Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Miliknya



Selang 10 menit akhirnya Victor keluar dari kamarnya, dengan berpakaian seragam seperti Eli juga.


Mereka berdua pun berjalan ke tangga dan turun ke lantai bawah.


 


Lalu Lonceng Besar berdering menandakan sudah pukul 07:00.


Anak-anak yang lain juga pada mulai bangun dan bersiap untuk sarapan di kantin yang berada di lantai 1.


 


Saat sudah berada di bawah, Elizabeth dan Victor terkejut melihat Nolla yang ternyata sudah turun lebih dulu dan duduk di bangku nya.


 


“Wahh lagi-lagi keluar bareng-bareng ya”, Puji Nolla yang melihat mereka dari jauh.


 


“Hmph tentu saja kami kan berteman, tidak sepertimu dengan Leo”, Bangga Eli sambil melemparkan kalimat pedas ke Nolla.


 


Karena masih pagi dan belum ada tenaga, Nolla pun hanya bisa diam dengan tusukan pedas Elizabeth, walaupun begitu dia memang agak kesal.


 


“Yah yah, serang saja aku, mentang-mentang bensin ku lagi nol”, Balas Nolla dengan nyerah.


 


Victor lalu memotong pembicaraan dan memudarkan rasa canggung yang muncul ini.


“Sarapan apa hari ini?”, Tanya Victor sambil menggenggam tangan Eli dan membawanya duduk semeja dengan Nolla.


 


“Ntah, tapi mungkin Roti Ayam? Aku sempat melihat Paman Loa mengeluarkan beberapa ayam dari Kulkas”. Balasnya.


 


“Kamu... Memang sejak kapan sudah ada di kantin?”, Tanya Eli sambil keheranan.


 


“Haha lebih awal dari kamu menjenguk kamar Victor”, Balas Nola sambil tersenyum.


 


Elizabeth dan Victor lalu menatap Nola dengan datar.


 


“Pantas saja”, Balas mereka dengan Kompak.


 


Nola pun hanya bisa tertawa tipis.


 


Selang 15 menit, Anak-anak yang lain mulai berdatangan ke kantin. Victor lalu melihat Tempest dan melambaikan tangannya.


 


“Ohh Vii!”, Teriaknya.


 


Saat mencoba menghampiri Victor, Leo langsung menarik kerah bajunya Tempest.


 


“Kamu mau duduk di mana? Tempatnya penuh loh”, Ujar Leo sambil menunjuk ke arah Victor dkk.


 


Tempest lalu tersadar kalau bangku di sekitar Victor sudah di penuhi oleh anak-anak yang lain, Victor lalu melihat sekitarnya dan meminta maaf dari jauh dsngan canggung.


 


“Yahhh”, Sedih Tempest.


 


Terpaksa dia pun duduk di samping Leo.


 


Selang 5 menit menunggu, akhirnya para pelayan keluar dari dapur dan mulai menyajikan makanan di Rak yang sudah di sajikan.


 


Victor, Eli, Nolla dan anak-anak lain pun di persilahkan untuk  mengambil makanan mereka sesuai porsi yang akan di berikan.


 


“Oke kalian bisa mulai mengantre”, Ujar salah satu suster yang akrab dengan anak-anak tersebut.


 


Anak-anak pun mulai berbaris dengan rapi dan mengantre, mereka yang sudah mendapatkan porsi mereka langsung kembali ke bangku masing-masing.


 


“Sudah aku duga pasti roti ayam~” , Ucap Nola sambil melihat makanan yang sudah di ambil oleh anak-anak lain.


 


“Kelihatan enak” Gumam Eli yang mulai laper.


 


Setelah lama mengantre, akhirnya giliran mereka bertiga.


 


Para pelayan mulai memberikan perlengkapan makan kepada mereka, di susul dengan roti acak-acak dan timbahan opor ayam di dalam panci.


 


Kua Opor beserta potongan ayam pun di tuangkan ke atas roti ayam mereka, dan bau manis + lezatnya mulai tercium oleh hidung mereka.


 


Setelah selesai mereka bertiga lalu mulai kembali ke bangku mereka.


 


Setelah sampai di sana, Elizabeth  melihat Porsinya Victor dan Victor pun menatapnya karena merasa ada emosi tak tega muncul di hatinya.


 


“Kamu mau ayam lebih?”, Tanya Victor yang merasa kalau Eli tidak puas dengan Porsi roti ayam miliknya.


 


“Hhhhfffft”


 


Seketika Nolla menatapnya dengan aneh, dan Eli yang menyadari tatapan itu pun  merasa malu dan menolak tawaran Victor.


 


“Ah tidak usah, nanti kamu bagaimana?”, Balas Eli.


 


Victor lalu membelah ayam miliknya menjadi 3 potongan dan membagikan setengah kepada Elizabeth dan lainnya kepada nola.


