
Saat Ini...
Prof. Dion berhasil menghindari pertikaian kritis dengan mengorbankan kedua temannya.
*Hufffh.. Hufffh*
Namun dia juga kewalahan karena terjadi perlawanan antara kekuatannya dengan kesadaran kedua teman sejabatannya itu.
Memang mengendalikan orang-orang yang mentalnya kuat adalah sebuah ujian dan kelemahan untuk kekuatannya.
Sambil ngos-ngosan dia mengambil kesempatan melihat musuh di depannya.
Terdapat Salah seorang di sana yang menarik perhatiannya.
Remaja asing berambut putih dengan wajah yang memiliki sisik ular di pipi kirinya.
Dia tidak tau bagaimana bisa "Salju Musim Dingin" mereka di dapati oleh orang lain, walaupun jika rambut putihnya murni, sisik ular di pipi kirinya itu bisa menjadi bukti efek samping kalau remaja itu telah "Memakan Salju Mereka" dan berhasil akan mengkonsumsi obat itu.
Intinya, Dia adalah subjek gaib.
"Kenapa... Baru pernah melihat orang luar ya?", Tanya Million kepada Dion yang fokus pada temannya itu.
Seketika Dion tersadar kalau sebenarnya Million lah yang membawa "Musim Dingin"nya Mereka keluar.
"Million! Berani menghianati IMObius, apa kamu tidak takut akan nasih Adik—"
Seketika Tangan Dion terpotong.
Darahnya pun muncrat keluar, membuat Mereka semua yang ada di sana terkejut.
Dion lalu menoleh ke sampingnya dan melihat kalau Liliya lah yang menyerangnya.
Serangan kedua langsung di keluarkan oleh Liliya yang menargetkan Kepalanya Dion, Namun serangannya itu langsung di tahan oleh Melina.
Sontak Mereka berdua terkejut dan Liliya melepaskann genggamannya dari pedangnya itu lalu mundur dengan cepat kebelakang.
Begitu pula dengan Dion, tangannya yang terluka membuat Koneksi hipnotisnya terputus, dan akhirnya menyadarkan Melina Dan Kevin.
*BRAAAAKKK!! BHAAKKK*
Dengan Kuat Kevin langsung menendang Dion sampai dia terhempas ke dinding.
"Sialan kamu!, beraninya mencoba memanfaatkan Kami!"
Merasa belum puas dengan apa yang dia lakukan, Kevin berjalan mendekati Dion, dan dari situ Kerah bajunya Dion di angkat, lalu wajahnya mulai di gebuk2 oleh Kevin sampai hancur.
Prof. Melina lalu melihat ke pedang yang dia ambil, tak lama pandangannya menuju ke Liliya yang membuatny takjub dengan kekuatan mentalnya Liliya, karena sdh tidak terikat dengan Hipnotisnya Dion lagi.
Melina lalu melempar jauh pedangnya Liliya, dan berjalan mendekatinya.
Namun langkah kakinya terhenti di saat dia melihat Kevin yang secara berlebihan menghantam Dion.
"Kevin... Ada musuh di depan kita dan kamh malah memnghabisi kawan mu sendiri?"
Kevin lalu menghentikan pukulannya, tak lama dia berdiri dan merapikan kembali dirinya yang berantakan.
"Hhhhaaa... Bersikap baik sekarang akan sia-sia"
Kevin lalu melihat Liliya dan Million, dia lalu memperingati mereka...
"Dan juga, Kita sebaiknya pergi dari sini, pemerintah telah menghianati kita"
Sontak Melina terkejut, karena dia memang tidak mengetahui apa-apa.
"Haaah!? Kevin berhenti bercanda, maksudmu orang-orang itu adalah kiriman pemerintah?!"
Tanyanya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Million dkk.
Kevin lalu menampar tangan Melina.
*Plaak!!
"Bukan mereka! tapi CIA", Balas Kevin sambil menunjuk ke bawah, ke arah orang-orang yang di lawan oleh Yela dan Julian.
Melina pun ternganga sambil menunjuk ke arah Million.
"Lalu mereka?..."
Kevin lalu berjalan mendekati Million, membuat teman-teman Million bersiap dan mengambil posisi, namun mereka langsung di halang oleh Wanita yang berada di samping Million.
"Saya memang menghargai anda, Profesor", Ujar Wanita itu sambil menjabat tangan Kevin.
Dan ternyata, Dia adalah Orang misterius yang tadi menyelamatkan Tempest di tempat pembuangan.
