Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Pertemuannya dengan Amber



Kembali Ke sisi Amber dan Ajax.


Setelah berlari mengikuti petunjuk Victor, mereka di bawa ke sebuah jalan asing yang bersambung dengan sebuah garasi yang berukuran besar.


Di sana, mereka di tunjukan dengan beberapa Senjata maupun robot yang ukurannya 3x lipat dari Mobil Backing Up.


"Tempat apaaaa iniii?", Tanya Ajax yang takjub dengan bermacam-macam senjata yang ada di sana.


Amber lalu memutar bola matanya dan mengejek perilaku Ajax yang kampungan.


"Astaga... Itu adalah senjata yang di gunakan oleh pemerintah untuk membasmi Monster2 dulu... Di sana adalah Eden Lite 2.0, Itu adalah Meriam dengan Teknologi Nano yang mampu mendonatkan kepala Kraken pada penyerangannya di tahun 2020, Lalu ada Gusion V2, Armor pedang dengan unsur multiple A—" Ajax terkejut dengan pengetahuan Amber akan hal ini dan memotong penjelasannya.


"Tunggu dulu, bagaimana kamu tau akan hal ini?", Tanya nya sambil menunjuk-nunjuk Senjata yang di sebut Amber dengan julukan Eden.


Amber pun menatap Ajax dengan heran.


"Ha? Bukannya hal ini di jelaskan oleh prof. Yela?", Tanya balik amber.


Ajax langsung menolak dugaan Amber.


"Sejak kapan? Tidak ada yang pernah menjelaskan asal usul dari benda-benda", Jawabnha dengan deras.


Dengan sengaja Amber berguman akan sesuatu dan membuat Ajax mendengar gumamannya tersebut.


"Jadi mereka tidak sejarah senjata yang di buat oleh para pahlawan dulu ya?"


Sontak Ajax pun mempertanyakan hal tersebut.


"Tunggu kita punya pahlawan?", Tanyanya.


Amber lalu membalas dengan kalimat yang membuat otak Ajax meledak.


"Aku lupa si Dion itu sudah menghapusnya dari ingatan kalian", Balasnya.


Sontak amber tersadar akan kecloposannya itu, dia lalu melihat Ajax yang sudah membatu.


Tak lama kemudian Ajax mendekatinya.


"Apa yang kamu katakan?"


Amber pun menaham wajah Ajax, dan menoleh ke arah lain.


"Gini gini, tadi aku bilang akan menjelaskannya bukan?" Tanya nya.


Dan ajax hanya menatapnya dengan dingin.


Merasa tangannya di jilat oleh Ajax, Amber langsung jijik dan mengelap bekas jilatan Ajax di bajunya.


"Sialan, Jijikkk Jorok ahhhggg!", Marahnya.


Ajax pun menertawai Amber.


"Rasain tuh, bikin otak orang berpikir aja, cepat jelaskan!", Marahnya.


Amber pun tidak menerima perlakuan ajax dan malah melemparkan pertanyaan balik.


"Seharusnya aku yang menanyakannya padamu, kenapa kamu tau kalau itu adalah kekuatannya Victor? Padahal kalian masih terikat dengan mata itu" Jelasnya.


"Mata Itu?", Tanya balik Ajax.


Amber lalu menghela nafasnya.


"Baiklaaaah.. Kamu jelasin dulu padaku bagaimana kamu bisa tau itu kekuatannya Victor baru Aku, sebagai Antek2nya Victor akan menjawab semua pertanyaanmu", Jelas Amber yang sudah pasrah akan mulutnya yang ember.


"Semuanya?", Tanya Ajax.


Amber pun membalas dengan anggukan, dan terlihat dari raut wajahnya kalau dia sudah menduga pertanyaan apa yang akan di tanyai oleh Ajax.


"Yup mumpung ini tempat masih aman", Balas Amber sambil menunjuk ke Kupu-kupunya Victora yang masih berada di sana.


Kupu-kupu merah yang berdiam di sekitar mereka itu, menjadi tanda kalau wilayah yang mereka tempati jauh dari ancaman.


"Hmmm Baiklah", Setujunya.


Ajax dan Amber pun bersembunyi di salah satu belakang senjata besar yang ada di sana.


"Kamu ingat dengan ledakan yang terjadi kemarin bukan?", Jelasnya.


Mendengar itu Amber pun terkejut.


"Bagaimana kamu mengingatnya?", Tanya Amber sambil ternganga.


Ajax pun menatapnya dengan wajah sedih.


"Sebenarnya, Aku juga tidak ingat dengan kejadian itu di hari-hari sebelumnya, tapi setelah para profesor memerintahkan kita untuk masuk ke kamar.


Setelah Prof. Dion mengumpulkan kita tadi sore, barulah aku paham dengan apa yang sebenarnya terjadi... Ini masih kesimpulanku saja, jadi aku terkejut setelah tau kamu juga bisa melihat mata itu...", Jelas Ajax pajang lebar.


Ajax lalu melihat ekspresi wajah Amber yang cemberut.


"Jadi dia mengandalkanmi juga ya", Ngambek si Amber.


