
*Peringatan Bab Mengandung Unsur +18 Gore, Di Mohon Jangan Membaca Sambil Makan 🙏
*****
Tempat ini seperti penjara.
Lebih buruk dari penjara, darah berceceran di mana-mana, di saat Tikus berjalan ke depan...
Para perempuan di sekap di setiap selnya, ada beberapa wanita yang masih sehat, namun tidak banyak juga yang berada dalam kondisi sehat.
Kebanyakan dari mereka kekurangan Gizi dan semua wanita di dalam tempat itu, semuanya sedang berada dalam kondisi hamil, namun mental mereka semua tidak baik-baik saja di dalam sana.
Lalu si tikus berjalan lebih jauh ke dalam, dan menemukan lebih banyak wanita hamil yang berada dalam kondisi yang lebih buruk.
Beberapa pengaman dan cairan putih berserakan di sekitar ruangan sel, baju dari mereka tersobek, ada yang ketakutan, menggigil, menangis bahkan pingsan.
Wanita2 di dalam sel ini, semuanya masih terlihat muda namun perut mereka... Mereka di culik, di siksa dan di perkosa oleh para penjaga di tempat ini.
Elizabeth berpikir mimpi buruk di tempat itu telah berakhir, namun saat dia turun ke lantai bawah, dia langsung di hadapkan dengan pemandangan yang lebih mengerikan.
Semua wanita di ruangan itu sudah tidak bernyawa lagi, mereka menjadi mayat yang di biarkan terantai dan membusuk, lalu perut mereka juga berada dalam kondisi parah.
Darah sudah mengering, kulit memucat biru, lalat dan cacing melahap tubuh mereka sehingga mata mereka pun sudah tak ada, Ibu-ibu ini di biarkan seperti itu setelah bayi mereka di ambil, bahkan "Tali" nafasnya masih tergantung di sana.
***
Pandangan mengerikan itu membuat Elizabeth langsung muntah.
"BLLUEEEGHH!!"
"Eli ada apa?!", Tempest merasa khawatir karena raut wajah Elizabeth mulai membiru dan tubuhnya berkeringat.
Elizabeth meremas tangannya.
"Tidak bisa ini!! Kita tidak bisa membiarkan mereka!!!", Marah Elizabeth.
Dia lalu melebarkan tangannya dan tak lama Portal dari asap hitamnya terbuka.
"..."
Namun tidak ada yang keluar dari portal miliknya.
"Kalian berdua cepatlah kesini", Bentaknya kepada orang di sisi lain portal itu.
Lalu keluarlah Leon dan Marcus dari sana.
"Biasa aja kali jangan marah-marah, tumben kamu bukan gerbang tanpa kasih kabar", Balas Leon sambil mencoba menenangkan Eli.
Elizabeth langsung meremas kerah bajunya Leon dengan Erat.
"Kita BANTAI MEREKA", Ucapnya.
Mereka bertiga melihat wajah Elizabeth yang membiru dan Leon merasa kalau tangan Elizabeth dingin.
"Apa yang kamu lihat?", Tanya Marcus dengan khawatir.
Elizabeth pun menatapnya dengan lebar.
"Iblis, orang-orang ini adalah Iblis, biarkan kita yang menunjukan neraka kepada mereka, Marcus", Balas Elizabeth dengan nada sedih.
Bahkan Elizabeth seperti menahan tangisannya.
"... Oke, Aku mengerti, biarkan Para Beast itu padaku", Ujarnya.
Tempest mulai menghilangkan Gelembungnya.
Sesaat gelembungnya memudar, Para Beast yang ada di sana langsung menyadari keberadaan mereka dan tiba-tiba Leon sudah berada di tengah-tengah para penjaga.
"Bagaimana!? Siapa Kamu?!!", Mereka mulai mengarahkan Senjata ke arah Leon.
Sebuah Mulut raksasa dengan misterius muncul di atas mereka.
Dengan keadaan berdarah mulut raksasa itu berbicara meniru apa yang Leon bicarakan.
"Cukup Konyol Juga Kalian, Bisa-bisanya Berpikiran Menjinakan Beast di Dalam Red Zone, Otak Kalian Kemana?"
Serentak semua monster yang mereka kekang memberontak dan mulai memakan kepala dari para penjaga itu.
Pembantaian besar-besar pun terjadi.
Kepala mereka di gigit dan di cabut sampai pada usus dan tulang punggung mereka keliatan, darah yang berbeceran membuat semua penjaga berlarian masuk ke dalam.
Namun Sayangnya, Mereka telah lupa akan sandi dari gerbang tersebut.
"HWUU- HWUAAAAHHHHH!!"
*Stab! *PHUK!
Penjaga yang berada di dalam menyadari Teriakan tersebut, lalu membuka gerbang.
Bodoh sekali mereka, bukannya menyerang monster2 yang pernah mereka budakkin, mereka malah lari terbirit2 masuk ke dalam lift.
"AGGGHHHHHKK!"
"SELAMATKAN KAMIII!!"
"TOLLOOOOOOOOONGG!!"
"AAAAAAAAHHHHHGGH‐ gHuukkhk"
Semua Monster yang pernah di jinakan, malam itu perut mereka penuh dengan daging dan sangat kekenyangan.
***
Di Ruang Bawah Tanah...
Orang-orang di bawah menyadari kalau sesuatu telah terjadi di atas, dan bergegas menyelamatkan segala macam aset mereka yang berharga.
Namun semua mengalami kejang-kejang dan gelembung aneh keluar dari mulut mereka.
"Kaku berguna juga", Puji Elizabeth kepada tempest.
"A-aku tidak bisa diam saja", Jawab Tempest dengan kaku.
Dia merasa kecewa, sedih dan marah akan perlakuan orang-orang tersebut kepada Para Wanita malang di tempat ini.
"...", Dan Tempest dia tidak tau kalimat yang tepat untuk situasi seperti ini.
Terlebih lagi, menenangkan Perasaan Elizabeth yang sekarang.
Elizabeth terlihat seperti menangis, walaupun dia menatap ke langit dan menutup matanya, Tempest tau kalau Elizabeth sedang menahan tangisnya sekarang.
"Eli..."
*Bruk!
Marcus tiba-tiba datang sambil melemparkan tubuh seorang pria yang sudah babak belur.
"Siapa dia?", Tanya Tempest.
"Target kita, Letnan Fedris, Penghianat Militer",
Elizabeth mengucek matanya, lalu mulai menginjak tangan orang itu.
"Baiklah... Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kita dapatkan darinya", Ujar Elizbaeth kepada pria itu dengan tatapan membunuh.