Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Kebenaran yang di sembunyikan



Gadis itu seperti pernah dia temui, tapi seperti asing juga.


"Apa jangan-jangan..."


Gadis itu bener-bener membawa pikiran, tempest bahkan menyebrang sambil merenung dan hampir membuatnya tertabrak karena dia tidak fokus dengan lampu jalan yang sudah balik merah.


Beruntungnya seseorang menahan lengan tempest.


Tempest seketika tersadar lalu langsung terdiam, bukan karena hampir mati, tapi yang menyelamatkannya adalah Marc-


"Chuwaaah! Mars–"


Mulut tempest langsung di bungkam olehnya.


"Blok! Apa-apaan meneriaki namaku di publik? Mau ketangkap kah?!"


Marahnya sambil berbisik ke tempest.


Lelaki bernama Marcus itu lalu menarik tangan tempest dan membawanya ke sebuah lorong kecil yang jauh dari keramaian.


"Heyy aku tau kita memang sedang di burshdjdks"


Marcus langsung menyodok Nugget ke dalam mulutnnya.


*nuggetnya dari mana, aku mau :)


"Kau ini, ku pikir kamu sudah mati kenapa masih- Tunggu, jangan-jangan kamu ini bukan tempest?!"


Tempest pun membuang nugget basi itu dari mulutnya dan langssung di makan oleh kucing liar bersembunyi di balakng gentong sampah.


"Lah anak ini, harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, bukannya kamu yang mati lebih dulu?! Kenapa malah berkeliaran bahkan tidak menyamar sedikit pun".


Balas tempest dengan amarah.


"Tunggu dulu, kamu yang mati lebih dulu kan kok tau kalau aku– Haa! Apa malah kamu sendiri yang bukan Marcus".


Sambung tempest sambil memperagakan tanda kutip dua saat menyebutkan nama marcus.


"Hadehh ini biji beku, memangnya menurut saat aku di kabarkan mati kalian tau? Palingan langsung lupa juga, dan satu hal ya, lalu siapa yang memberitahukan mu kalau aku mati?"


Tanya Marcus sambil ngamuk-ngamuk dan memprofokasi tempest dengan menunjuk-nunjuk dahinya.


Tempest langsung menampar tangan Marcus dengan kasar.


*Plak!


"Menurut mu siapa? Victor lah yang beri tahu, lagipula– Eh tunggu dulu kok"


Tempest seketika terdiam, dia pun mulai keheranan sendiri.


"Nah kan, itulah sebabnya aku males ketemu sama kalian, sudah di cuci otaknya, ingatannya malah berantakan pula.."


Ujar Marcus sambil menatap Tempest dengan kesal.


"Hahhh tapi mau bagaimana lagi, sudah tugasku juga untuk membantu yang lain, tapi ahhh mager banget sumpah"


Pasrah Marcus.


Dia lalu memanggil tempest dan mengajaknya ke tempat persembunyiannya.


"Sudah lah lebih baik ketemu sama yang lain dulu, soal ingatannya belakangan saja, ayo tempest", Ajak Marcus dengan ramah.


Namun tempest masih tenggelam dalam pikirannya, itu karena dia–


Tanpa berlama-lama Marcus lalu menarik tangan tempest dan membawanya ke lorong yang lebih sempit lagi.


Mereka melewati jalan-jalanan tikus di kota, dan sampai di sebuah gorong-gorong terbangkalai.


Gorong-gorong itu sendiri tidak di ketahui oleh warga sekitar karena Marcus sudah menghaous keberadaan Tempat tersebut.


Sejak memasuki tempat itu, Tempest sering melihat beberaa hewan liar seperti kucing, serigala, anjing, tupai dan gagak.


Mereka lalu berhenti di sebuah pintu besi.


Marcus pun mengetok Pintu itu 5x.


Tok! 5x.


Seseorang bermata Cyan pun melihat mereka dari sela pintu.


"... Marcus... Di luar"


Ucapnya dengan samar dari balik pintu tersebut.


*Klack!


Pintu tersebut pun di buka, dan mereka langsung di sambut oleh Lelaki berambut merah.


Melihat Lelaki itu, tempest langsung tertegun karena dia tau satu-satunya yang berambut merah–


"Ahh Tempest juga ada- EHH? TEMPEST!!" Teriaknya.


Yang membuat orang lain di dalam ruangan itu langsung menemui mereka.


"...na MANA! TEMPESST ?!!"


Gadis berambut perak datang menemuinya dan langsung terkejut melihat tempest namun tak lama wajahnya langsung berubah 90°.


"Anjir beneran masih hidup dia"


Ujar gadis itu dengan nada mengejek.


Tempest tidak bisa berbicara apa-apa.


Dirinya terdiam karena dia menyadari dua orang ini.


"Berarti yang kamu bilang bener dong ya? Dia di selamatin sama kak milion?"


Marcus terkejut mendengar hal itu dan langsung memotong pembicaraan.


"Tunggu dulu, jadi kamu tau dia masih hidup? Kok gak mengatakannya padaku?!"


Lalu seseorang keluar dari salah satu ruangan di sana dan menenangkan mereka.


"Kalian tenanglah, kita seharusnya menyambut kembali Tempest bukan? Dia pasti memiliki banyak pertanyaan"


Ujar orang bersmbut putih itu.


