Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Semua telah hancur



BFive telah menyuntikan Serum Musim Salju ke tubuhnya, membuat dia bertambah kuat, namun Serum itu menjadi pedang bermata dua padanya.


Karena yang dia dapatkan adalah Versi terbaru, berbeda dengan yang dulu pernah di berikan olehnya.


Dan Serum Versi terbaru ini adalah hasil dari penelitian mereka ke Victoria, yang mana memang sudah dalam mode sempurnanya.


Contoh keberhasilan dari serum itu adalah ke Ajax, Vino, dan Liliya.


Itulah mengapa, Pemerintah mencoba untuk merebut resep dan serum Musim Salju itu dan menghapus seluruh riwayat dan keberadaan IMObius.


Setelah berhasil menyuntikan itu, BFive langsung merasakan aliran listrik yang menjalar dari jantung ke tangannya.


Sontak, Kekuatannya meningkat pesat.


Yang awalnya dia mengendalikan Listrik, skarang dia bisa mengendalikan petir.


"Whahahaha jadi ini yang ingin mereka rebutkan?!!", Katanya sambil bahagia dan langsung sombong dengan Peningkatannya itu.


Tanpa berlama-lama dia langsung mengarahkan petir2 itu ke arah Amaron.


*SHIIIING!!


Amaron dengan cepay merespon hal itu dan langsung melindungi Cecil dan Julian dengan darah2 yang bertebaran di sekitarannya.


*Blruuum! *Blruum!


Petirnya Bfive secara terus menerus menyerang perisai itu.


Namun Amaron adalah anak yang jenius, dia tau kalau saat petir dan cairan bertemu akan menyebabkan reaksi elektrolisis.


Dia pun memanfaatkan reaksi itu, dan mengalihkan perhatian Bfive dengan mengembalikan serangan BFivw kembali.


BFive pun terkejut dan langsung menghidar.


Di dia memundurkan langkahnya, dengan sekejap Amaron sudah berada di depannya dan langsung menyentuh dada Bfive.


BAAAM!!


Tangan Amaron pun menembus dada Bfive dan membuat Bfive menjadi Donat.


Tentu Bfive langsung mati.


Dan hal ini membuat semua bawahan Bfive yang masih selamat langsung ketakutan dan mencoba kabur, berlari menjauhi Amaron.


Amaron yang masih belum meredakan amarah langsung menyerang ssmua bawahan Bfive dengan mengempulkan gumpalan darah di udah dan merubah bentuk gumpalan itu sepeti Duri Babi.


Ujung-ujung yang tajam itu menjalar dan menusuk semuanya secara bersamaan.


*Stab! *Stab!


Teriakan dan ketakutan mereka pun terdengar, membuat Amaron menjadi semakin bergairah saat mendengarnya.


"Luna...", Panggil Cecil.


Saat nama aslinya di panggil, Amaron langsung tersadar dan menoleh ke arah cecil.


"Bukan hanya Bfive saja yang menyerang kami, tapi juga beberapa orang dan mereka berada di B3...", Jelas Cecil yang sebelumnya sempat bertarung dengan orang-orang itu juga namun dia kehilangan jejak mereka.


"Di bawah?"


Tanya Amaron, dia bingung karena jika memang ada orang di dekatnya, dia pasti bisa mengetahui keberadaan mereka dari detak jantung maupun darah mereka yang mengalir.


Itu karena kekuatan Amaron juga bisa membuatnya melihat darah hingga sejauh 10 meter, bahkan bila darah yang mengalir itu tertutupi dinding atau apapun itu.


Mata Amaron seperti X-ray.


"Aku tidak melihat adanya orang di–", Jelasnya yang tak lama kemudian terdiam menatap lorong di belakangnya.


Dari sana muncul sebuah bayangan yang bergoyah-goyah, cecil yang melihat itu berpikir bayangan tersebut adalah milik musuh namun ternyata bukan.


"Itu karena saya sudah menghabisi mereka", Ternyata itu adalah Victoria.


Dia dengan pincang berjalan mendekati mereka.


Cecil pun tergagap saat melihat Victoria dan beberapa luka di tubuhnya.


"Vi-victoria apa yang terjadi padamu? Di mana yang la—"


"Berhentilah bersikap baik Prof. Cecilia, Dion sudah mati, jadi berhentilah menjadi badut", Jelas Victoria dengan dingin.


Mendengar itu, Cecil langsung membatu.


"Hhhiiiikkkhh!! K-kau apa kamu yang membunuh..."


Tanpa memiliki rasa bersalah, Victoria pun membalasnya dengan jujur.


"Bukan aku, Profesor bisa mengatakan kalau ini semua adalah rencanaku... Apa menurut kalian, kami akan aman dengan adanya keberadaan Rubah itu?", Balas Victoria dengan dingin lagi.


Victoria lalu mencoba mendekati Cecil, membuat cecil ketakutan dengan kenyataan bahwa Victoria telah mengetahui semuanya dan berpikir kalau dia jg akan di bunuh olehnya.


Namun tangan Victoria langsung di genggam oleh Amaron dengan kasar.


Mereka berdua pun saling menatap.


