
Setelah anak-anak di bawa ke kamar mereka masing-masing.
Para Profesor mulai mengetatkan keamanan dan melakukan rapat darurat di ruangan khusus yang ada di dalam tower itu.
Rapat itu di jalani oleh 8 Profesor dengan pangkat paling tinggi dan sederajat.
Ruangan rapat berada di lantai 7 dan di lantai yang memiliki keamanan terketat yang ada di bangunan tersebut, karena di lantai itu terdapat berkas-berkas penting dan rahasia yang setingkat dengan rahasia negara.
Rapat itu pun dimulai dengan Profesor Kevin, seorang Dr. sekaligus Ketua yang dipilih oleh “Nya” untuk menjalankan proyek NEPTO ini.
“Aku sudah memerintahkan mereka untuk mengetatkan keamanan jadi kita bisa menjalani rapat ini dengan tenang”, Jelasnya dengan lembut.
“Hah?! Dengan Tenang? Bagaimana Aku bisa tenang jika ledakan baru saja terjadi di dalam Tower?! Terutama di hadapan anak-anak juga!”, Marah salah satu profesor wanita yang bernama Melina dengan rasa takut dan marah akan sesuatu.
“BANTAI SAJA MEREKA!” Seorang profesor bernama Andrius pun memanaskan suasana di ruangan tersebut..
Prof. Melina dan Kevin lalu melihat orang itu.
“Jika Kita bergerak di luar Tower, hal ini akan melawan perintahnya!”, Bentak balik Kevin terhadap Prof itu.
Danng!
Profesor lain lalu membanting buku di atas meja rapat dan memarahi mereka dengan lembut.
“Rapat ini di lakukan bukan untuk marah-memarah”, Jelas profesor bernama Julian, sambil menatap mereka dengan dingin.
“Itu benar, seharusnya kita tidak harus marah-marahan tapi mencari bagaimana ledakan itu bisa terjadi di dalam Tower...." Ujar prof. Dion kepada prof lain.
Mereka semua seketika berpikir.
"Menurut kalian apa ada pihak yang bisa melakukannya tanpa sepengetahuan dan terdeteksi oleh keamanan kita?”, Sambung Prof.Dion dengan nada serius.
Profesor wanita lain bernama Yela lalu mengangkat tangannya.
“Aku tidak tahu bagaimana tapi aku merasa kalau ini adalah perbuatan Anggota FBI itu”, Duganya.
Andrius lalu menyela perkataan Yela.
“Tapi bagaimana? Hanya karena sering berhadapan dengannya, itu bukan berarti dia bisa melacak kita sampai kesini!!?”, Jelas Andrius dengan tegas.
Prof. Kevin dan Melina terlihat khawatir dan mereka lalu saling bertatapan, namun seketika Melina mengingat sesuatu dan mengangkat tangannya.
Melina berpikir ini adalah pembangkitan dari seorang anak yang tidak terdeteksi prosesnya di dalam keramaian itu, karena sesaat sebelum ledakan terjadi Seorang anak bernama Amber sempat memanggilnya dan melaporkan kalau mereka sedang berkelahi.
“Aku rasa ini adalah perbuatan Tempest dan Vino-“, Belum juga selesai berbicara, Andrius langsung memotong perkataan Melina.
Prof. Kevin berpikir apa yang akan dikatakan Melina sama dengan apa yang dia pikirkan, namun ternyata tidak.
“Astaga Melin, kita semua tahu subjek itu belum melewati proses *Awakening* mereka hanya dengan sedikit penyiksaan belum tentu juga mereka bisa bangkit lagi, kamu tau itu karena banyak yang gagal bukan?”, Jelas Andrius sambil mengorek telinganya.
Mendengar jawaban Andrius membuat Kevin, Yela dan Melina geram, Yela lalu melemparkan Buku miliknya dengan kuat ke wajah Andrius.
BRaakk!
Dan Hidung Andrius pun berdarah.
“Aku sudah katakan... Pertama jangan mengatakan anak-anak itu sebagai subjek... Kedua, proses Awakening mereka tidak bisa kita deteksi dan ketiga, siapa yang menyiksa mereka?! Jika kamu mengatakan hal itu lagi akan aku potong tanganmu”, Marah Yela.
Andrius yang sedang menahan hidungnya yang berdarah lalu menatap Yela dengan kasihan dan mengejeknya.
“Pffft—Dengarkan aku di sini nenek sihir, Kita semua tahu apa yang kita lakukan pada Subjek-subjek itu, jadi berhentilah bersikap simpati jika kau masih menyiksa mereka”, Jelas Andrius dengan kecewa.
“Hentikan itu, Kau tau apa yang terjadi di sini jadi jangan lah bersikap galak”, Bentak Julian kepada Andri.
