Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Untuk Kami



Tusukannya tidak terlalu kuat jadi tidak terlalu dalam dan pria itu pun mengambil kesempatan dari kekuatan lemah gadis tersebut untuk menyerang balik.


Terjadi perlawanan antara dia dan anaknya, namun ntah kenapa anaknya seperti bertenaga dan berhasil menusuk leher pria itu.


 


Dan ternyata sang ibu telah melihat pembunuhan tersebut dan terkejut melihat putrinya.


“Apa yang kamu lakukan?” Ujar wanita itu sambil menangis sedih melihat kejadian tersebut.


Dia lalu mendekati putrinya dan mencoba untuk menenangkan anaknya itu sambil memeluknya, namun naas rasa benci sang anak sudah terlalu besar, sehingga cipratan darah keluar dari leher sang ibu.


“Kauuu!! Beraninya denganku!”, Sambung wanita itu dengan nada serak karena tenggorokannya yang sudah terluka.


Anaknya lalu melihat ibunya yang kritis itu dan membalas...


“Aku membersihkan kehidupanku, Ibu mengotoriku jadi aku membersihkannya”, Jawab sang anak.


Wanita itu pun langsung terkejut dan seketika teringat dengan kejadian dari 8 tahun yang lalu .


“Aku seharusnya masih bersih... kenapa malah ibu mengotoriku, membiarkanku terkurung di sini”, Sambung sang anak dengan sedih seperti akan menangis.


Ibunya seketika diam dan terbaring di lantai, dia mulai melihat langit2 dan perlahan penglihatannya mulai memburam...


Dia lalu mengingat keadaan anaknya dan tak lama dia menangis histeris dalam menit-menit terakhirnya.


“Hikss~ Maaaf” Ucapnya berulang kali.


Anaknya lalu mendekatinya dan mengelus air mata ibunya yang menetes ...


“Jangan salahkan Aku, Ibu... Aku juga ingin hidup seperti anak-anak lain”, Jelasnya.


Dan anak itu pun melepaskan serangan terakhir dan mengakhiri nyawa Ibunya.


Tamat! Tidak, bukan bego...


Bukan hal itu yang sebenarnya terjadi...


Di detik-detik kematiannya, dia mengingat tragedi yang terjadi 8 tahun yang lalu, dan tersadar kalau sebenarnya anaknya sudah mati di seminggu setelah dia melahirkannya.


Dia temggelam dalam se*s bebas dan terjerat alkohol.


Bukan Putrinya yang dia pukuli, melainkan pria-pria yang dia bawa pulang setiap malam dan menyembunyikan mereka di dalam kamar mandi tersebut.


Awalnya dirinya hanya menyiksa diri sendiri dengan cubitan, namun hari demi hari itu beralih dengan tamparan, tinjukan, dan hantaman ke dinding..


Selama 8 tahun dia melakukannya untuk menghilangkan rasa stresnya yang berat, namun itu belum cukup sehingga dia beralih ke pria-pria nakal.


Setelah melakukan hal itu, tubuh mereka di biarkan membusuk di dalam kamar mandi, di makan oleh serangga hingga hanya menyisakan sedikit daging.


 


Dia melakukan pembunuhan dengan berbagai cara  menidurkan mereka dengan obat bius, memukuli mereka dengan palu, dan mencincang mereka dengan parang.


Tubuh mereka pun tumbuh menjadi bangkai.


Lalu bagaimana bisa anaknya meninggal?


Itu karena 8 tahun yang lalu dia tak sengaja menjatuhnya saat sedang mencoba untuk memandikannya.


 


Karena takut jadi bahan gosip dan hinaan apalagi tertangkap, Dia pun mengubur anaknya itu di dalam kamar mandi.


 


Dia lalu mengingat kalau setiap pria yang dia bawa pulang selalu mencium bau yang aneh yang berasal dari kamar mandinya, itulah mengapa dia menghabisi mereka setiap kali di curigai, karena takut dirinya akan di tangkap kepolisian.


 


 


Dan... Mayat anaknya memang tertanam di rumah itu namun jiwa anak itu ikut tumbuh dan hidup bersamanya sampai sekarang.


 


***


 


“De real Tamat”, Ucap Victor.


 


“Wahhhh Hiks! Kasihan sekali!!”, Tangis Eli yang terharu dengan cerita tersebut.


 


“Cerita kali ini Hiks- sangat bagus Vii”, Pujinya.


“Aku tidak menduga kalau ternyata anaknya itu yang meninggal—memang menakutkan sih hidup 8 tahun dengan hantu tapi- Hiks! Bagusss!”, Sambungnya sambil menaikkan jempol.


Victor lalu melihat Eli sambil tertawa.


“Fhufu begitu kah? Baguslah kalau kamu menyukainya”, Balasnya Victor dengan senang.


 


“Tapi Kamu memang terbaik loh Vii, bagaimana kamu bisa mendapatkan cerita seperti itu padahal kita selalu nempel 24 jam?”, Tanya Eli.


Victor lalu membuka telapak tangannya. Dan tak lama keluar seekor kupu-kupu dari tangannya.


 


“Apa kamu lupa kalau aku punya telinga lain?”, Balas Victor dengan pertanyaan.


 


Eli lalu tertawa tipis.


“Berarti ini kisah nyata!!?? Kok Bisa?!!! Eh? Apa gentengnya bocornya? Kok bisa gerimis?”, Kagetnya yang tiba-tiba merasakan hujan halus turun mengenai mereka.


Tik tik tik tik—


Dengan cepat mereka berteduh di pohon, dan menoleh ke atap karena mengira kalau Atap Kaca itu bocor, namun ternyata tidak.


Dan saat mereka melihat ke atas, saat itu pula hujan gerimisnya berhenti.


“Tadi hujan gerimis kan?”, Tanya Eli yang kebingungan.


“...”


 


Karena tidak menjawabnya, Eli menoleh ke arah Victor  dan terkejut melihat Victor yang telah meneteskan air mata...


“Vic-tor?”, Sapanya.


Disisi lain.


Keadaan Prof. Cecil terlihat kacau, tubuhnya berkeringat dan basah kuyup, lalu ruangan yang di tempatinya juga di penuhi oleh air.


“Sial!”, Umpatnya sambil menoleh ke sebuah kasur yang di tempati oleh seorang anak yang sudah tak bertenaga lagi.