"Berhentilah sensitif Luna, aku hanya ingin memperingati kalian untuk pergi dari sini, CIA mengetahui kalau semua pasukan mereka sudah mati, jadi mereka sedang membawa banyak pasukan yang lebih kuat ke sini"


Jelas Victoria sambil melepaskan genggaman Amaron dengan kasar.


"Berhentilah berbohong, Aku tidak merasakan adanya orang lain selain kita", Balas Amaron dengan expresi datar.


"Tentu saja karena mereka belum sampai di sini, dan yang lain juga sudah berhasil kabur dari tempat ini dengan selamat, tersisa kalian saja", Balas Victoria sambil menoleh kearah Cecil.


"A-apa kevin dan yang lain juga?", Tanya cecil sambil bergemetaran.


Victoria pun mengangguk lembut.


Melihat itu Cecilia langsung bersyukur.


"Kamu tidak membunuh mereka?", Tanya Amaron yang langsung memberikan kesunyian di sana.


Victoria lalu mengangkat alis sebelahnya dan menyerang Amaron dengan kalimat pedas.


"Kamu pikir aku monster pembunuh dingin seperti mu? Aku masih memiliki hati bersih, dan mentalku juga masih kuat".


Perkataan itu tertuju pada Amaron tidak merasakan apa-apa, karena memang Amaron yang sekarang bukanlah lagi Gadis bernama Luna seperti dulu yang memiliki Hati Suci, melainkan hanya seorang monster pembunuh tanpa emosi.


Lalu cecil teringat akan sesuatu.


"Bagaimana dengan Andrius, apa benar dia juga sudah..."


"Swis membunuhnya, bukan hanya itu. Dia juga membawa kabur Vino dan April..." Jelas Victoria.


"Tunggu dulu... Bagaimana Kamu tau tentang itu?", Tanya Cecilia yang akhirnya mulai tersadar dengan keanehan yang terjadi kepada Victoria.


"Ayolah profesor, menurutmu ingatanku baru kembali setelah dion mati? Lugu sekali, hahaha" Tawa Victoria dengan licik.


Yang tak lama membuat Cecil tersadar akan sekelompok Kupu-kupu merah yang mulai muncul di belakangnya Victoria.


Seketika ingatannya akan kupu-kupu merah itu langsung terlintas di pikirannya.


"Kamu... Kamu sudah sadar dari dulu?! Selama itu..."


Dia pun terdiam dan menutup mulutnya, karena dia merasa terkejut sekaligus bersalah akan apa yang dia dan yang lainnya lakukan pada Victoria.


Suasana di sekitar mereka pun menjadi canggung.


Amaron juga merasa canggung, bukan karena apa yang para profesor buat tapi dia merasa sesuatu dari dalam dirinya telah hilang, dan dia tidak tau ekspresi apa yang dia tunjukan.


Victoria lalu memudarkan suasana tersebut.


"Semua itu sudah terjadi, berhentilah menyesal sekarang... Amaron, dengarkan lah kata-kata ku, bawa Dia dan Julian pergi dari sini", Pinta Victoria.


Sontak Amaron dan Cecil terkejut.


"Tunggu dulu, kenapa–", Ucap Cecilia namun Amaron langsung menyela Cecil.


"Kenapa harus aku? Kamu sendiri kan bisa...", Amaron seketika terdiam setelah melihat Wajah Victoria yang serius.


"Prof. Julian masih terluka parah, dan hanya kamu yang bisa merawat dia dan juga Cecil" Jelas Vicoria.


"Baiklah Aku mengerti", Amaron langsung menuruti permintaan Victoria tanpa basa-basi.


Dia lalu mengumpulkan Darah disekitarnya dan mulai merubah bentuk gumpalan darah itu seukuran orang dewasa berotot, Orang Buatannya itu pun menggendong Cecil dan Julian.


"Tunggu Amaron, Bagaimana dengan—"


*Plak!


Amaron langsung memukul tengkuk lehernya Cecilia dan membuatnya pingsan seketika.


Dia lalu naik ke punggu bonekanya itu, dan menungganginya.


Tanpa berlama-lama dia membawa mereka pergi dari tower dengan menghancurkan tembok Tower yang membuat mereka langsung berada di Luar.


Dia, Cecil dan Julian berhasil meninggalkan tower.


Tak lama dari itu, Amaron mengucapkan kalimat perpisahannya dan meninggalkan Victoria.


..."Kalian adalah subjek gagal, berhenti mengecewakan para tetua — Itulah kalimat egoisku saat aku yang pertama kali di pilih, namun setelah menjalani hari-hari di dalam tabung itu, lalu merasakan kebusukan mereka. aku menyesali apa yang aku katakan saat itu... Tapi kamu berbeda, Victoria. Bahkan setelah merasakan semua itu Kamu masih melindungi mereka... Jika kita memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, Izinkan aku yang melindung**mu"...


***


Tak lama, Pasukan tambahan CIA pun sampai di SK tower.


Namun mereka telah terlambat, mereka tak bisa lagi masuk ke dalam Sky Tower, karena tempat itu sudah terlahap oleh Api Besar yang membakar seluruh wilayah SK.


Membuat mereka hanya bisa terdiam menatap kehancuran Sky Tower.