
Keesokan Harinya...
Pukul 06:10.
Prof. Swis dan Cecil bangun lebih awal dan pergi ke lantai 6 untuk membersihkan ruangan operasi mereka masing-masing, sambil membawa berkas-berkas yang terlihat penting memiliki tanda S.K berwarna merah.
Karena masih pagi, lorong di sekitaran tower masih belum di penuhi oleh anak-anak.
Karena asrama mereka juga berada di lantai 3 masih sunyi, dan kebanyakan belum ada yang bangun pada jam segini.
Terkecuali Elizabeth, cebol yang selalu penasaran dengan semua hal aneh.
Dan di kamarnya kalau dia memang sudah bangun lebih awal dan sedang melakukan kesibukannya tersendiri.
Sama seperti kamarnya, Setiap kamar anak-anak memiliki ukuran yang sama dan bentuk yang sama, hanya saja di beberapa sudut yang kamarnya memiliki posisi yang berbeda.
Beruntungnya semua anak yang berada di Tower itu di berikan kebebasan untuk menata dan merias kamar mereka masing-masing.
Hal ini di berlakukan oleh Pemimpin IMObius agar anak-anak tersebut tidak merasa terkekang dan asing dengan suasanya di dalam tower.
Lalu kembali ke kamar Elizabeth.
Di kamarnya sendiri di penuhi oleh boneka-boneka yang berasal dari Belanda, meja belajarnya juga di penuhi beberapa buku bahasa belanda, dan tertempel beberapa stiker-stiker kartun di pintu kamar mandinya.
Tidak ada alasan langsung mengapa Elizabeth menyukai hal tersebut, dia memilih hal-hal itu saat pertama kali melihatnya.
Dan hal ini bukan hanya membingungkan Elizabeth saja, tapi semua anak-anak yang berada di salam tower.
Bagaimana bisa mereka menyukai hal yang belum pernah mereka temui sedikit pun.
“Huph sebaiknya aku bersiap-siap”
Elizabeth baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya.
Dia lalu membuka lemari pakaian dan memilih salah satu baju, walapun semua baju yang ada di dalam lemari itu memiliki banyak jenis, namun sebenarnya lebih banyak seragam berwarna biru yang di berikan oleh Tower untuk mereka.
Setelah memakai seragam itu, Eli mengambil buku yang ada di laci meja belajarnya dan dengan hati-hati dia membuka pintu kamarnya dengan pelan lalu menoleh ke lorong asrama.
“Oh!?”
Sesuai dugaannya suasana sekitar masih sunyi, dengan cepat Eli berjalan menuju kamarnya Victor dan mengetuk pintu kamarnya dengan cepat sebanyak 5x.
Namun ada sebuah CCTV yang memantau sekitar lorong itu, beruntungnya di saat pintu kamar Eli terbuka ada sesuatu yang menutup Kamera pengawas di sskitar sana.
Dan yang menutupinya adalah seekor kupu-kupu berwarna merah, dan Kupu-kupu itu hanya menutupi salah satu kamera yang jaraknya mendekati kamar Eli saja.
Alhasil penyelinapan Elizabeth tidak terekam oleh kamera pengawas dan salah satu kamera pengawas lainnya yang berada di sudut lain.
Tok! 5x
“Siapa?”, Tanya seseorang di balik pintu.
“Ini Aku”, Balas Eli dengan nada kecil.
Tak lama Victor membuka pintu kamarnya.
Saat Eli masuk ke sana dia langsung melihat beberapa kupu-kupu berwarna merah dan biru memenuhi kamarnya Victor.
“Wahhh kamu benar-benar melakukannya lagi ya”, Kagum Eli.
Victor pun mengangguk dan menjelaskan kalau setiap pagi, dirinya selalu menggunakan kekuatannya sebagai telinga dan matanya di dalam tower.
“Jika aku tidak melakukan ini, aku tidak dapat mendengar apa yang para profesor dan yang lainnya lakukan, dan akan merasa gugup plus bingung untuk mengikuti alur suasananya”, Jelas Victor sambil mengeluarkan pakaian dari lemarinya.
Seketika Elizabeth kebingungan.
“Maksudmu?”
“!!”
Victor langsung terkejut dan sadar dengan apa yang baru saja telah dia ucapkan, dengan serentak dia langsung bergurau akan hal tersebut.
“Itu loh, soal ulang tahun Lili” Jelas Vii sambil mengacak2 lemari pakaiannya.
“Oalah iya sih”, balas Eli yang baru konek.
Elizabeth lalu mulai berjalan ke kasur Victor dan duduk di sana, dia lalu melihat beberapa poster lama koleksian Victor seperti pohon, katak, ular, kelinci dan lainnya yang menutupi seluruh dinding tersebut.
Lalu pandangannya tertuju pada sebuah poster baru bertema Laut yang tertempel di sudut kanan atas...
“Baru lagi?”, Tanya Eli yang melihat poster tersebut dan berfokus pada ombak yang ada di dinding dalam poster itu.
“Iya, Prof. Yela memberikannya”, Balas Victor dengan wajah sedih sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
"Enak sekali kamu, apa-apa di kasih terus", Cemberut Eli yang iri dengan perlakuan spesial dari beberapa profesor padanya.
