
Victoria lalu berjalan meninggalkan Eli yang sedang menunggu Nolla dan Leon.
Dari sana, dia pergi ke suatu tempat melewati tangga darurat dan naik ke atas.
Namun secara langah-perlangkah, tubuhnya mulai memecah menjadi kupu-kupu merah kecil yang bertebaran ke segala sisi lalu menghilang menjadi abu.
*****
Di Ruangan Kontrol Keamanan...
Terlihat seorang gadis berambut putih kebiruan sedang duduk di salah satu meja sambil memantau kamera keamanan.
Dan Dia adalah Liliya, Gadis yang pernah melaporkan perkelahian Tempest dan Vino ke para profesor dulu.
Dia juga merupakan salah satu pion dalam rencana ini sama seperti Amber.
Namun bedanya, Dia tidak selembut Amber dan lebih mengikuti kata hatinya dari pada perkataan orang lain, termasuk Victoria.
Karena menurutnya, apa yang Victoria lakukan tidak lah adil untuk dirinya sendiri.
Itulah mengapa, setelah rencana penyelamat di mulai, dia langsung bergegas mengambil sebuah pedang panjang di gudang senjata dan membasmi semua orang di ruangan tersebut.
Walaupun sebenarnya yang dia incar adalah para profesor, tapi dia tidak menemukan satu pun Profesor sepanjang perjalanannya ke sini.
"Ughhskk!!"
Teriak salah seorang penjaga yang terluka parah di sana.
Melihat kalau ada yang masih selamat, Liliya langsung berdiri dan menusuk orang itu.
*Staab!!
"Kkkwwuuahhhk!!!"
Namun tusukannya tidaklah fatal, karena Liliya dengan sengaja menghindari bagian yang fatal.
Dia lalu dengan kasarnya meremas rambut dari penjaga itu.
"Katakan padaku, di mana para profesor berkumpul!"
Ancam Liliya sambil mengarahkan pedangnya ke leher orang itu.
Penjaga itu pun membalas.
"Jangan berharap-p, A-ku akan memberitahu-kan nya kepada penghi—"
*SREEEKKKK!!
Kepalanya pun melayang, dan mokad seketika.
Liliya lalu berdiri dari sana dan berjalan mendekati kontrolan Kamera pengawas.
"Maka akan kutemukan mereka sendiri", Ucapnya dengan kesal.
Dia lalu mengecek satu-persatu rekaman kamera pengawas.
Tanpa berlama-lama mencari, dia langsung menemukan keberadaan salah satu profesor dari kamera di lantai G-E (Taman).
Namun profesor itu adalah Prof. Yela, dan dia juga tidak mengincar orang tersebut, karena Liliya tau, hanya Prof. Yela yang benar-benar menyayangi mereka.
Terlihat dari perlakuannya kepada mereka selama ini, bahkan di saat Sky Tower di serang pun dia rela menghianati IMObius dan membawa semua anak-anak kabur dari tower terkutuk itu.
Prof.Yela juga tidak termasuk dalam rencananya Victoria, jadi apa yang dia lakukan adalah murni keinganannya sendiri.
Senyum lembut pun terpampang di wajah Liliya tanpa dia sadari.
"^~^"
Dia lalu beralih ke kamera di lantai lain, namun dari lantai 1 sampai lantai 3, dia tidak menemukan profesor incarannya, bahkan orang yang hidup pun juga tidak dia lihat.
Melainkan hanya tubuh-tubuh dari 2 kubu yang bertebaran di sekitar lantai itu.
Dan Liliya tidak menduga hal tersebut, dia terkejut orang-orang dari CIA itu bisa mengalahkan para Penjaga Sky Tower.
Karena dari yang dia ketahui para penjaga milik Sky Tower adalah orang-orang yang kuat, bahkan kekuatan mereka hampir setara dengan "Amaron", Monster yang di tiduri di ruang inkubasi.
Dia lalu beralih ke kamera di lantai 4-B (Ruang Informasi) dan melihat adanya pertarungan hebat di sana.
Prof. Cecil dan Prof. Julian terlihat sedang bertarung melawan seorang Wanita dari CIA bersama dengan Orang-orang nya.
