Ajax, karena dia tidak mengingat dengan jelas kata yang di sebutkan oleh tempest.
“Kembang api?”, Jawab Tempest dengan ragu pula.
“AH Yup lembang api, dan hal itu membuat Ajax maupun kami semua jadi penasaran dan kami menanyakan apa itu tembang api-“ Lanjut penjelasan leo ke Vii.
“Itu Kembang Api!” Potong Tempest dengan geram karena mendengar Ajax yang salah menyebutkan nama benda itu.
Anak-anak lain pun menatap Tempest dengan wajah datar seperti (padahal tidak tau tapi sok-sok pintar) dan membuat Tempest seketika ngakak lalu menutup wajahnya, yang seolah-olah terlihat sedih.
“Blehh bleehhhh Maaf, namanya sulit disebutkan...”, Pintanya.
“..Lalu Kami pun menanyakan itu kan, tapi dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya dan mengatakan Eli yang memberitahukannya, tapi setelah melihat Eli sendiri juga tidak tahu hahhhh sepertinya memang tidak ada yang tahu”, Jelas Leo panjang lebar.
Vii pun mengangguk dan memahami kejadian itu, dia lalu mendekati Ajax.
“Hmm aku mulai paham. Kalau begitu kenapa tidak menunjukkannya lagi?”, Tanya Vii dengan rasa penasaran.
Semua pun setuju karena sekarang ada Vii, dan mereka berharap mungkin dia bisa mengetahui nama dari apa itu.
Ajax lalu kembali mempersiapkan kuda-kuda, dan di sampingnya terlihat Vii yang siap untuk melakukan sesuatu.
Sekali lagi, di saat Ajax mengangkat kedua tangannya ke atas, percikan api mulai muncul dan kali ini terlihat sangat indah.
Traaackk!- Traaaackkck!!
Semua anak-anak terpesona lagi melihatnya, bahkan Vii juga ikut terkagum.
Mereka lalu menoleh ke arah Vii karena saking tidak sabar untuk mengetahui hal tersebut.
Tak lama pertunjukan api-apian itu pun selesai, ajax lalu menggenggam tangan Vii.
“Jadi Apa? Jadi apa hmmfuuuu~”, Tanya Ajax dengan kegirangan.
“Tidak salah sih, ini memang kembang api namanya”, Jelas Vii.