"Aku mengira kamu sudah pergi dengan teman-temanmu yg lain, tapi untuk mengikutiku naik keatas tanpa ku sadari adalah perkembangan yang bagus... Killian"
Pujinya sampai tersenyum tipis.
Mendengar Nama itu di sebut, Melina langsung terkejut bahagia.
"Killian? Maksudmu Kraven Killian yang itu?!!"
Wanita itu pun membalas dengan anggukan dan senyuman tipis.
"Jadi begitu ya, pantas saja", Gumam Million.
Teman-temannya pun hanya bisa terdiam karena terkejut dengan plot twist ini, pantas saja Killian mengetahui setiap lika-liku Sky Tower.
"Kraveeen!! Lihatlah dirimu! Kamu sudah sebesar ini, Aku tidak menyangka kalau dirimu yang kecil bisa berkembang cepat", Pujinya sambil berlari mendekati Killian dan memeluk dirinya.
Reuni kecil pun terjadi di sana.
Liliya yang melihat hal itu, mulai mengambil kesempatan untuk membalaskan dendamnya.
Dari balik keramaian, Liliya menyembunyikan tangan kanannya di belakang dan mulai melakukan gerakan aneh.
Ternyata Pedang yang tadi di lemparkan Melina mulai melayang dan di kendalikan oleh Liliya, Liliya lalu mengarahkan Ujung Pedang itu ke arah Dion yang telah tergeletak di tanah.
"!!!"
Ssketika itu pula, Mereka semua merasakan Niat bunuh yang kuat dan bereaksi ke arah Liliya, karena mereka pikir itu di arahkan ke mereka.
Namun ternyata tidak, Sesaat sebelum pedang itu menusuk Dion, Melina langsung teringat akan kejadian yang terjadi kemarin.
Setelah Mereka (Para Profesor) mendapatkan panggilan Liliya dan pergi ke taman, Melina sempat melihat senyuman jahat di wajahnya Liliya.
"DIA MENGINCAR DIO—"
Namun peringatannya terlambat, Pedang tertancap dengan kuat ke Kepala Dion.
Bahkan sampai membuat dinding yang di sandari Dion hancur, dan kepala yang meledak itu mengeluarkan banyak darah sampai muncrat ke mana-mana.
Melina langsung gemetaran dan mencoba untuk memarahi Liliya.
"LILIYAA!! APA YANG KAMU LAKUKAN–"
Seketika Liliya mulai merasakan rasa sakit yang kuat dan membuatnya histeris.
"!!!"
"GHHHHYAAAAAKKKHHHH!! AAKHHH!!""
Dengan cepat Kevin berlari kearah Liliya sesaat sebelum dia kehikangan kesadaraan, untungnya Kevin tepag waktu dan berhasil menangkap Liliya yang jatuh pingsan.
"Kita Sebaiknya pergi dari sini,... Kematian Dion membuat Ikatan Manipulasi terputus, anak-anak itu akan mengalami kesakitan hebat, depresi dan bahkan kehilangan kendali", Ujar Kevin ke pada Melina dan Lainnya sambil menggendong Liliya.
Tak lama, Million mendapatkan kabar dari teman-temannya yang lain...
"Kami menemukan mereka dan wanita bernama Yela... Tapi setelah keluar dari wilayah SK dengan teleportasinya Gui– Anak-anak itu mengalami kejang-kejang bahkan ada yang pingsan juga... Sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka Kapten?"
Mendengar penjalasan temannya itu, Million mulai khawatir dengan keadaan Victoria san Kelima temannya yang lain.
Dan benar saja, Amber, Elizabeth, Ajax, Nolla, Leon juga mengalaminya.
Mereka berteriak kesakitan menahan rasa sakit itu dan ada beberapa yang jatuh pingsan, Namun Ajax, Amber dan Elizabeth masih tersadar dan bertahan dari rasa sakit itu.
Mereka semua, Anak-anak itu mengalami hal tersebut karena Kematian Prof. Dion mengembalikan ingatan mereka dengan serentak.
Membuat mereka semua tidak bisa menahan obak besar tersebut dan akhirnya kehilangan kesadaran.
Bahkan Victoria juga mengalami kesakitan itu, walaupun kupu-kupu miliknya menjadi Kamera Untuknya selama ini, tapi ada hari-hari yang dia jalani di mana dia belum mengalami proses pembangkitan.
Dan semua ingatan itu membuat kepalanya seperti retak dan mau meledak.
"Victoria..."