Ajax lalu berdiri dan melihat sekeliling, setelah tau kalau situasi masih aman, Ajax pun kembali bersembunyi dan melemparkan pertanyaan padanya.


"Jadi bagaimana kamu bisa kesini? Bahkan sampai tidak terhipnotis oleh mereka?", Tanya Ajax dengan serius.


Amber pun memnunjukan ekspresi pasrah, seperti tak mau menjelaskannya tapi karena situasinya sudah sampai begini, mau tak mau dia pun harus menjelaskannya kepada Ajax.


"Singkat Padatnya... Aku mengenal Victor dari Paman Julius, dan di antara Profesor lain, Paman Julius lah yang paling menolak—", Ajax seketika menghetikan pembicaraan Amber.


"Siapa paman julius?", Tanya nya.


"Dia adalah salah satu dari 9 profesor di sini, namun keberadaannya di hapus dari memori kalian, karena menurut para Tetua, Kasih Sayang Julius terlalu tulus dan itu adalah sia-sia, namun kejeniusannya tidak bisa di buang, maka dari itu mereka mempekerjakannya di tempat lain", Jelas Amber.


Sekali lagi Ajax mendapatkan sebuah jawaban.


"Jadi Ada 9 Profesor?", Tanya nya lagi untuk memastikan perkataan Amber.


"Iya, dan aku masuk melalui koneksinya, setelah masuk kesini aku lalu bertemu dengan Victoria di kamarnya, dan memberikannya Kalung yang Julius berikan padaku untuk menampung darahnya di sini, karena menurut hipotesis Julius, darah Victoria bisa melambatkan efek manipulasi tempat ini" Jelas Amber lagi sambil menunjukan kalung tersebut.


Dan benar, di dalam kalung berlian itu terdapat setetes kecil darah Victoria yang sudah di bekukan.


"Aku tidak menyangka semua kegilaan ini,", Ujar Ajax sambil menahan mulutnya karena tak sanggup untuk berbicara lagi.


Tiba-tiba Kupu-kupunya Victoria dengan serentak berputar mengelilingi mereka, menandakan kalau ada bahaya yang mendekati tempat itu.


"!!"


Kupu-kupu dengan cepat pergi ke sebuah lorong gelap dan mereka berdua pun harus dengan cepat mengikuti kupu-kupu itu.


Dan di lorong gelap itu, mereka di hadapkan dengan sebuah gerbang besar.


"Ini jalan keluarnya?", Tanya Amber sambil berlari mengikuti kupu-kupu itu.


"Tidak bukan", Balas Ajax yang menyadari kalau kupu-kupu itu akan berbelok ke kanan.


Mereka bedua pun ikut berbelok juga, namun setelah berbelok ke kanan hanya jalan buntu yang mereka dapatkan.


"Eh?", Kaget Mereka dengan kompak.


Itu karena kupu-kupu tersebut bisa menembus dinding tersebut.


Ajax dan Amber pun menatap satu sama lain, sambil berpegangan tangan, mereka berdua pun lalu mengangguk dan melewati dinding tersebut bersamaan sambil menutup mata.


Merasa diri mereka telah melewati dinding itu, Ajax dan Amber akhirnya membuka mata mereka dan arus air pun menyambut mereka berdua.


"Ini... Saluran Pembuangan Air?", Tanya Amber kepada kupu-kupu merah itu.


Ajax lalu berjalan mendekati arus air itu, dan melihat kalau air yang ada di dekat mereka lumayan kotor.


"Ini masih lumayan sih menurutku", Jelas ajax yang bisa menerima hal tersebut.


Namun berbeda dengan ajax, Amber merasa jijik karena dia itu itu adalah kotoran limbah dan dari jarak 3 meter saja sudah ke cium bau busuknha seperti apa.


"Ughhhh kamu yakin?", Tanya amber lagi kepada kupu-kupu merah itu.


Dan kupu-kupu itu berjalan mengikuti arus air, menandakan kalau memang ini adalah jalan amannya.


"B-baiklah demi bisa kembali ke paman Julius", Dengan terpaksa amber pun menggulingkan kaki celananya, dan menahan hidupnya.


Setelah turun ke bawah, Amber melihay Ajax dan heran bagaimana bisa dia menahan bau kotor ini.


"Sebagai informasi ya, Aku memiliki penyakit yang sama seperti Victor, bedanya penciuman ku yang bermasalah", Jawabnya dengan bangga sambil menoleh ke Amber.


"Ughh pantesan", Ujar Amber sambil menahan hidungnya, membuat suara yang dia keluarkan terdengar aneh.


*BRAAAK!!


Baru juga berjalan 5 meter, mereka langsung di temukan oleh orang-orang berseragam hitam yang melihat mereka dari jalan masuk yang mereka lewati tadi.


"Kyaa!", teriak Amber.


Ajax dan Amber dengan serentak menoleh kebelakang, dan ternyata Dinding yang mereka lewati tadi itu adalah sebuah jalan rahasia.


Namun sudah tidak rahasia lagi karena mereka sudah ketahuan.


Mereka berdua pun berada dalam bahaya...