"!!"


Sontak Tempest tersadar dan tergagap-gagap untuk mengucapkan kalimatnya.


"A-aku tidak mengerti- bagaimana K-kamu, Eli, Marcus dan L-leon, Kata profesor kevin, kamu membakar– Ba-bagaimana?"


Mata tempest pun bergenang air mata.


Elizabeth lalu mendekatinya dan mengelus bahu tempest dengan lembut.


"Sudah- gak usah nangis juga kali, kita duduk saja dulu, akan kami jelaskan nanti".


Tempest pun mengangguk dan menuruti perkataan Elizabeth.


***


Setelah berada di ruangan seperti ruang kerja.


Tempest langsung di suruh duduk di sofa yang ada di sana.


"Tempat apa ini?" Tanya tempest kepada Leon.


Leon oun menggaruk-garuk kepalanya, seakan menghindari pertanyaan itu.


"Ahhh soal itu.. Nanti kami jelaskan, panjang banget loh"


Elizabeth lalu masuk ke ruangan itu, di ikuti oleh Marcus yang membawa segelas air.


Mereka lalu duduk berhadapan dengan Tempest.


"Jadi begini.."


"Di mana Victoria?"


Tanya Tempest.


"Aisshh ini mau aku jelaskan bambang, dengar dulu", Jawab Leon sambil berjalan ke sebuah whiteboard.


Yang mana di sana terdapat beberapa infromasi yang tidak dia pahami sedikitpun.


Elizabet lalu duduk di samping Tempest sedangkan Marcus di sisi lainnya.


"Mhhhfuuaah~ Karena Kita sudah ke datangan Tempest jadi aku jelaskan sekali lagi, sumpah dah males banget jelasin ngulang-ngulang"


Ujar Leon yang terlihat bosam dengan apa yang dia lakukan.


"Yup aku setuju" - Marcus.


Leon pun menatap Marcus dengan kesal.


"Kamu juga sama"


Sambungnya.


*****


Suasana di ruangan itu pun mulai berubah.


"Jadi seperti yang kita tau, dua tahun yang lalu... Saat Sky Towernya kita di serang, Aku dan ratuku Nolla di bawa keluar dan hampir mati sama anggota CIA, kita singkirkan detilnya.. Lalu Ajax dengan Amber berhasil kabur dengan cara mereka sendiri, dan kamu Elizabeth juga kabur dengan jalurmu sendiri.


Setelah kita keluar, Victoria membakar Sky Tower kita dan itu adalah terakhir kalinya kita mengatahui keberadaannya.


Seminggu kemudian aku, Nolla dan Anggota White Knight lainnya kembali ke Sky tower yang sudah hancur dan menemukan keberadaan Sky tower yang lain, soal itu aku jelaskan terpisah.


Bukan hanya Sky Tower saja yang ku temukan, tapi juga pesan terakhir Victoria.


Ahhh orang-orang CIA itu, mereka berhasil menangkap Victoria dan mengurungnya!!"


Sontak Tempest terkejut, dia melihat kearah Elizabeth dengan ekspresi tak percaya.


"Apa yang leo katakan benar, Victor di tangkap oleh mereka, yahh bahasanya agak salah sih, bukan di tangkap tapi pura-pura tertangkap, jelaskan padanya dengan benar, tolol", Marah Eli kepada leon.


"Hah?? Lalu yang barusan siapa?", Tanya Tempest.


"Itu hanya bayangannya Victor saja, kekuatannya sudah lebih kuat dari yang duli" - Marcus.


"Benar kata marcus, lalu Victoria mengatakan pada kami, dirinya sengaja tertangkap, itulah mengapa saat ke sana aku langsung berpisah dengan White Knight, dan menghubungi Victoria untuk pertama kalinya." Jelas Leon dengan benar.


Elizabeth lalu berdiri dan mengambil alih pembicaraan.


"Victoria sengaja tertangkap untuk menjadi mata-mata, karena dia tau ada sesuatu yang lebih buruk di dalam IMObius, ahh aku lupa sekarang kita sebut mereka sebagai CIA, walaupun kebenaran itu tidak banyak yang tau... Bahkan kami juga harus menyembunyikan kebenaran ini dari yang lain, dan berbohong juga"


"Banyak berbohong", Sambung Leon.


Elizabeth langsung menatap Leon dengan sinis.


"Lalu kita tidak harus menyelamatkan Victoria?"


Tanya tempest.


"Dia bisa keluar dari sana kapan pun dia mau, ahh dan kamu tenang saja, mereka tidak tau Victoria memiliki kaitan dengan Salju, dia sengaja tertangkap dengan cara yang berbeda", Jelas Marcus sambil membuka hpnya dan menunjukan sebuah majalah berita.


Tempest terdiam melihat berita itu.


"M-maksudmu!?-"


"Iya, Pesam yang aku dapatkan adalah apa yang akan dia lakukan, bukan yang sudah dia lakukan, dia membunuh orang untuk bisa masuk ke dalam wilayah CIA", Jelas Leon sambil menunjukan sebuah foto.


Itu adalah sebuah foto Markas Utama CIA yang di ambil oleh Elizabeth saat dia menyamar dulu.