Wanita itu memiliki warna rambut yang familiar, dan membawa sebuah senjata besar seperti pedang.
Da lalu mnyadari kalau Wanita itu sangatlah kuat, bahkan Prof. Cecil (Orang terkuat no.2 disana) terluka karena serangan dari wanita misterius itu.
Dan dari ekspresi kedua profesor itu, Liliya menyadari kalau mereka mengenal wanita misterius itu.
Dia lalu melihat tombol-tombol di sana, mencari tombol speaker untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Ketemu!"
Liliya pun menekan tombol itu—
"SEPERTI INI KAH KAMU MEMBALAS PERTOLONGAN KAMI!! BFive!!"
Liliya seketika terkejut saat mendengar amarah Prof. Cecil.
"Memangnya sejak kapan... Kalian Menolong?... Hah! Konyol sekali, Kejahatan kalian cukup sampai di sini"
Mendengar amarah dan balasan dari mereka membuat Liliya langsung bisa mendapatkan jawabannya.
Wanita itu, sepertinya dia adalah Mantan Subjek di tempat ini.
Rambut putih salju miliknya, menjadi bukti nyata kalau dia juga pernah di berikan "Musim Dingin" oleh Mereka.
Tapi Liliya tidak tau bagaimana dia bisa kabur dari tempat ini.
"Kejahatan? Kamu bilang kami melakukan kejahatan? Darimana menolong anak-anak terbangkalai itu adalah sebuah Kejahatan?... BFiiive kamu memang beneran tidak tau terima kasih, pantas saja orang tua mu ingin membunuhmu.."
Hina Julian sambil mengungkit masa lalu wanita itu dengan wajah sedih.
"BERHENTI M**ENGUNGKIT MEREKA!!"
"Nona Aster, Jika anda mengamuk sekarang—"
Salah satu bawahannya mencoba menenangkan wanita itu, namun wanita itu menghiraukannya.
"Kalian pikir aku melupakan rencana kalian? Mencuci otak kami, menyiksa kami, dan membuat kami menjadi senjata hanya untuk bunuh diri?!—"
Seketika Kekuatan wanita itu meledak membuat komunikasi CCTV di sana terputus.
Liliya terdiam cukup lama di sana sambil tertegun setelah mendengar pernyataan wanita itu.
"Perkataan Victoria memang benar, mereka..."
Liliya mulai merasakan marah, dan rasa dendamnya pun semakin naik dan naik.
Dia lalu mencari lagi kamera cctv lain, saat melihat kamera di lantai 4, dia menemukan Prof.Swis yang sedang bergegas naik lift dan menuju basement.
Namun Dia bukanlah incaran Liliya.
Liliya lalu melihat rekaman kamera di lantai 5 dan 6 tapi tidak ada seorang pun di sana.
Saat dia menekan tombol panah dan pergi ke kamera keaman di lantai 7, akhirnya dia menemukan profesor yang lainnya di sana.
Namun bukan hanya Prof. Melina, Kevin dan Dion saja, Tapi juga Million dan kelompoknya.
Sepertinya mereka baru saja bertarung, terlihat dari Prof.Melina yang kewalahan dan terluka parah , apalagi masker yang biasa dia pakai sudah di lepas yang menandakan kalau dia telah menggunakan kekuatannya yang beracun.
Prof. Kevin jg terlihat sekarat, bahkan dia sudah tidak sanggup menggunakan kekuatan bayangannya lagi.
Dan Prof. Dion, rubah licik sialan itu ntah kenapa masih baik-baik saja.
Padahal teman-temannya terluka parah, begitu pula dengan sisi Million dkk.
"A****g!!", Umpat Liliya yang menyadari kalau Prof. Dion telah menggunakan Ilusinya kepada kawan dan lawannya.
Itulah mengapa, dirinya yang baik-baik saja bukanlah di lindungi oleh Melina maupun Kevin, tapi karena mereka berdua telah di kendalikan oleh Dion sendiri, dan menjadi tameng untuknya.
Tanpa Berlama-lama, Liliya langsung bergegas menuju ke lantai 7 dan membunuh rubah licik sialan itu.