"Ya makanya, jadi anak emas", Balas Victoria sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.
Saat Victor sudah berada di dalam, sekumpulan Kupu-kupu yang tadinya mengelilingi kamarnya tiba-tiba terbakar dengan misterius dan menghilang tanpa jejak.
Tentu eli terkejut dengan hal itu, karena akhirnya dia mendapatkan jawaban pada ledakan besar yang kemarin.
Air keran pun terdengar berbunyi dan diketahui kalau itu adalah tanda bahwa Victor sudah mulai mandi.
Selang 5 menit, Eli cuman berguling dan menatap atap kamarnya Victor yang di penuhi dengan kaligrafi2, namun lama kelamaan dirinya di penuhi dengan rasa penasaran.
Dia pun melompat dari kasur Victor dan mulai berjalan mendekati meja belajarnya Victor, karena daritadi rasa penasarannya tertuju kesana.
Saat sudah berada di depan meja belajarnya, Eli langsung to the point, dan mulai membuka semua lemari yang ada di sana.
Bahkan sampai ke sudut2 maupun laci di meja tersebut, lalu sebuah laci yang dengan stiker kucing, menarik perhatiannya.
“Benar juga, Vii menyukai kucing”
Dengan semangat dia pun membuka laci tersebut..
Dan ternyata malah terkunci, dia menarik paksa laci tersebut namun tidak bisa, tapi rasa penasaran Eli tidak berhenti sampai di sana.
Sifat Jeniusnya tanpa aba-aba muncul begitu saja, membuat eli berpikiran licik, dia lalu berdiri dan menarik keluar laci sebelah atas, dan tadaaa~
Laci yang tadinya terkunci pun, akhirnya terbuka~
“Hohoho Aku pintar sekali, hehe!”
Namun saat melihat ke dalam dari laci tersebut, rasa penasarannya pun langsung memudar dan berubah menjadi kecewa.
(Apa? Cuma majalah alam saja), Gumam Eli dalam batin.
(HA! Jangan berpikir aku tidak tahu gerak-gerikmu, aku sudah mengenalmu lama loh, Vii), Sambungnya dalam batin.
Eli lalu mengeluarkan Majalah-majalah aneh itu satu persatu, setelah dalam laci sudah kosong dia lalu mulai mengikis papan yang sengaja di tumpuk untuk menutupi sesuatu di bawahnya.
Ksaaak Ksaaak!
Tak!
Saat berhasil mengangkat Papan tipis itu, Eli menemukan sebuah Foto yang sudah tersobek dan hanya menyisakan seorang gadis berambut hitam.
(Hm? Siapa gadis ini?), Tanyanya dalam batin.
Eli lalu mengeluarkan foto itu dan menemukan sebuah Jam, jepitan rambut bermotif kucing dan sebuah kalung yang di tindih Foto tadi.
(Barang-barang punya siapa ini? Apa prof. Yela yang memberikannya juga? Atau jangan... Heuphh! Victor mencurinya?!”, Pikir Elizabeth.
Dia lalu menggeserkan barang itu dan menemukan serpihan foto yang lain, dan di serpihan itu terdapat foto seorang pria dan wanita yang berdiri bersampingan.
Eli lalu mencoba menyambungkan foto itu dengan gadis berambut hitam tadi, namun suara air keran yang mulai pelan membuatnya terkejut.
Dia dengan cepat mulai mengatur barang-barang itu kembali seperti tempat semula.
(Huuupph, cepat sebelum dia melihatku), gugup Eli.
Setelah mengisi barang-barang itu, dia langsung kembali duduk di kasurnya Victir seperti tadi, dan berguling-guling memainkan bantalnya victor.
Kraaaak!
Tak lama Victor keluar dengan keadaan agak basah, Elizabeth sempat melihat hal itu dan terkagum lagi akan wajah Victor walaupun sudah melihatnya berulang-ulang, karena biasanya wajah Victor tertutup oleh Poninya sendiri.
“Aku memang sudah melihatnya, tapi Vii... wajah dan matamu sangat lah indah, agak mengecewakan ponimu menutupinya dan terlihat seperti orang mesum”, Ujar Elizabeth dengan pujaan sekaligus hinaan.
Victor lalu melihatnya dengan datar.
“Kamu tahu sendiri kalau aku merasa gugup jika orang-orang melihat mataku, dan yang mesum itu adalah Prof. Yela”, Jelas Victor sambil berjalan ke depan lemari pakaiannya dan mulai berganti.
Mendengar itu Elizabeth hanya bisa tertawa.
"Ahaha Aku laporin loh", Goda eli dengan ancaman lembut.
“Hahahha Jangan dong", Victor seketika menutup mukanya dan tertawa malu.
"Ahaha Ngomong-ngomong aku akan menunggu di luar, bersiap lah dengan cepat” , Sela Eli sambil tertawa tipis.
(Dia tidak sadar kan?), Tanya Eli dalam batin.
Elizabeth lalu berjalan keluar dari kamar Victor dan menunggu di lorong asrama.
Saat Eli Keluar, Victor sempat melihat ke arah meja belajarnya karena dari tadi Elizabeth sesekali menatap kesana.
Victor sempat mencurigai sesuatu, namun dia menghiraukan hal tersebut karena dia tau Eli akan segera melupakannya.