 


 


“Lah?” Bingung Eli.


 


“UWAAAA Itulah kawankuuu”, Puji Nola setelah mendapatkan potongan ayam dari Victor.


 


“Kita sahabat bukan?”, Ujar Victor.


 


“Ta-tapi... Ahhhhwww Aku menyayangimu”, Balas Eli yang terharu.


 


Begitu juga dengan nola.


 


Mereka lalu memanjatkan doa dan mulai menyantap roti ayam lezat tersebut.


 


“UUUUUUUUWMMMMM LWEZZHAAAT” Puji Nola yang sudah tenggelam dalam Kua Manis Opor tersebut.


 


Eli setuju dan mengangguk2 terharu, sedangkan Victor terlihat biasa saja dari mereka maupun anak-anak yang lain.


 


Salah seorang pelayan yang baru bekerja di sana pun menyadari keadaan Victor dan mempertanyakan hal itu ke salah satu penjaga di sana.


 


Dan penjaga itu menjawab.


 


“Ahhh. Vii ya? Anggap saja hal itu biasa, indra perasanya sudah lumpuh...”


 


“Eh kok bisa?” Tanya pelayan tersebut.


 


Penjaga itu pun menatap pelayan baru itu, dan berbisik di telinganya.


 


“Dia favoritnya Ketua”, Ujar sang penjaga.


Mendengar itu, Penjaga baru langsung terkejut dan selama jam makan dia selalu mengambil kesempatan untuk menoleh ke arah Victor.


 


***


 


Setelah 10 menit lebih, anak-anak yang lain pun sudah selesai makan, Eli, Vii dan Nola lalu berjalan berjalan ke konter Dapur dan menaruh piring kotor mereka ke bak khusus yang telah di sediakan di kantin.


"Terima Kasih", Ucap mereka dengan kompak.


 


Setelah itu mereka berjalan ke taman.


 


Namun tak lama sebuah suara muncul dari speaker yang tertempel di sudut2 ruangan tersebut, dan itu adalah suara Prof. Kevin yang sedang memberikan sebuah pengumuman.


 


“Selamat Pagi anak-anak, apa kalian sudah selesai makan...”


 


“Sudah Prof!”, Jawab semua Anak-anak dengan Kompak.


 


“Hohoho baguslah, kalau begitu aku punya berita bagus untuk kalian, nama-nama yang kupanggil tolong datang ke Ruangan ku ya...”


 


Serentak semua anak-anak bergembira, karena siapa sangka, setelah mendapatkan opor ayam yang lezat, mereka langsung di berikan kejutan tentang siapa yang akan di berikan “Keberkahan”.


 


“WHHOOHOII!!!”


“AWOWOWOWOOWOWOWO”


“YEEEEEEYYY!!


 


“Harap tenang anak-anak... Suara saya nantinya malah gak kedengaran loh”


 


Tak lama dari perintah itu di keluarkan, anak-anak pun langsung terdiam, Kevin lalu melanjutkan percakapannya dan terhanya hanya memanggil dua anak.


 


“Oke sudah diam? Untuk Minggu ini, tolong Y— Maksud saya, Tempest... Vino, kunjungi ruangan saya sekarang yahhh~ Aku menunggu kedatangan kalian loh”, Ujar Kevin lembut di balik mic itu.


 


Saat itu juga Tempest dan Vino bahagia dan anak-anak lain memberikan selamat kepada mereka namun ada juga yang merasa iri.


 


–“Selamat ya!”


–“Wahhh hebat sekali, selamat kawan, tunggu aku di sana”“WAHHH enak sekali kalian dipanggil Prof. Cecil”, Puji seorang anak.


–“Hummm Pasti akan mendapatkan kekuatan seperti Ajax, Kyaaaa enaknyaa~”, Puji anak lain.


“Bhhhhhruuuh Enak sekali, kapan aku bisa dipanggil juga”, Ucap Nolla yang terlihat iri dengan kedua temannya itu.


 


Elizabeth pun mendukung keirian anak tadi dan merasa kesal dengan perayaan tersebut, dia lalu melihat ke arah Victor karena dia juga merasa iri terhadap Victor yang sering panggil oleh Para Profesor.


Namun dia langsung merasa aneh saat melihat ekspresi wajah Victor yang terlihat cemas dan seperti baru saja mendengar sesuatu yang menakutkan.


 


Tak lama dari itu, Beberapa penjaga mendatangi mereka dan menghampiri Tempest dan Vino untuk di antarkan ke Ruangan Profesor Kevin di lantai 7.


 


Elizabeth lalu mendekati Victor dan berbisik ke telinganya.


 


“Vii? Ada apa?” Tanya Eli.


Seketika Victor tersadar dan tersenyum ke Eli.


 


“Hm? Tidak ada apa-apa kok”, Balasnya.