Salah dua dari tiga profesor yang daritadi diam pun akhirnya ikut bicara karena Andrius masih juga belum diam.
“Aku jadi berpikir, seharusnya Kita bukan hanya menaikkan level keamanan bangunan, tapi juga level otak kita”, Ejek profesor lain yang bernama Swishell kepada Andrius dan kepada profesor lain.
“Maaf apa?”, Tanya Prof. Yang bernama Cecil dengan nada canggung karena merasa dirinya secara tidak langsung dihina.
“Maksudku, bagaimana jika dugaan Melina benar? Kalau ini adalah hasil dari awakening anak yang tidak bisa kita prediksi maka kita semua tahu kemana ini akan berjalan”, Jelasnya.
Profesor yang lain pun mulai memikirkan hal itu.
Profesor lain lalu mulai berpikir lagi, namun Yela dan Kevin merasa resah dengan alur rapat ini.
Mereka berdua merasa khawatir karena jika mereka melakukan apa yang satu ruangan itu pikirkan, ini akan berdampak buruk jika sebenarnya dugaan mereka salah.
“Tapi bagaimana bila dugaan kita salah?”, Ujar Yela.
Prof. Swis lalu mengangkat tangannya.
“Bagaimana kalau kita melihat rekaman CCTV di taman dulu, mungkin kita bisa mengetahui siapa dan bagaimana ledakan itu terjadi”, Ujar Swis.
Setelah mendengar perkataan Swis, Julian mulai menggaruk-garuk telinganya dan menoleh ke arah lain.
“Ada apa dengan Jul?”, Tanya Kevin.
“Eum, Kalian tau apa pura-pura lupa kalau tidak ada Kamera keamanan di taman?”, Jawabnya sambil tertawa tipis.
Profesor yang lain pun seketika teringat kalau memang tidak ada kamera keamanan di sana.
Karena saat pertama kali pilihan tersebut di anjurkan, Mereka semua merasa wilayah Taman tidak perlu di pantau karena itu dekat dengan Kantin yang di mana pasti akan dijaga ketat, karena ada beberapa penjaga yang sering beristirahat di kantin.
“Aku rasa ini adalah kesalahan kita juga, jadi mungkin ada baiknya kita mulai memasang Kamera keamanan di taman untuk menghindari kejadian seperti ini lagi... Ada yang mau menambahkan sesuatu?”, Tanya Kevin kepada profesor lain.
Kevin melihat tidak ada yang ingin memanjangkan rapat ini lagi dan akan mengakhiri rapat tersebut, namun tak lama Andrius mengangkat tangannya.
“Lalu bagaimana dengan 2 Sub- Maksudku kedua anak itu?”, Tanya Andrius dengan hati2 karena hampir saja keceplosan.
"Kita proses mereka", Balas Dion dengan tegas.
Yela langsung menatap Melina dan Melina membalas sambil menggelengkan kepalanya.
“Kita memang harus melakukannya”, Ujar Kevin dengan tatapan serius.
Swis dan Julian lalu mengangguk, tak lama Cecil dengan terpaksa juga harus menyetujuinya.
“Hhhhh Aku tidak mau proyek ini gagal... Aku setuju dengan Dion”, Jawab Cecil.
(Maafkan Aku anak-anak), Ujar cecil dalam batin.
Mau tak mau mereka pun harus melakukannya demi kelancaran proyek yang sedang mereka lakukan.
“Baiklah, Kalau begitu rapat kali ini berakhir di sini, Julian kamu akan mengatasi penginstalan kamera di taman, lalu Yela- tidak Swis dan Cecil, Aku akan serahkan Vino dan Tempest kepada kalian”, Jelas Kevin.
“Haah?! Kenapa akh—, Baiklah, a-aku mengerti” Balas Cecil dengan kecewa.
Swis hanya bisa mengangguk dan kemudian keluar lebih dulu dari ruangan meningalkan yang lain.
Tak lama profesor yang lainnya juga ikut keluar dan meninggalkan Melina dan Yela di sana, setelah hanya tinggal mereka berdua saja di sana...
Yela mulai buka suara...
“tapi bagaimana bila ini gagal lagi?”, Tanya Yela dengan cemas.
Melina hanya bisa menahan rasa takutnya.
“Kita tidak bisa melakukan apa-apa Yela, yakin saja semoga ini benar”, Tegar Melina sambil menepuk bahu Yela.
Yela lalu menggenggam tangan Melina dan menelan kenyataan pahit itu.
“Katakan itu pada dirimu sendiri, Melin”, Balasnya sambil menahan tangis.
Yela lalu keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Melina yang bersedih sendirian di ruangan tersebut.